Masyarakat adat di Filipina ikut pemilu 9 Mei 2016. (Foto: Madonna Virola)

Masyarakat adat di Filipina ikut pemilu 9 Mei 2016. (Foto: Madonna Virola)

Filipina baru saja menggelar pemilu nasional awal pekan ini. Dan walikota kontroversial dari Kota Davao, Rodrigo Duterte, dipastikan menang telak.

Saat kampanye, Duterte berjanji akan menindak keras aksi kejahatan dan korupsi dalam waktu enam bulan dia berkuasa.

Tapi setelah menjadikan pemerkosaan dan pembunuhan sebagai lelucon, Duterte kini menunjukkan sikap lebih tenang.

Koresponden Asia Calling KBR, Madonna Virola, menyusun laporannya dari kota Baco.

Masyarakat Mangyan Alangan sedang mengantri untuk memberikan suaranya. Ini adalah proyek percontohan pertama di pemilu negara itu untuk masyarakat adat.

Inisiatif ini dirancang agar pemilu lebih mudah diakses oleh masyarakat adat Filipina.

“Kami senang karena sekarang bisa memilih tanpa gangguan atau manipulasi. Orang-orang merendahkan kami karena banyak dari kami yang tidak bersekolah. Tapi kami juga mendengarkan radio dan menonton televisi, sehingga kami tahu siapa yang harus dipilih,” kata Manuel Mintaras, ketua komunitas suku Mangyan Alangan.

Manuel tidak mau menyebut pilihannya. Tapi bagi jutaan warga Filipina, Walikota Rodrigo Duterte adalah jawaban atas persoalan bangsa ini.

Nama Duterte melejit di kancah politik saat menjadi Walikota Davao. 

Dia memerintah daerah itu dengan pendekatan garis keras dalam menghadapi peredaran narkoba dan aksi kejahatan, yang diduga melibatkan kelompok yang main hakim sendiri. 

Dia berencana menerapkan pola yang sama di tingkat nasional.

“Saya di sini karena ada begitu banyak kriminalitas, seperti narkoba, yang membanjiri negeri ini. Saya akan membasmi kejahatan, peredaran narkoba dan korupsi. Beri saya waktu tiga hingga enam bulan untuk melakukannya. Pertumbuhan ekonomi tidak akan tercapai selama masih ada pejabat yang tidak kompeten dan korup dalam pemerintahan kita,” tekad Rodrigo.

Pada malam hari setelah pemilihan, sudah dapat dipastikan Duterte meraih kemenangan telak.

Selisih perolehan suaranya mencapai jutaan suara, jauh meninggalkan pesaing terdekatnya. 

Tapi pria yang dijuluki 'Dirty Harry' itu bersikap lebih reflektif setelah kemenangannya sudah bisa dipastikan. Ini pidatonya di malam hari setelah pemungutan suara.

“Beberapa hari terakhir cukup sengit bagi kita semua. Propaganda hitam dan tuduhan palsu saling dilemparkan kedua belah pihak. Ini bagian dari pemilu. Saya ingin menggandeng para lawan saya. Mari kita lupakan sakit hati dan menjadi teman,” ajak Rodrigo.

Duterte terus membuat kejutan. Pada malam pemilihan, dia mengunjungi makam ibunya dan berdoa untuk tugas barunya.

Dia juga berjanji akan lebih diplomatis. Bahkan dia ingin mengunjungi Paus, yang dikecamnya karena menyebabkan kemacetan hebat saat berkunjung ke Manila tahun lalu.


Tapi analis mengatakan Duterte masih mencari bentuk pemerintahannya. Meski sudah ada pembicaraan kalau dia lebih suka sistem federal dan akan mengubah konstitusi untuk mewujudkannya.

Earl Parreno adalah analis di Institut Reformasi Politik dan Ekonomi yang berbasis di Manila. Dia mengatakan terlalu dini untuk melihat tipe kepemimpinan Duterte.

“Dalam setahun kita akan bisa melihat arah pemerintahannya, kebijakannya. Saat kampanye, dia berjanji akan ada perubahan radikal. Tapi jika Anda sudah berada dalam pemerintahan, Anda tidak bisa melakukan perubahan begitu saja, seperti janji-janji saat kampanye. Menurut saya dia akan lebih presidensial seiring berjalannya waktu.”

Uskup Warlito Cajandig dari  kota Calapan mengatakan karena sudah terpilih, warga Filipina harus mendukung Duterte.

“Apa yang bisa kita lakukan jika kita memilih presiden yang tidak seharusnya. Kita harus menerimanya karena itulah kenyataannya. Kita akan melihat bagaimana kita bisa mendukungnya dan sekaligus mendoakannya,” kata Uskup Warlito.

Bila kemenangan Duterte hampir bisa dipastikan, tidak demikian dengan calon wakil presiden. 

Berdasarkan penghitungan saat ini, yang memimpin dengan selisih tipis, adalah Leni Robredo. Bagi janda bekas Menteri Dalam Negeri Jesse Robredo, ini kali pertama dia terjun ke dunia politik.

Kembali di pegunungan Mindoro. 

Dindo Dumagol, ketua relawan Jaringan Hukum untuk Pemilu Jujur menyuarakan harapan sukunya dengan terpilihnya presiden baru.

“Siapa pun yang terpilih terutama sebagai presiden, kami harap akan lebih memperhatikan pembangunan masyarakat, mempromosikan hak-hak kami dan mengatasi berbagai masalah kami.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!