U Aung Myint sedang mengecek namanya dalam daftar pemilih. (Foto: Saw Zin Nyi)

U Aung Myint sedang mengecek namanya dalam daftar pemilih. (Foto: Saw Zin Nyi)

U Aung Myint yang berusia 50 tahun sedang berkendara menuju Kantor Pemilihan Umum. Dia mau memasukkan namanya dalam daftar pemilih.

Pada 2010 namanya masuk dalam daftar pemilih namun tidak dia pakai.

Dia tiba di Kantor Pemilihan Umum. Oleh seorang petugas di sana, dia disuruh menulis data keluarganya.

“Saat pemilu 2012 nama saya tidak masuk dalam daftar pemilih dan saya harus datang dan memasukkan nama saya. Dan saya bisa ikut memilih. Sekarang saya harus datang lagi kemari dan mengubah daftar pemilih karena nama saya tidak tercantum. Petugasnya beralasan itu karena saya tidak ada di rumah saat mereka datang utuk mendata," kata Aung Myint.
 
U Aung Myint tinggal sendirian dan bekerja sebagai tukang ojek 10 jam dalam sehari. Dia sangat ingin bisa ikut memilih.

“Semua orang punya hak untuk memilih. Saya tidak mau kehilangan kesempatan makanya saya datang kemari untuk memperbaikinya. Jika saya tidak melihat daftar ini sampai hari pemilihan, maka saya tidak bisa memperbaikinya," tambahnya.

Pemerintahan semi demokratis Myanmar berjanji pemilu November nanti akan bebas dan adil.

Komisi Pemilihan Umum mengatakan tanggal pastinya akan diumumkan pada bulan Agustus.

Langkah pertama yang mereka lakukan kata Komisi Pemiihan Umum adalah memastikan semua orang di atas 18 tahun bisa memilih.

Komisi itu mempublikasikan daftar pemilih lebih awal sehingga warga bisa mengecek apakah nama mereka masuk dalam daftar itu atau belum.

Tapi pengurus Partai Rakyat Mon, Nai Lavi Tama, mengatakan ini tidak cukup.

Tantangan pelaksanaan pemilu yang bebas diantaranya masuknya semua orang yang berhak memilih dalam daftar pemilih, termasuk para pemilih yang tinggal di kamp-kamp pengungsian dan jutaan warga yang tinggal di luar negeri.

“Komisi tidak melakukan pekerjaannya dengan serius. Jika ada banyak kesalahan dalam daftar pemilih itu tandanya Komisi tidak menghargai pemilih sama sekali," tegas Nai Layi Tama.

Daftar pemilih juga dikritik luas oleh masyarakat lokal dan internasional pada pemilu 2010 dan pemilu susulan 2012.

Ada nama-nama orang yang sudah meninggal masuk daftar sementara orang yang masih hidup namanya tidak tercantum.

Ibu dari empat anak bernama Ma Thin Thin bekerja dari pagi sampai malam sebagai peramal.

Dia mengaku tidak punya waktu untuk mengecek apakah namanya masuk atau tidak dalam daftar pemilih.

“Saya bahkan tidak tahu dimana mereka mengumumkannya. Saya sibuk bekerja dan tidak mau repot-repot untuk memeriksanya. Saya ikut memilih pada pemilu yang lalu tapi tidak tahu banyak soal pemilu itu sendiri. Menurut saya pemilu tidak membawa perubahan dalam hidup saya, makanya saya tidak tertarik," aku Thin Thin.

U Tin Aye adalah Ketua Komisi Pemilihan Umum. Dia mengatakan masyarakat harus berpartisipasi untuk menyukseskan pemilu ini.

“Jika ada warga yang tidak mengecek namanya, itu adalah salah mereka, bukan kami. Dalam UU dengan jelas disebutkan kalau setiap warga negara berkewajiban memeriksa informasi terkait pemilihan umum. Kami menghadapi masalah yang sama pada 2010 dan 2012. Agar tidak terulang, kami merilis daftar pemilih ini lebih awal, sehingga setiap orang bisa memeriksanya. Kami sudah memperkirakan ada kesalahan dalam daftar pemilih, tapi jika warga datang untuk memperbaikinya, maka akan beres," kata Tin Aye.

Tapi ini tidak cukup kata Ko Win Pike Myo dari Phan Tee Eain, sebuah kelompok masyarakat pengawas pemilu.

“Komisi Pemilihan Umum seharusnya melakukan segala cara untuk mendorong masyarakat terlibat aktif. Banyak orang yang masih belum paham mengapa pemilu ini penting bagi mereka. Bahkan ada diantara warga yang tidak tahu cara memilih," kata Win Pike.

Di daerah terpencil di utara negara itu, masyarakat harus berjalan kaki seharian untuk bisa memeriksa apakah nama mereka masuk dalam daftar pemilih.

Tapi masih belum jelas, bagaimana cara mendorong masyarakat datang dan memeriksa dan memperbaiki daftar pemilih.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!