Terpidana kasus terorisme, Mohammad Cholili alias Yahya (32) menerima surat pembebasan bersyarat di

Terpidana kasus terorisme, Mohammad Cholili alias Yahya (32) menerima surat pembebasan bersyarat di Kantor Bapas Lapas Lowokwaru, Malang, Jawa Timur. (Foto: Antara)

Banyak anggota kelompok teroris Jemaah Islamiyah yang dinyatakan bersalah dan dipenjara karena melakukan aksi kekerasan di Indonesia, kini telah bebas.

Termasuk para pelaku yang dipenjara karena membantu dan melakukan bom Bali yang menewaskan lebih dari 200 orang.

KBR mendapat kesempatan langka dan ekslusif untuk bertemu mereka.

Hari ini kita akan berjumpa dengan Muhammad Cholili dan Anif Solchanudin yang belum lama ini bebas bersyarat.  

Saya berada dalam mobil di luar sebuah hotel di Surabaya. Kami kemari untuk menjemput Cholili yang baru saja bebas bersyarat dari penjara.

Dia dinyatakan bersalah karena membantu Azahari Husin, pembuat bom asal Malaysia dan salah satu teroris paling berbahaya di Asia, melakukan aksi bom Bali 2005.

Dia sangat khawatir akan pertemuan ini dan tidak pernah diwanwancarai sebelumnya.

Cholili masuk ke dalam mobil. Pria kurus berusia 30 an tahun ini memakai kemeja katun putih dan celana panjang hitam.

Bersamanya ada bekas teman satu selnya, Anif Solchanudin yang dipenjara selama 6 tahun juga karena kasus terorisme.

“Anif ini paling mengerti orangnya. Dia paling mengerti orang baru keluar dari penjara gimana siy keadaannya. Ngga punya harta dan sebagainya. Dia yang paling mengerti saya. Jadi enak. Nyambung aja saya sama Anif. Saya juga tahu karakternya Anif ini, dari dulu dia ringan tangan,” kata Cholili.

Di dalam mobil juga ada Nasir Abbas, bekas pemimpin kelompok teroris mereka Jemaah Islamiyah, dan kini menjadi informan polisi.

“Kami berempat lagi reuni...” canda Nasir.

Ada keheningan yang canggung karena Nasir Abbas lah memberikan kesaksian yang memberatkan Cholili. Bukti itu membuatnya dihukum 18 tahun penjara.

Tapi dia hanya menjalani setengah dari masa hukumannya.

Saya bertanya pada Cholili apa yang dilakukannya sekarang setelah keluar dari penjara. “Berenang...pokoknya berenang... gerakan badan...”

Anif dan Cholili mengaku terlibat dalam militansi saat pecah konflik agama antara Kristen dan Islam di Ambon dan Poso pada 1998.

Mereka tidak melihat diri mereka sebagai teroris.

“Saya ketemunya Dr Azahari aja ngga nyangka sama sekali. Ada bayangan sedikit aja ngga ada,’ ujar Cholili.

“(Di) Indonesia nga tahu hukum, sosialisasi tentang hukum di Indonesia kurang. Kalau kamu begini hukumannya segini...tapi kita meremehkan soal itu. Kayak saya, DPO Ambon, saya terima. Saya ngga tahu tentang nanti kena 10 tahun. Kita itu buta hukum. Termasuk saya (LAUGHS)... jadi nga kelihatan goblok sekali,” timpal Anif.

Cholili mengklaim mengalami penyiksaan selama diperiksa oleh polisi. Agar dia tidak dipukuli lagi, dia mengaku bertugas sebagai kurir bagi pembuat bom Dr Azahari Husin.

Dia menggambarkan, orang yang dianggap sebagai teroris paling berbahaya di Asia itu, sebagai ‘orang yang baik’.

“Saya kenal beliau. Beliau baik. Maksudnya gini, masalah batinnya bukan urusan saya, sholatnya bagus, sedekahnya juga bagus. Eh kok bisa siy orang kayak gitu, ngga nyangka aja. Bom Bali 2 sampai sekarang ngga tahu dimana merakitnya. Versinya polisi itu karena saya yang ngomong  karena dipukuli,” kisah Cholili.

“Sama pengacara itu, ‘kamu minta maaf saja pada warga negara Australia’. Oh saya ini nga tahu apa-apa Pak, saya gitukan. Kalau saya tahu wajar. Saya tidak melakukan perbuatan itu saya disuruh minta maaf, lho gimana ngga tahu saya itu. Urusannya bom Bali 2 itu saya ngga tahu apa-apa terus saya disuruh minta maaf. Ya ngga enak saya, kayak saya yang melakukan. Menyesalnya itu saya begini ...ketangkap sampai 9 tahun dipenjara. 9 tahun itu bukan waktu yang pendek. Katakanlah saya bisa membangun ekonomi saya waktu itu, mungkin ngga kaya gini keadaan saya. Sedangkan temen-temen satu angkatan saya kuliah dan sebagainya katakanlah sudah relatif mapan dalam urusan dunianya,” tambah Cholili.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!