Wirahadi, salah bekas pelaku bom di Poso, sedang berlatih tinju. (Foto: TVTempo)

Wirahadi, salah bekas pelaku bom di Poso, sedang berlatih tinju. (Foto: TVTempo)

“Saya Wirahadi. Eks daripada pelaku peledakan bom Antariksa jurusan Palu Poso. Kemudian terjadi penembakan di Sausu, di Kabupaten Parigi. Kemudian pengeboman di Alkitab di Palu jalan Manimbaya.”

Desember 2002 adalah puncak aksi Wirahadi. Dia melakukan serangkaian serangan bom dari Poso hingga Makasar.

Aksinya terbilang brutal karena dia dipenuhi keinginan balas dendam. “Karena kami dulu diperangi. Banyak saudara kami dibunuh dibantai oleh pihak kaum Nasrani. Sehingga kami membalasnya dengan mengadakan pengeboman bus Antariksa jurusan Palu Poso.”

Total ada 7 korban jiwa termasuk seorang turis Italia dan 26 orang luka-luka. Serangan yang pertama terjadi pada 5 Juni 2002. Empat penumpang tewas seketika dan 17 luka-luka. Satu korban luka-luka kemudian meninggal.

Pada 13 Juli 2002, serangan kedua terjadi di jalan trans Sulawesi. Seorang remaja berusia 18 tahun yang sedang berada di sana tewas dan sedikitnya empat orang luka-luka akibat ledakan itu.

Dalam serangan yang ketiga pada 8 Agustus 2002, seorang turis Italia tewas dan sedikitnya empat warga luka-luka, ketika Wirahadi dan teman-temannya menembakkan senjata otomatis ke arah sebuah bus.

Wirahadi juga membom target di luar Poso.

“Sampai pagi saya survei, Mal Ratu Indah, KFC Pengayoman dan NV Haji Kalla. Besok paginya saya sudah meracik, pasang detonator, setting weker, dengan kardus. Pas habis malam takbiran, setelah solat maghrib jalan, teman yang bawa bom itu meninggal di Mal Ratu Indah, trus NV Haji Kalla, KFC, serentak. Kita santai aja, rileks, pesan makanan di restoran. Setelah itu kami tinggalkan bom begitu saja dalam tas. Hak-haknya umat Islam yang ada di Poso yang bertempat di kalangan masyarakatnya orang Nasrani semua diambil kaum Muslimin. Harta-harta mereka, hasil kebun mereka. sehingga kami mengadakan peledakan bom Makasar yaitu di NV Haji Kalla dan Mall Ratu Indah,” kisahnya.

Dia ditangkap polisi pada April 2003 dan dimasukkan ke penjara di Makasar. Dia berulang kali minta pindah penjara agar dekat dengan keluarganya tapi selalu ditolak. Akhirnya dia pun melarikan diri.

“Tidak ada yang besuk, karena keluarga dana terbatas, Ibu saja. (Caranya gimana?) Pas ketiga kali orangtua bawa surat, kasih pindah, saya panjat tembok, hari Minggu, ke gunung, bertahan 10 hari. Tertangkap di gunung di daerah Gowa. Dibawa ke Densus, ditangani selama 9 hari, diintterogasi, dipukuli. Kemudian saya dirantai selama 1 tahun 2 bulan. Saya diisolasi, dikasih makanan pakai kayu. Besarnya 2x3. Tidak ada lampu, tidak ada tikar, 9 mata dirantai. Kemudian dikasih ke luar, dibuka.”

Dia menjalani hukuman penjara selama 9 tahun depalan bulan dan dibebaskan tahun 2013.

“Tidak pernah terpikir saya akan dipenjara. Apalagi saya dididik orangtua saya. Tapi begini lah gara-gara kerusuhan. Sehingga saya merasakan dipenjara lama kemudian saya rasakan apa yang namanya itu penyiksaan dari Densus, Polisi. Sampai dipenjara sampai sama lari. Saya cuma bisa berdoa supaya bisa bertemu dengan keluarga walaupun saya dalam keadaan kosong habis-habisan. Karena keluarga saya sampai jual rumah karena saya dipenjara”

Selama di penjara, dia punya banyak waktu memikirkan kembali apa yang sudah dia lakukan.

“Kita umat Islam ini punya hak dan itu sudah diajarkan di alquran untuk melakukan perlawanan. Melakukan persiapan perlawanan idat dan jihad untuk perlawanan. Tapi dengan hal-hal yang wajar, bukan dengan hal-hal yang kayak semacam saya lakukan kemarin sampai pasang bom di mall, di NV Haji Kalla. Yang mana dulu kan kita dulu itu hanya….saya terus terang melakukan aksi itu sejak umur 19 karena masih terbawa emosi tinggi kemudian ada yang panggil tanpa pikir panjang sehingga melakukan itu dan terus terang belum ada ilmu. Kemudian dipenjara sekian, kami mendapatkan belajar, belajar dengan kegagalan kami kemarin dan belajar kami bisa renungi ternyata kita berjuang itu harus dalam posisi yang pasti tanpa harus mengorbankan orang lain masyarakat awam. Apalagi anak-anak, dulu kan ada anak-anak yang jadi korban kan kasihan.”
 
Poso masih menjadi daerah yang rawan dilanda konflik. Pemerintah mengatakan wilayah terpencil ini menarik ekstrimis dari dalam dan luar negeri dan diklaim telah digunakan sebagai tempat latihan oleh kelompok militan.

Wirahadi mengatakan beberapa temannya masih terlibat dalam kelompok-kelompok kekerasan yang menyerang negara. Namun dia mengaku tidak tertarik lagi untuk kembali ke kehidupan yang dulu.

“Saya cuma menilai ada kekeliruan dan kejanggalan di mana mereka melakukan pengeboman, pembunuhan yang tidak jelas, yang kacau sehingga menyebabkan banyak orang yang ditangkap yang tidak terlibat karena aksi orang yang tidak bertanggung jawab. Itulah hal-hal yang saya tidak sepaham dengan apa yang dilakukan teman-teman sekarang karena brutal main sembarang hantam,” aku Wirahadi.

Wirahadi sekarang tinggal di sebuah rumah kontrakan bersana istri dan anak perempuannya. Dia bekerja sebagai supir mobil sewaan di Poso.

Dia juga tengah menekuni olahraga tinju.

Pelatihnya, Buyung Lub, mengatakan Wirahadi punya potensi. “Kalo wirahadi ini saya dengar ,latihannya masih di lembaga (LP). Saya coba mau lihat, saya lihat pukulannya bagus.”

Wirahadi mengaku sekarang dia ingin bertarung di ring tinju.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!