Warga Chi Krang sedang antri mengisi air dari tanki. (Foto: Ilana Tulloch)

Warga Chi Krang sedang antri mengisi air dari tanki. (Foto: Ilana Tulloch)

Bulan Mei ini Kamboja mulai memasuki musim penghujan. Tapi meski hujan pertama sudah turun, negara itu tetap mengalami krisis air.

Panas yang terik mengakibatkan sumur mengering dan air minum menjadi langka. Diperkirakan ini adalah kekeringan terburuk yang pernah dialami negeri itu.

Kita simak laporan koresponden Asia Calling KBR, Ilana Tulloch, yang disusun dari distrik Chi Krang, Kamboja.

Distrik Chi Krang menjadi daerah terakhir di Provinsi Siem Reap yang kami lalui dalam perjalanan menuju Phnom Penh. Saat berkendara kami melewati sebuah pesta pernikahan.

Di sepanjang jalan, kami melihat tanah basah karena diguyur hujan. Dan ini, adalah hujan pertama yang turun di Siem Reap di tahun 2016.

Tapi, hujan tak serta merta mengakhiri kekeringan parah yang melanda daerah tersebut.

“Saya sudah menjadi kepala desa selama tiga periode pemerintahan. Ini adalah kekeringan terburuk yang pernah saya lihat selama saya memimpin,” kata Leou Chanda, Kepala Desa di Chi Krang.

Wilayah ini dihuni sekitar 75 ribu jiwa, di mana 450 keluarga memegang ‘Kartu Penduduk Miskin’. 

Kartu itu bagian dari kebijakan pemerintah yang mana pemegangnya bisa mendapat pelayanan kesehatan dan bantuan makanan gratis. Tak ketinggalan beasiswa untuk para siswa.

Leou, berupaya mencari jalan mengatasi krisis air di desanya. Tapi perempuan berusia 68 tahun ini mengaku kepayahan.

“Saya mengumpulkan uang untuk mengontrol air dari sungai dengan membangun bendungan kecil, agar air tidak mengalir ke sungai. Saya tahu air itu sangat kotor tapi sangat berarti. Tapi kemudian bendungan ini juga kering sehingga saya meminta bantuan kepala distrik dan mereka mengirimkan 38 truk air. Airnya juga kotor tapi ini lebih baik dari pada tidak ada sama sekali,” kata Leou Chanda.

Di Kamboja, krisis air paling terasa dampaknya oleh keluarga pemegang ‘Kartu Penduduk Miskin’. Bulan lalu misalnya, tercatat ada lebih dari 500 kasus dehidrasi berat dirawat di salah satu klinik di Chi Krang.

Seorang petani, Sngoon Peak, bercerita dua anaknya mengalami diare dan dehidrasi. Sementara, kolam kecil yang bisa digunakan keluarganya kini tinggal bongkahan batu.

Karena itulah, LSM Life Project –yang bergerak di bidang pendidikan dan pembangunan di Chi Krang, ikut bergerak. “Sungai benar-benar kering kecuali beberapa kolam di sepanjang sungai. Anda bahkan bisa mengendarai mobil di dalam sungai. Hujan beberapa hari yang lalu hanya akan bertahan 2-3 hari, setelah itu sungai akan kering kembali,” jelas Vin Kebblewhite, warga Australia yang menjadi Direktur sekaligus pendiri Life Project.

Kata Vin, hampir semua kolam yang digali di halaman rumah warga, mengering. Kalaupun ada yang tersisa air, sudah pasti tercemar dan berbahaya jika dikonsumsi.

Di Chi Krang sendiri, hanya ada empat rumah yang dialiri air dari pipa. Sumber air itu didapat dari sumur milik pribadi yang jaraknya 12 kilometer. Sementara, sisanya yakni 70 persen rumah, tak punya akses langsung terhadap air.

Itu mengapa, sebagian besar keluarga bergantung pada air sungai dan kolam buatan manusia. Tapi, kondisinya kini kering kerontang.

“Kami berupaya mencari jalan keluar. Dengan biaya sekitar 700 ribu rupiah per minggu, kami mendapat 20 liter air per hari untuk 600 keluarga,” jelas Vin.

Untuk memecahkan persoalan air ini, Life Project menggandeng donor swasta, kepala desa Leou Chanda dan pemuka masyarakat.

Caranya, membeli air dari sumur milik pribadi. Dan, air yang dibeli itu jumlahnya sekitar 12 ribu liter untuk kebutuhan sehari.

Dan nantinya, tiap-tiap keluarga akan mendapat jatah 20 liter air perhari dengan mendatangi satu lokasi yang ditunjuk. Di sana, setiap orang yang menerima air harus membubuhi cap jempol sebagai bukti.

Peak, petani sedang mengantre air. Ia mengaku senang dengan pembagian air gratis ini. Sebab, di saat kekeringan seperti sekarang, air begitu berharga.

Ia pun berjanji bakal menggunakannya hanya untuk minum.

Hanya saja, penduduk, kata Peak, masih khawatir kalau kekeringan kian memburuk. Sementara mereka tak tahu apa yang mesti dilakukan.

“Saya khawatir tidak ada cukup air untuk anak-anak saya. Saya bertanya pada petugas truk air, ‘Mengapa Anda tidak menjual air di desa saya?’ Mereka bilang ‘Anda tidak punya uang untuk membelinya! Jadi buat apa kami menjualnya di desa Anda?” kata Peak.

Beruntung karena Life Project, punya jawabannya. Kembali Vin.

“Kami ingin bekerja sama dengan pejabat lokal untuk  membangun keamanan air agar desa punya cadangan air. Kami juga melihat kalau banyak keluarga sudah punya penyaring air untuk menyaring air yang kotor.”

Meski tengah menghadapi krisis air, warga tak kehilangan selera humor. Peak, punya rencana jika air dari Life Project habis. Yaitu menyelundupkan air dari Pagoda Buddha.

Ide itu rupanya disambut tawa orang-orang yang mendengarnya.

Dan jika para biksu di sana marah karena kehabisan air, Peak mengatakan cukup menutup telinga. Dengan begitu, ia tak perlu mendengar amarah para biksu saat mengambil air untuk anak-anaknya.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!