Komunitas Jain India menuntut larangan Santhara atau puasa sampai mati dicabut. (Foto: Bismillah Gee

Komunitas Jain India menuntut larangan Santhara atau puasa sampai mati dicabut. (Foto: Bismillah Geelani)

‘Hidup dan biarkan hidup’ teriak ratusan penganut Jain saat mereka berunjuk rasa di jalanan New Delhi. Aksi protes serupa juga berlangsung di beberapa kota di India.

Pesan mereka jelas: ‘Santhara bukan bunuh diri’.

Santhara adalah praktik puasa sampai mati, sebuah ritual untuk melepaskan diri dari dunia.

Praktik ini dilakukan para penganut agama Jain, yang pengikutnya di India sekitar 4,5 juta jiwa atau kurang satu persen dari keseluruhan penduduk negeri itu. 

Diperkirakan sekitar 200 orang, yang kebanyakan manula, meninggal setiap tahun karena praktik ini di India. 

Madahv Mishra adalah pengacara yang mengajukan tuntutan pelarangan Santhara. 

“Para manula adalah kelompok yang rentan. Mereka membutuhkan perhatian dan perawatan yang lebih tapi Anda malah meninggalkan mereka sekarat dengan dalih mereka akan mendapat keselamatan. Sangat berbahaya kalau ada yang mungkin menyalahgunakan praktik ini untuk menelantarkan orangtua mereka sampai meninggal,” papar Madahv Mishra.

Pada Agustus lalu Pengadilan Tinggi Rajasthan menyatakan praktik puasa seperti ini sama dengan bunuh diri dan dianggap melanggar hukum.

Pendeta Jain bernama Pandit Ratanlal mengatakan Santhara adalah cara yang paling bermartabat untuk meninggal.

“Ini adalah tahap akhir dari perjalanan spiritual, ujian paling akhir dari kesadaran spiritual kami. Jiwa akan meninggalkan tubuh. Anda melihatnya terjadi tapi Anda betul-betul terpisah dan tidak terpengaruh proses ini,” kata Pandit Ratanlal.

Menurut keyakinan Jain, Santhara tidak untuk semua orang.

“Ini direkomendasikan hanya dalam situasi ketika kematian tampaknya sudah dekat. Jadi ketika sudah tidak ada harapan lagi, sakit parah atau orang yang sudah sangat tua dan tidak bisa apa-apa lagi. Ini harus diadopsi sebagai cara untuk merangkul kematian dengan kesabaran, pikiran yang tenang dan dalam keadaan meditasi,” jelas Virsagar Jain, seorang dosen filsafat.

Tapi bagi aktivis HAM seperti Kavita Shrivastav, praktik itu menjadi seperti paksaan akhir-akhir ini.

“Sebelumnya, ada ruang bagi orang yang sedang berpuasa untuk berpikir ulang dan berubah pikiran kapan saja. Tapi sekarang tidak bisa. Begitu Anda mengatakannya, Anda harus menyelesaikannya,” ujar Kavita Shrivastav.

Pradeep Jain dari komunitas Jain bersikukuh kalau putusan itu menyerang hak beragama mereka.

“Ini adalah kebebasan beragama. Praktik ini bukan hal baru. Ini sudah berlangsung selama ribuan tahun. Dan Anda tidak bisa menyebutnya bunuh diri karena kita tidak mencari kematian tapi kesempurnaan spiritual.”

Kasus ini tengah diproses di Mahkamah Agung yang sudah membolehkan praktik Santhara untuk sementara waktu. Tapi putusan akhirnya tidak akan diketok dalam waktu dekat...

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!