Pengunjung pameran koleksi Presiden Sukarno di Galeri Nasional Jakarta. (Foto: Vitri Angreni)

Pengunjung pameran koleksi Presiden Sukarno di Galeri Nasional Jakarta. (Foto: Vitri Angreni)

Presiden pertama Indonesia, Sukarno, dikenal sebagai pecinta seni.

Selama hidupnya, dia mengumpulkan lebih dari dua ribu lukisan karya seniman dari dalam maupun luar negeri.

Tapi dia bukan hanya seorang kolektor, tapi juga seorang pelukis…

Setelah puluhan tahun tersimpan di istana presiden, koleksi Sukarno kini bisa dinikmati masyarakat.

Jurnalis KBR, Ria Apriyani, berbincang dengan kurator pameran Mikke Susanto, untuk mencari tahu lebih dalam.

Perempuan itu berkebaya hijau dipadu batik coklat dan sekutum bunga di telinga kirinya. Dipangkuannya ada sebuah buku.

Dialah Rini, lukisan yang dibuat Sukarno pada 1958. 

Kurator Mikke Sutanto mengatakan tidak ada yang tahu pasti siapa sosok Rini sebenarnya.

“Siapa sesungguhnya Rini ini. Katanya ini implementasi pembantunya, Sarinah. Sarinah ini bagi Soekarno dijadikan gambaran perempuan zaman itu,” ungkap Mikke.

Sarinah memainkan peran penting dalam kehidupan Sukarno bahkan menyebut namanya dalam salah satu bukunya.

 Tapi lukisan Rini membuat masyarakat penasaran soal simbol perempuan di balik lukisan itu kata Mikke.

“Simbolis itu memang banyak hal, bisa diinterpretasikan. Soekarno punya kemampuan memberikan makna-makna tertentu ketika dia melakukan sesuatu.”

Sampai saat ini Mikke telah menemukan 15 lukisan Sukarno.

Lukisan-lukisan itu bersama koleksi Sukarno lainnya tersebar di beberapa tempat seperti di istana presiden, di tempat pengasingannya dan disimpan beberapa kenalannya.

Tapi khusus Rini tetap berada di istana presiden selama beberapa dekade.

Sebagian besar koleksi Sukarno itu tersimpan rapat di istana selama ini.

Tapi selama bulan Agustus ini, koleksi-koleksi itu dipamerkan kepada masyarakat di Galeri Nasional Jakarta.

Dari ribuan koleksi, kurator memilih 28 karya yang menggambarkan Indonesia di masa revolusi. 

Pameran itu menghadirkan karya 22 seniman lain dan tentunya Sukarno sendiri.


Sukarno percaya dinding-dinding istana presiden seharusnya dihiasi karya seni.

Tapi kadang dia tidak mampu membayar secara tunai karya-karya para seniman itu, seperti yang terjadi pada pelukis ternama Indonesia, Affandi. 

“Suatu kali Affandi ke Gedung Agung, minta duit pelunasan. Sukarno bingung duit belum keluar, gaji belum ada. Affandi diberi pulpen presiden yang ada tulisannya Presiden Sukarno. Affandi nggak mau, takut dikira mencuri,” kisah Mikke. 

“Affandi minta uang kalau ada, atau apapun yang dimiliki Sukarno. Sukarno berikan baju bekas dia dan Fatmawati, sekarung beras, serta dokter kepresidenan. Saat itu Affandi minta uang untuk periksakan isterinya yang sedang sakit.”

Selain membeli karya para seniman dalam negeri, Sukarno juga berburu lukisan saat berkunjung ke luar negeri. 


Salah satunya ada lukisan “Gadis Melayu dengan Kembang” karya pelukis Meksiko ternama, Diego Rivera.

“Lukisan itu didapat Presiden Soekarno ketika berkunjung ke Meksiko. Modelnya isteri diplomat. Isteri diplomat namanya Ainsyah Effendy. Itu diminta oleh suaminya Boes Effendy untuk mau dilukis oleh Diego Rivera. Beliau antara mau dan tidak. Pada saat itu Bu Ainsyah sedang mengandung anak kedua,” jelas Mikke.

Meski ada lukisan yang tetap bertahan dalam kurun waktu yang lama, kurator Mikke Susanto mengatakan, ribuan lainnya rusak karen kondisi alam, semisal iklim tropis. 

Pemerintah pun harus berjuang mencari dana untuk memelihara lukisan-lukisan itu. 

“Terurus. Memang karena sumber dana sedikit, maka kemampuan SDM sedikit. Kita nggak bisa limpahin ke sejumlah kecil di Setneg. Maksud saya, harus bermitra, ga bisa hanya andalkan PNS,” usul Mikke.

Meski terbengkalai selama bertahun-tahun, koleksi itu tetap menjadi bagian tak ternilai dari sejarah Indonesia.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!