Dari kiri Omar Saeed Sheik, Faisal Shahzad dan Saad Aziz. (Foto: http://www.dawn.com)

Dari kiri Omar Saeed Sheik, Faisal Shahzad dan Saad Aziz. (Foto: http://www.dawn.com)

Di Institut Administrasi Bisnis di Karachi, ada satu topik hangat saat ini: Saad Aziz. Seperti yang lain, mahasiswa ilmu sosial ini terkejut dengan kabar itu.
 
“Saad Aziz lulus setahun sebelum saya masuk kemari. Tapi yang saya dengar Saad Aziz tidak punya kecenderungan untuk menjadi ekstrimis,” kata Ilsa Rashid.
 
Saad Aziz lulus dari salah satu lembaga pendidikan swasta terkemuka di negara itu pada 2011. Empat tahun kemudian dia mendapat perhatian dunia sebagai terduga teroris.
 
45 anggota komunitas Syiah Ismaili dibunuh secara brutal di pinggiran kota Karachi pada Mei lalu.

Beberapa hari kemudian polisi mengklaim sekelompok mahasiswa berada dibalik pembantaian itu. Mereka terdiri dari lulusan administrasi bisnis Saad Aziz, seorang lulusan teknik Muhammad Azhar Ishrat, dan pemegang gelar Master Kajian Islam, Hafiz Nasir.
 
Mereka semua berasal dari keluarga mampu yang mengirim anak-anaknya ke kampus top di negeri ini.
 
“Ayahnya bekerja di perusahaan multinasional dan mengelola jaringan perusahaan makanan.  Sehingga tidak ada indikator untuk percaya pada stereotip itu. Namun, jika ada mahasiswa lain seperti dia dan kecenderungan mempromosikan hal semacam itu di lembaga ini, benar-benar pemikiran yang memprovokasi seluruh bangsa,” Salah satu dosen yang mengajar Saad Aziz, Dr Huma Baqai.
 
Dibanding tersangka lain, kehidupan Saad Aziz banyak dibahas karena gaya hidup modernnya. Dia termasuk kaum elit dan menjalani kehidupan yang sangat liberal, memiliki teman perempuan dan secara teratur mengadakan pesta.

Di tahanan, dia dilaporkan mengatakan kepada penyelidik, bahwa ia ingin memfilmkan pembunuhan komunitas Syiah Ismaili.

Raja Umer Khatab, kepala Departemen Penanggulangan Terorisme di Kepolisian, memperingatkan munculnya bentuk baru ekstremisme.
 
“Lembaga-lembaga bergengsi mungkin tidak mempromosikan ekstremisme. Tapi ada dunia membentang di depan mereka. Orang-orang yang akan kita perangi bisa menyamar menjadi seperti Anda atau saya. Anda mungkin melihat mereka menghadiri pernikahan, mengunjungi pusat perbelanjaan, Masjid atau bahkan mengadakan pesta. Beberapa pertemuan mungkin melibatkan hal-hal amoral tapi pertemuan lain mungkin mendekatkan orang dengan agama. Ada juga pertemuan yang membawa orang ke suatu tempat.”
 
Kelompok ini juga dituduh terlibat pembunuhan aktivis hak asasi manusia Sabeen Mehmood, karena pandangannya terhadap ajaran kekerasan yang terjadi di Masjid Merah.

‘Saya tidak kaget. Karena jika Anda melihat pendidikan seperti apa yang diajarkan bahkan di lembaga besar sekalipun, mereka tidak mengajarkan toleransi. Yang ada antusiasme Islam yang berlebihan, yang memuliakan Islam. Ini sebenarnya tidak masalah. Tapi mereka tidak mengajarkan tentang agama-agama lain, tentang kepribadian agama-agama lain. Tidak hanya di bidang pendidikan, tapi di seluruh lingkungan di Pakistan, suasana yang dibangun adalah religiusitas,” kata Zohra Yousuf, ketua Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan.

“Menurut saya dengan meluasnya akses ke banyak media sosial membuat orang makin radikal karena mereka bisa mengakses banyak situs keagamaan yang dibuat kelompok-kelompok ekstrimis internasional. “
 
Jurnalis senior Muhammad Haneef sepakat.
 
“Pola pikir ini tidak tercipta dalam semalam, tapi dibangun sejak lama dan ada keterlibatan pejabat negara. Bahkan jika Anda orang terpelajar, Anda akan mendengarkan bahan yang diajarkan di madrasah, sama dengan di IBA dan Universitas Karachi. Menurut saya mereka yang terlibat dalam pencucian otak ini sangat berkuasa, termasuk di media dan lembaga pendidikan.”
 
Selama bertahun-tahun, komunitas masyarakat sipil telah meminta perubahan kurikulum yang lebih mempromosikan toleransi.

Beberapa upaya yang dilakukan pemerintah untuk menderadikalisasi kurikulum mendapat perlawanan keras dari kelompok agama.

“Ketika kita menganalisis terorisme kita melihat pada madrasah dan masjid. Tapi, kita tidak mengindahkan perpecahan, kekecewaan, dan reaksi di dalam masyarakat. Salah satunya rencana aksi nasional pembasmian terorisme. Sementara pemerintah, pemimpin politik dan agama, masyarakat sipil dan akademisi harus mencari solusi degradasi sosial, ekonomi dan sosial,” kata Liaquat Baloch dari partai politik Islam terbesar, Jamaat-e-Islami.

Setelah muncul tekanan masyarakat sipil, pemerintahan di Punjab, Sindh dan Khyber Pakhtunkhawa mencoba untuk menghapus beberapa sejarah agama dari buku pelajaran.

Dan ada usulan untuk menambahkan bab tentang tokoh-tokoh modern seperti bekas perdana menteri Benazir Bhutto, aktivis sosial Abdul Sattar Edhi dan aktivis pendidikan anak perempuan, Malala Yousafzai.
 
Tapi orang yang memimpin perubahan kurikulum terpaksa meninggalkan negara itu karena diancam dibunuh kelompok agama.

Zohra Yousuf dari Komisi Hak Asasi Manusia mengatakan pemerintah perlu melakukan perubahan jika ingin menghentikan terorisme.
 
“Saat ini sepertinya pemerintah dan tentara cukup puas dengan membunuh para militan di Waziristan Utara. Itu salah satu aspek. Tapi titik awalnya adalah mengubah buku pelajaran dan kurikulum. Juga terus mengawasi kampus yang punya pengaruh kuat. Ini mutlak diperlukan karena sebagian besar mahasiswa kuliah kampus-kampus pemerintah,  kata Zohra Yousuf.

“Bahkan lembaga pendidikan swasta harus mengikuti kebijakan pemerintah. Maka pemerintah harus bisa membingkai kebijakan yang mempromosikan toleransi jika tidak Pakistan akan terus mengalami kekerasan dan kehancuran,” tambahnya.
 
Sampai ini terwujud, mahasiswa liberal seperti Saad Aziz mungkin akan terus berubah menjadi teroris.
 
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!