Seorang perempuan Kayan sedang menenun. (Foto: Phyu Zin Poe)

Seorang perempuan Kayan sedang menenun. (Foto: Phyu Zin Poe)

Diperkirakan hanya tinggal satu persen saja perempuan berleher panjang yang ada di Myanmar.

Kaum muda Myanmar menolak tradisi memakai gelang leher logam yang berat karena menurut mereka ini sangat menyakitkan dan tidak nyaman.

Dan bagi yang mau memakainya, gelang leher semata menjadi atraksi bagi wisatawan.

Dari Loikaw, ibukota negara bagian Kayah, Phyu Zin Poe menelusuri tradisi kuno ini.

Jaraknya 30 menit berkendara dari Loikaw ibukota negara bagian Kayah. Ini adalah salah satu desa yang didiami perempuan yang memakai gelang leher logam.

Para penduduk mengatakan di masa lalu semua perempuan di sini memakai gelang leher sebagai simbol identitas.

Tapi sekarang hanya lima dari 200 perempuan yang tinggal di sini yang masih memakainya.

Muu Phoe berusia 55 tahun dan ibu dari lima anak. Dia satu-satunya dalam keluarga yang memakai gelang leher.

“Awalnya saya tidak terbiasa karena rasanya sakit. Saya mau melepaskannya tapi saya khawatir nanti malah hilang. Gelang leher ini sangat berarti karena merupakan warisan nenek saya. Setelah memakainya lebih dari seminggu, rasa sakitnya menghilang dan saya jadi terbiasa,” kisah Muu Phoe.

Muu Phoe sudah memakai gelang leher selama 20 tahun dan tidak pernah melepaskannya bahkan saat tidur.

Ada 14 gelang yang melingkari lehernya dengan berat 12 kilogram. Dia juga memakai gelang logam disekitar lututnya. 

Saat ditemui, Muu Phoe sedang sibuk menenun pakaian tradisional di tendanya. Pakaian-pakaian ini akan dijual kepada para wisatawan yang mengunjungi desanya. 

“Kalau ada wisatawan yang datang untuk melihat kami, kami menjual pakaian-pakaian ini untuk mendapatkan uang. Kami sangat tergantung pada bisnis pariwisata karena kami tidak lagi bisa bertani.”

Di masa lalu, gelang leher logam merupakan simbol identitas, kecantikan dan kekayaan.

Tidak ada sejarah tertulis yang menyatakan kapan pertama kali perempuan Kayan memakai gelang leher tapi beberapa sejarawan mengatakan trandisi ini sudah berumur 800 tahun. 

“Dulu para gadis yang bisa memakai paling banyak gelang leher menjadi gadis paling populer diantara para pemuda desa. Jika ada gadis yang tidak memakai gelang leher, dia akan kesulitan mendapatkan jodoh,” tutur Muu Phoe.

Secara tradisional gadis Kayan mulai memakai gelang leher pada ulang tahunnya yang kelima – setiap tahun jumlah gelangnya akan bertambah satu sampai si gadis menikah.


Tapi kini tradisi ini mulai ditinggalkan. Di desa itu kurang dari 10 perempuan yang masih memakai gelang leher.

Dan bagi mereka yang masih memakainya, mereka menjadi perhatian para wisawatan. Para perempuan ini biasanya bekerja di hotel dan penari tradisional bagi para tamu. 

Sementara yang lainnya pergi ke negara tetangga Thailand dan Tiongkok dan bekerja di industri pariwisata.

Muu Lae yang berusia 33 tahun mengaku pernah mencoba memakai gelang leher tapi dia tidak bisa terbiasa.

“Saya pernah memakainya seharian tapi ternyata berat. Saya tidak bisa makan karena tidak bisa membuka mulut. Saya tidak bisa duduk bahkan ke toilet. Saya jadi penasaran bagaimana bibi saya bisa bertahan memakainya.” 

Muu Lae bahkan menjual gelang besi dan pakaian tradisionalnya pada para turis. Menurutnya sebagian besar wisatawan Myanmar yang membelinya, menggunakannya untuk acara-acara khusus.

“Beberapa turis asing dan lokal dari Yangon membeli gelang leher ini. Tapi kebanyakan pelanggan saya adalah orang Kayan. Sebagian besar perempuan Kayan datang kemari untuk membeli gelang leher untuk dipakai di acara perayaan bukan untuk dipakai selamanya,” kata Muu Lae.

Tapi seriring matinya tradisi memakai gelang leher ini, beberapa pihak mengatakan butuh solusi mendesak untuk menyelamatkan tradisi ini.

Kyaw Than adalah penasihat di kelompok pelestarian Budaya Kayan.

“Kita butuh rencana besar untuk melestarikan warisan budaya ini. Memberi pekerjaan di hotel pada perempuan-perempuan ini bukan solusi untuk melestarikan budaya. Kita butuh lapangan pekerjaan yang cocok bagi para perempuan itu agar mereka bisa melestarikan budaya ini.”

Meski Muu Phoe mengatakan melestarikan warisan itu penting tapi tidak ada satu pun anak perempuannya yang memakai gelang leher.

“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Saya ingin melestarikan warisan budaya leluhur ini. Tapi saya tidak berani bilang kalau warisan ini akan bertahan,” aku Muu Phoe. 

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!