Rabu lalu (26/4) kota-kota di India merayakan No Horn Day atau Hari Tanpa Klakson untuk meningkatkan

Rabu lalu (26/4) kota-kota di India merayakan No Horn Day atau Hari Tanpa Klakson untuk meningkatkan kesadaran akan dampak kebisingan ini. (Foto: Jasvinder Sehgal)



Kota-kota di India termasuk yang paling berisik di dunia. Akibatnya nyata: terjadi gangguan pendengaran permanen dan komplikasi kesehatan, mulai dari soal jantung hingga diabetes.

Rabu lalu (26/4) kota-kota di India merayakan No Horn Day atau Hari Tanpa Klakson untuk meningkatkan kesadaran akan dampak kebisingan ini. Koresponden Asia Calling KBR, Jasvinder Sehgal, menyusun laporannya dari salah sudut jalan terbising di Jaipur, India.

Ini adalah puncak kepadatan di pagi hari di Tonk Road, salah satu jalan tersibuk di kota Jaipur India. Mobil, sepeda motor, dan angkutan umum tampak saling menyalip. Membunyikan klakson tanpa tanpa henti.

Para pelajar memegang spanduk yang berbunyi, “Tolong Berhenti Mengklakson’, ‘Tanpa Hari Klakson’ dan 'Paman, bisakah Anda mengemudi tanpa klakson?’

Ketika lampu lalu lintas berubah merah, mereka mendekati para pengemudi dan membagikan stiker yang bertuliskan 'No Horn' atau ‘Dilarang Membunyikan Klakson’.

Mainisha Gupta, 14 tahun, tidak suka suara klakson. Menurutnya pengendara kerap menggunakan klakson untuk melecehkan perempuan. “Banyak pria muda membunyikan klakson tanpa alasan. Ada juga yang menggunakannya untuk menggoda dan mengganggu para gadis,” keluhnya. 


Di sudut jalan, Dokter Surinder Kala, seorang spesialis telinga, sedang menjelaskan bahaya polusi suara. “Polusi suara dan klakson bisa menyebabkan tuli permanen. Selain itu juga menyebabkan penyakit-penyakit seperti diabetes, hipertensi serta jantung,” jelas Dokter Surinder.

Di India, banyak pengemudi muda yang memodifikasi atau melepas klakson mereka. Alhasil, suara kendaraan mereka lebih keras dan menurut mereka ini hal yang keren.

Bagi banyak orang India, membunyikan klakson adalah bagian penting dalam berkendara. Ini kata supir truk berusia 35 tahun, Mahinder Singh.

Menurutnya dia tidak pernah yakin apakah ada kendaraan lain yang akan menghalangi jalannya dari arah lain atau tidak saat mengemudi. Dia mengeluhkan sistem jalur di negara ini belum efektif jadi pengemudi selalu masuk ke jalur orang lain. Jadi dia khawatir bila tidak membunyikan klakson, ada kemungkinan menabrak kendaraan lain. ”Klakson sangat penting untuk mencegah kematian di jalan,” ungkapnya.

Menurut Badan Kesehatan Dunia WHO, tingkat kebisingan kota yang aman adalah 45 desibel. Kota-kota di India angkanya dua kali lebih keras, rata-rata minimal 90 desibel.

Jika terpapar kebisingan secara terus-menerus, bisa terjadi gangguan pendengaran dan kerusakan sistem saraf yang tidak bisa diperbaiki.

Siswa berusia 15 tahun bernama Kiran Sharma ikut bergabung di Hari Tanpa Klakson. Tahun lalu saudara perempuan Kiran kehilangan pendengaran karena bunyi yang terlalu keras.

Dia bercerita saudara perempuannya sangat suka mendengar musik keras-keras. Setiap kali dia menggunakan headphone atau menonton televisi, suaranya akan disetel sangat keras. Sedangkan saat mengemudi dia terus membunyikan klakson katanya. 

”Sekarang dokter memberinya alat bantu pendengaran karena dia tidak bisa mendengar dengan baik,” kata Kiran.


 Untuk membatasi polusi suara, India memperkenalkan aturan soal tingkat kebisingan pada tahun 2000.

Aturan itu melarang pengeras suara digunakan mulai pukul 10 malam hingga 6 pagi. Selain itu juga mengatur tingkat kebisingan di kota, termasuk menetapkan zona tenang di sekitar sekolah, pengadilan dan rumah sakit.

Tapi Prateek Kasliwal, seorang advokat yang ikut mengkampanyekan Hari Tanpa Klakson  mengatakan aturan ini tidak ditegakkan sehingga masalahnya terus berlanjut.

“Ada denda sekitar 10 juta rupiah dan hukuman penjara hingga tiga bulan. Tapi sayangnya saat ini orang membayar denda yang jumlahnya tidak sesuai undang-undang,” jelas Prateek. 

Bunyi klakson bukanlah satu-satu masalah. Ketika saya berhenti untuk minum teh di sebuah kios di seberang persimpangan yang sibuk itu, terdengar suara musik yang menggelegar.

Dan suara juga merupakan bagian tidak terpisahkan dari budaya religius di India. Semua tempat ibadah dilengkapi dengan pengeras suara.

Belum lama ini, penyanyi Hindu terkenal, Sonu Nigam, mengeluh di Twitter soal kerasnya suara azan dari sebuah masjid di dekat tempatnya saat fajar. Keluhannya ini menimbulkan kegemparan.

Sepertinya kota-kota di India masih akan tetap bising untuk waktu yang cukup lama. 


 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!