Mahasiswa Universitas UNITAR saat mengikuti sesi di Pertanian Kebun Kaki Bukit, Bukit Selangor, Mala

Mahasiswa Universitas UNITAR saat mengikuti sesi di Pertanian Kebun Kaki Bukit, Bukit Selangor, Malaysia. (Foto: Jan Zygmuntowski)

Luas Kebun Kaki Bukit mencapai 2,4 hektar yang terdiri dari agroforestri, kebun sayuran dan buah-buahan serta kanal. Kebun ini seperti sebuah pulau di tengah perkebunan kelapa sawit.

Saya tiba saat sarapan pagi sedang berlangsung dan setelah minum kopi, semua mulai bekerja.

Setelah berdiskusi, para relawan memutuskan hari ini akan fokus untuk mencampur lumpur untuk rumah yang mereka bangun.

Gordon Schultz yang berusia 23 tahun dari Amerika sudah tinggal di sini selama 6 bulan.
 
“Saat ini proyek terbesar adalah rumah lumpur yang sedang dikerjakan. Kami juga sudah membuat beberapa bangunan dari tanah liat atau bambu, dan dicampur material lain. Kami juga punya kebun permakultur dan telah menghasilkan cukup banyak dan beragam buah-buahan dan lainnya.”

Selain dari pekerjaan fisik, dia melihat ada arti yang lebih dalam dari apa yang dilakukannya.

“Kami mengelola semua hal di sini secara komunal dan kolektif, karena kami banyak menghabiskan waktu bersama-sama, bekerja bersama, makan bersama, dan bersenang-senang bersama.  Tidak ada struktur kekuasaan atas-bawah. Di sini tidak ada yang memerintah Anda sehingga suasananya sangat bebas. Itu sebabnya saya suka tempat ini,” kata Gordon.

Warga Malaysia Arafat Sharipudin adalah orang dibalik Kebun Kaki Bukit ini.

Dulu dia bekerja di perusahaan IT di Kuala Lumpur tapi beberapa tahun lalu dia memutuskan untuk mengubah hidupnya.

“Saya merasa perlu kehidupan yang berbeda dari kehidupan perkotaan yang normal karena saya ingin menjelajahi lebih banyak hal tentang diri saya, lingkungan, dan alam. Kalau saya tetap pada kehidupan yang dulu saya tidak akan pernah mencapai hal ini,” tutur Arafat.

Setelah berkeliling dunia, menjadi sukarelawan dan belajar pertanian, dia kembali ke Malaysia untuk membuat pertaniannya sendiri.

Kebun Kaki Bukit sudah berjalan selama lebih dari setahun. Pemilik tanah membiarkan Arafat membuat proyek ini pada lahan tidur dan membayarnya dengan hasil panen seperti buah jeruk, tebu, nenas dan kelapa.

Para relawan juga berkontribusi beberapa ringgit per hari untuk perawatan alat-alat dan membeli benda-benda yang tidak mereka tanam.

“Kami membuat pertanian ini untuk menghidupkan hidup yang berkelanjutan. Kami melakukan banyak percobaan karena kami tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi bagi saya, saya ingin mengeksplorasi cara hidup yang berbeda, berkelanjutan dan pada saat yang sama tumbuh bersama sebagai sebuah komunitas. Orang-orang yang datang untuk tinggal di pertanian ini juga bisa mendapat hal lebih dengan membawa ide-ide dan cara-cara baru dalam melakukan sesuatu. Itu ide utamanya,” lanjut Arafat.

Hampir setiap pekan ada orang baru yang datang ke pertanian itu seperti petani, tukang kebun, ahli permakultur dan lainnya.

Farrah Schwab berasal dari Afrika Selatan. Dengan keliling dunia dan bekerja di pertanian, dia bisa mempraktekkan ilmu permakultur, ilmu merancang pertanian ekologis yang menyerupai ekosistem alam.

“Bagi saya permakultur tidak hanya bagian dari pengetahuan tapi itu menjadi cara hidup dan membantu saya menemukan jalan yang lebih aktif untuk merealisasikan sistem keyakinan saya. Saya percaya sekarang ini sudah diwujudkan. Saya tidak hanya bekerja di belakang layar tapi benar-benar bekerja di lapangan,“ kata Farrah.

Hari ini pertanian itu dikunjungi murid-murid dari Sekolah Dasar Waldorf, sebuah sekolah yang fokus mengembangkan keterampilan.

Mereka membantu di kebun dan membuat pizza di sebuah oven tanah liat.

Julia, ibu dari Sherry yang berusia 12 tahun, dan pendiri sekolah ini yakin pertanian ini adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi anak-anak.
 
“Ini akan mendekatkan mereka pada alam. Mereka sebagian besar tinggal di kota dan banyak nonton tivi. Mendekatkan mereka pada alam adalah sesuatu yang akan membantu mereka,” kata Julia.

Pukul empat sore angin mulai berhembus tanda akan turun hujan.

Kami semua berteduh di ruang tamu dan bertemu lagi saat makan malam.

Saya berbincang dengan Arafat Sharipudin sampai larut malam soal dampak yang ingin dia bagi pada dunia. Kami sangat menikmati suasana yang santai.

Malam itu saya tidur di salah satu kontainer tua yang didaur ulang menjadi ruang tidur.

Suara kodok mengiringi saya ke alam mimpi. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!