Bagi kebanyakan penganut Hindu, sapi adalah binatang suci. (Foto: The Hindu)

Bagi kebanyakan penganut Hindu, sapi adalah binatang suci. (Foto: The Hindu)

Praveen Kumar, yang berusia 35 tahun, bekerja sebagai pengantar daging di sebuah rumah potong hewan di Mumbai. Tugasnya mengantar daging sapi dari rumah potong hewan ke toko-toko.

Tapi sudah tiga minggu terakhir ini dia menganggur. Rumah potong hewan tempatnya bekerja ditutup menyusul larangan pemerintah negara itu untuk menyembelih sapi.  

“Upah saya di sini sekitar Rp70 ribu per hari dan hidup saya lebih mudah. Saya bisa menghidupi istri dan tiga anak saya. Tapi larangan ini membuat saya tidak bisa lagi memberi makan mereka 2 x sehari. Anak-anak juga terpaksa tidak sekolah karena saya tidak bisa membayar uang sekolah,” kata Praveen.  

Partai nasional Hindu, BJP, yang berkuasa di negara bagian Maharshtra, awal tahun ini memberlakukan hukum baru yang melarang pemotongan sapi dan kerbau.

Orang yang menjual dan mengkonsumsi daging sapi akan dihukum maksimal lima tahun penjara atau denda hampir dua juta rupiah.

Eknath Khadse, seorang menteri di negara bagian Maharashtra mengklaim larangan ini dibutuhkan.

“Sebagian besar warga India menganggap sapi adalah binatang suci. Orang Hindu juga ada tinggal di Pakistan tapi larangan menyembelih sapi ini tidak bisa diberlakukan di sana karena mayoritas penduduk di sana Muslim. Dan Pemerintah menghargai sikap mereka. Sebaliknya sikap penganut Hindu juga harus dihargai,” jelas Eknath.

Banyak penganut Hindu menganggap sapi adalah binatang yang suci dan menyembahnya.

Penyembelihan sapi sudah dilarang di sebagian besar negara bagian di India termasuk di Maharashtra.
 
Tapi larangan itu kini memasukkan kerbau, yang merupakan sumber utama daging. Ini akan menghantam industri daging India yang sedang berkembang.
 
Para pemasok daging di Mumbai berujuk rasa menentang keputusan pemerintah itu.

Dan tidak hanya negara bagian Maharashtra yang melarang daging sapi.

Negara bagian di utara, Haryana, yang juga dikuasai BJP, ikut memberlakukan aturan yang sama bahkan dengan hukuman yang lebih berat, 10 tahun penjara bagi yang melanggar.

Menurut Menteri Dalam Negeri Rajnath Singh, pemerintah pusat sedang berencana untuk memberlakukan larangan itu secara nasional.

“Bagaimana kita bisa membiarkan pembantaian sapi terus terjadi di negara ini? Kami akan melakukan apa saja untuk menghentikannya dan akan berupaya membangun konsesi nasional untuk kasus ini,” kata Rajnath.

Banyak yang menuduh partai nasional Hindu sedang memaksakan agenda Hindu ke dalam masyakarat multi kultur dan sekular.

Anggota parlemen dari kelompok oposisi, Derrick O’ Brian, mengangkat isu ini di Parlemen dan menantang keabsahannya menurut hukum.

“Daging sapi disebut sumber protein orang miskin karena ada banyak orang selain minoritas, yang makan daging. Apa yang mau dicari? Jangan hapus keragaman negeri ini. Saya menghormati hak orang lain untuk makan sayur, ikan, ayam dan kambing. Itu bukan masalah. Tapi jika Anda meminta saya hamya makan daging tertentu, Anda mencoba mengubah struktur bangsa yang besar ini. Dan Anda tidak perlu mengubah konstitusi untuk mengubah struktur negara ini,” papar Derrick.

Ritu Dalmia adalah pemilik sebuah restoran di Mumbai. Dia terpaksa menghapus menu yang memakai daging sapi setelah larangan itu berlaku tapi dia tidak paham alasan di balik keputusan itu.

“Saya tidak suka mengatakannya tapi sebenarnya sebagian besar orang yang datang dan memesan daging sapi di berbagai restoran di kota-kota besar adalah orang Hindu. Jadi menggelikan bila dikatakan larangan itu berlaku karena kepentingan agama,” kisah Ritu.

India adalah pengekspor daging sapi kedua terbesar di dunia dan juga penghasil produk garmen dan sepatu kulit kedua terbesar di dunia.

Ratusan ribu orang menggantungkan hidup mereka pada industri ini dan kini masa depan mereka terancam akibat larangan ini.

Bahkan para petani, yang diaku pemerintah akan mendapat keuntungan terbesar dari larangan ini, sangat menentang larangan ini.

Raghunath Patil adalah ketua kelompok petani. “Ketika ternak tidak lagi produktif, mereka menjadi beban bagi kami. Kami harus menyingkirkan mereka dan menggantinya dengan yang lebih produktif. Dan tukang daging adalah orang yang membantu kami melakukannya. Mereka mengekspor daging itu dan memberi pendapatan kepada negara. Ini rantai yang saling berkaitan. Sekarang jika tukang daging tidak membeli ternak, apa yang harus kami lakukan? Ini murni masalah ekonomi yang tidak perlu diberi warna agama untuk untuk kepentingan politik.”
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!