Masyarakat turun ke jalan memprotes skandal ujian masuk sekolah kedokteran di India. (Foto: Shuriah

Masyarakat turun ke jalan memprotes skandal ujian masuk sekolah kedokteran di India. (Foto: Shuriah Niazi)

“Praktik ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Tidak ada tindakan yang diambil oleh pemerintah bahkan setelah muncul banyak keluhan. Ada orang-orang berpengaruh yang terlibat. Pemerintah menjadi penonton bisu dan tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya,” ungkap Anand Rai, seorang dokter sekaligus aktivis, merupakan salah seorang yang membeberkan penipuan saat ujian dan memberikan informasi ini pada polisi.

Dia mulai menyadari ada sesuatu yang salah ketika dia ikut ujian sekolah kedokteran pada 1994. Saat itu kertas ujiannya bocor.

Ujian itu kemudian dibatalkan dan diulang. Seorang dosen fakultas kedokteran dituduh sebagai dalang kebocoran. Setahun kemudian, seseorang menembakan 40 peluru ke dosen itu yang akhirnya tewas.

Dokter Anand Rai mengungkap kasus kebocoran soal ujian ini pada 2013. Ujungnya, terjadi penangkapan tersangka dalang masalah ini yaitu Dokter Jagdish Sagar.

Karena itu pula, hidup Dokter Anand Rai dalam bahaya.

“Jadgish Sagar menelepon dan mengancam saya. Dia bilang tidak akan mengampuni saya. Saya lalu menyampaikan ancaman ini ke Pengadilan Tinggi dan saya pun dijaga keamanan delapan jam sehari, dari pukul 11 siang sampai 7 malam. Lihatlah bagaimana mereka memperlakukan kami,” tambah Anand Rai.

Ratusan mahasiswa dari berbagai sekolah kedokteran ditangguhkan setelah kasus penipuan ini muncul.

Para mahasiswa yang masuk antara tahun 2006 hingga 2013 harus mengulangi ujian masuk fakultas kedokteran. Orangtua para mahasiswa ini diduga telah membayar suap yang cukup besar.

Banyak di antara para mahasiswa itu telah lulus dan berpraktik sebagai dokter.

Pelapor lain kasus ini adalah Ashish Chaturvedi, seorang mahasiswa bidang pekerjaan sosial.

“Saya diancam setelah membeberkan penipuan ujian ini beberapa tahun lalu. Gubernur Shivraj Singh ingin membunuh saya. Dia takut kalau saya mengekspos dirinya. Saya diserang berkali-kali,” tutur Ashish Chaturvedi.

Puluhan orang yang terkait dengan penipuan ujian kedokteran ini meninggal pasca kasus ini terungkap, banyak dari mereka anak-anak muda.

Angka kematian resminya adalah 27 orang. Tapi juru bicara oposisi Partai Kongres, KK Mishra, mengklaim angka yang sebenarnya mencapai dua kali lipat.

“Hampir semua kematian korban tidak wajar. Mereka adalah terdakwa, tersangka, perantara, anggota keluarga, pelapor dan saksi terkait penipuan,“ kata KK Mishra.

Pada 4 Juli, seorang jurnalis TV meninggal setelah mewawancarai orangtua dari seorang gadis yang bunuh diri dan terkait kasus penipuan ini.

Keesokan harinya, Dekan Jabalpur Medical College, kampus yang dikelola pemerintah, yang menyelidiki pendaftaran mahasiswa palsu juga ditemukan tewas.

Kematian Dekan Arun Sharma terjadi tepat setahun pasca pendahulunya meninggal. Dia juga menyelidiki kasus penipuan yang sama.

Kematian lain yang terjadi bulan Juli ini adalah tewasnya seorang apoteker yang dituduh terlibat dalam kasus ini. Polisi menganggapnya kematiannya sebagai kasus bunuh diri.

Tapi ibunya, Nirmala Singh, tidak percaya.

“Dia tidak mungkin bunuh diri. Kami katakan padanya kalau dia harus melapor ke polisi. Dan kami akan melakukan apa saja untuk memastikan kalau dia akan bisa dibebaskan dengan jaminan,” sanggah Nirmala Singh.

Beberapa kasus kematian yang tidak jelas ini memicu demonstrasi di jalanan Bhopal dan Delhi.

Kemarahan pengunjuk rasa ditujukan terutama kepada Gubernur Madhya Pradesh, Shivraj Singh Chouhan.

Awal bulan ini menurunkan status penyelidikan kasus penipuan ini.

“Tidak lama setelah kasus penipuan dalam penerimaan mahasiswa kedokteran ini mucul, saya memerintahkan investigasi menyeluruh terhadap kasus ini. Satuan Tugas khusus yang melakukannya. Saya percaya pada penyelidikan mereka. Dan saya merasa Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung puas dengan investigasi yang sedang berlangsung. Namun, kejadian baru-baru ini menyebabkan penyelidikan harus dilakukan oleh CBI,” alasan Singh.

Daftar nama yang diduga terlibat skandal ini mengejutkan warga Madhya Pradesh: mereka adalah politisi senior dan polisi.

Sistem pendidikan kedokteran India adalah salah satu yang terbesar di dunia.

India menghasilkan sekitar 30 ribu dokter setiap tahun. Kecurangan dalam ujian sekolah kedokteran ini telah menodai citra dokter India.

Bulan lalu, Mahkamah Agung India memerintahkan lebih dari 600 ribu mahasiswa untuk mengulang ujian utama sekolah kedokteran setelah ditemukan adanya kebocoran kertas ujian.

Anand Rai merasa bahwa penipuan Vyapam ini hanyalah puncak dari gunung es.

“Penipuan ini bernilai jutaan dolar. Tidak ada yang bisa membayangkan seberapa besar penipuan ini. Ini telah berlangsung selama bertahun-tahun dan banyak orang yang terlibat dalam penipuan ini. Itu sebabnya kami menuntut penyelidikan oleh agen federal. Penyelidikan menyeluruh hanya mungkin dilakukan agen federal,” kata Anand Rai.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!