Hakim Mahkamah Agung perempuan pertama di Afghanistan, Anisa Rassouli. (Foto: Ghayor Waziri)

Hakim Mahkamah Agung perempuan pertama di Afghanistan, Anisa Rassouli. (Foto: Ghayor Waziri)

Saat ini pukul 8 pagi. Anisa Rassouli baru saja tiba di kantornya di gedung Mahkamah Agung. Dua orang pengawal selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi.
 
Ruangannya sedang dibersihkan ketika dia masuk.
 
Saya bertanya padanya apakah berat menjadi satu-satunya perempuan di kantor ini.
 
“Sebenarnya laki-laki dan perempuan itu sama. Cuma tantangannya adalah kita harus mengambil keputusan yang berat dan harus berhati-hati dalam melaksanakan aturan hukum,” tutur Anisa.
 
Dia mengaku salah satu tujuannya adalah menghapus korupsi dari sistem peradilan negara itu.
 
Dia juga ingin melihat ada lebih banyak hakim perempuan dan membuat keputusan yang tepat terutama dalam kasus kekerasan terhadap perempuan.
 
“Saya bisa menunjukkan kalau Afghanistan tidah hanya punya perempuan terdidik, tapi kita juga punya guru, insinyur, hakim dan dokter perempuan. Di beberapa negara tetangga, tidak ada hakim perempuan di pengadilan tinggi tapi di Afghanistan ada. Jika perempuan takut dan tidak melawan, mereka tidak akan mendapat apa-apa. Jika perempuan berani, mereka bisa melakukan apa saja,” kata Anisa.
 
Anisa Rassouli yang saat ini berusia 47 tahun lulus dari Universitas Kabul tahun 1986 dan mulai bekerja sebagai pengacara 23 tahun yang lalu.
 
Selama perang sipil dan pemerintahan Taliban, dia tidak bekerja dan pindah ke Pakistan.
 
“Selama perang sipil dan periode Taliban, saya harus pindah ke Provinsi Parwan dan meninggalkan pekerjaan saya. Tapi di Parwan saya tetap berjuang untuk perempuan. Saya mendirikan sekolah khusus anak perempuan yang sudah sekarang sudah meluluskan ratusan gadis. Setelah itu saya pindah ke Peshawar, Pakistan, dan mengajar di sekolah tinggi Ariana selama dua tahun,” kisahnya.
 
Majelis Ulama Afghanistan menentang penunjukannya ini dan mengatakan kalau Islam atau hukum Syariah tidak membolehkan perempuan menjadi hakim.
 
Para anggota panel Islam berpengaruh di Afghanistan juga memprotes penunjukkan Anisa.
 
Tapi Presiden Ghani tetap bertahan dengan keputusannya.
 
“Saya menunuk perempuan pertama menjadi anggota Dewan Mahkamah Agung. Semoga saudara-saudari kita di parlemen menyetujui penunjukkannya. Seorang perempuan masuk ke Mahkamah Agung tidak berarti mengubah sistem peradilan,” kata Presiden Ghani.
 
Anisa sudah beberapa kali diancam kelompok bersenjata.
 
“Mereka mengancam akan membunuh saya. Mereka bahkan mengatakan akan melakukan serangan bunuh diri terhadap saya. Tapi saya tidak menggubris ancaman-ancaman itu karena saya percaya kepada Tuhan. Kita datang ke dunia ini dan akan meninggalkannya satu hari nanti.“
 
Pengangkatannya perlu disahkan parlemen dan kemungkinan akan menghadapi penolakan dari anggota parlemen konservatif.

Namun, masa depan parlemen Afghanistan sendiri dipertanyakan. Mandat lima tahun mereka resmi berakhir pekan depan setelah pemilihan anggota parlemen baru yang seharusnya dilaksanakan April lalu, ditunda tanpa batas waktu.
 
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!