Di India, Ada Perburuan Penyihir

Mungkin banyak dari kita menganggap penyihir hanya ada dalam buku cerita dan film.

Senin, 12 Jun 2017 09:20 WIB

Chhuteney Mahato, korban perburuan penyihir di distrik Kharswan di Negara Bagian Jharkhand. (Foto: K

Chhuteney Mahato, korban perburuan penyihir di distrik Kharswan di Negara Bagian Jharkhand. (Foto: Kalpana Pradhan)

Mungkin banyak dari kita menganggap penyihir hanya ada dalam buku cerita dan film. Tapi di India Tengah dan Timur, ada perempuan-perempuan yang dilabeli penyihir dan mereka ini jadi target perburuan.

Dari Negara Bagian Jharkhand, Kalpana Pradhan mencari tahu soal praktik perburuan penyihir ini dan upaya untuk menghentikannya.

Budhni Tudu dikelilingi keluarganya dan sedang dibujuk agar mau makan. Perempuan 34 tahun ini terlihat lelah dan ketakutan. Dia kini tinggal menumpang di rumah saudara perempuannya.

Enam bulan silam, tetangganya di desa Birbasha, India Timur menyatakan Budhni adalah seorang penyihir. Dan sejak itu hidupnya berantakan.

Saat anak perempuan tetangganya sakit, Budhni yang disalahkan. Saat saya bertanya padanya soal ini, tangisnya pun pecah.

“Ipar saya minta pertemuan desa digelar. Dan warga menyatakan saya adalah penyihir. Mereka bilang saya penyihir dan pemakan manusia. Mereka lalu menyeret dan memukuli saya,” kisah Budhni.

Penduduk desa menyiksa dan mengancam membunuh Budhni.

“Saya dikucilkan. Saya tidak boleh keluar rumah dan saya hidup dalam ketakutan. Saya takut pergi mengambil air karena jika mereka tahu saya akan dibunuh. Belum lama ini anak perempuan saya menikah. Tapi saya khawatir dengan masa depan anak perempuan dan cucu saya.”

Budhni bukan satu-satunya korban. 

Menurut Biro Pencatatan Kejahatan Nasional India, sebanyak 2290 orang dibunuh dalam perburuan penyihir antara 2001 hingga 2014. dan korbannya kebanyakan perempuan. 

Perburuan penyihir sudah berlangsung ratusan tahun. Sakit berkepanjangan, ternak sekarat atau serangkaian gagal panen dengan cepat memicu desas-desus kalau ada penyihir di desa itu.

Jika seorang dukun atau Ojha, dilabeli sebagai penyihir, dia akan mengalami kekerasan: dipukuli dengan brutal, dibakar, diarak telanjang keliling desa, dipaksa makan kotoran manusia, diperkosa, atau bahkan dibunuh.

Perburuan penyihir lazim terjadi di negara bagian yang tingkat melek huruf dan pendidikannya rendah. Salah satunya di Negara Bagian Jharkhand. Lima puluh persen perempuan di pedesaan di sana tidak bisa membaca dan menulis.

Ini adalah kampanye Asosiasi Ilmu Pengetahuan dan Rasionalis. Mereka ingin mendorong pemikiran kritis dan anggotanya tersebar di pedesaan India.

“Kami menjelaskan dengan mengutip berbagai contoh. Bahwa tidak ada yang disebut penyihir, keajaiban, kekuatan supranatural atau okultisme seperti yang mereka percaya. Bahwa setiap kejadian ada hubungan sebab akibat,” jelas Arindam Bhattayacharya, sekretaris kelompok itu.

“Kami berupaya meyakinkan mereka kalau orang yang disebut dukun lalu dilabeli sebagai penyihir, hanya melakukan trik sulap. Agar lebih meyakinkan, kami melakukan trik di depan penduduk desa dan menjelaskan cara kerjanya.”

Arindam mengklaim kampanye mereka sudah ada dampak. Tapi perburuan penyihir bukan hanya soal takhayul. Ketika seorang perempuan dilabeli sebagai penyihir, harta bendanya bisa dirampas kerabat dan penduduk desa.

Jadi rebutan harta dalam keluarga, kepemilikan tanah dan politik desa sering menjadi alasan sebenarnya di balik perburuan penyihir.

Pada 1995, Chhuteney Mahato, yang saat itu berusia 32 tahun jadi target penyerangan. Saat itu dia berada di rumahnya di distrik Kharswan di Negara Bagian Jharkhand.

“Tetangga melabeli saya sebagai penyihir. Satu malam mereka membakar dan menjarah rumah saya. Saya bersama empat anak saya diusir dari rumah. Saya ke kantor polisi untuk melapor tapi mereka tidak menerima saya. Saya menghadapi situasi yang mengerikan,” kenang Chhuteney. 

Jharkhand adalah satu-satunya negara bagian di India yang punya undang-undang soal perburuan penyihir.

Tapi menurut Kavi Kumar, seorang jurnalis lokal yang telah meliput masalah ini selama 30 tahun, undang-undang itu tidak bisa melindungi perempuan.

“Negara Bagian punya Undang-undang antisihir tapi banyak polisi menolak mendaftarkan kasus perburuan penyihir. Penyebabnya karena ada tekanan politik dari kepala desa atau pemerintah desa. Jadi perempuan tidak mendapatkan cukup dukungan dari undang-undang ini,” jelas Kavi.

Chhuteney adalah sedikit perempuan yang berhasil bertahan. Ayahnya punya koneksi untuk mencari pertolongan dari polisi di tingkat yang lebih tinggi. Setelah pulih dari trauma, dia bertekad membantu perempuan lain yang mengalami hal serupa.

“Saya tidak ingin ada perempuan lain yang menghadapi dan mengalami trauma seperti yang saya alami,” tekad Chhuteney. 

Dia sekarang bepergian ke desa-desa, dari rumah ke rumah, untuk membujuk warga menghentikan perburuan penyihir. “Sejak itu saya sudah menyelamatkan 35 perempuan dari desa tetangga.”

Chhuteney bertekad akan terus mendorong terpenuhinya hak-hak perempuan seperti dia sampai praktik kekerasan berakhir.

“Saya sudah lama memperjuangkan hak-hak mereka, memberi mereka dukungan moral dan membawa mereka ke kantor polisi setempat. Dan jika polisi tidak menanggapi, saya minta bantuan dari otoritas yang lebih tinggi. Saya akan terus melakukan ini sampai saya mati,” tutur Chhuteney. 

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1