Pelajar Korea Selatan, Kang Tae-won, belajar bahasa Inggris di Filipina. (Foto: Jason Strother)

Pelajar Korea Selatan, Kang Tae-won, belajar bahasa Inggris di Filipina. (Foto: Jason Strother)

Seperti kebanyakan pelajar SMA di Korea Selatan, Kang Tae-won, yang berusia 17 tahun, melewatkan sore harinya dengan belajar di sebuah kursus bahasa Inggris.
 
Menurut dia, masa depannya sangat tergantung dengan ini.
 
“Tidak lama lagi dunia kita akan jadi dunia tanpa batas dan semua orang ingin bisa saling berkomunikasi. Bahasa Inggris adalah bahasa dunia, itu sebabnya saya mempelajarinya,” kata Kang.
 
Saya bertemu Kang pertama kali di Korea saat musim dingin. Di pertemuan berikutnya, dia sedang belajar di daerah yang lebih hangat.
 
Selama tiga bulan, Kang mendaftar di sebuah tempat kursus untuk belajar bahasa Inggris di Kota Baguio, yang berjarak 250 km di utara ibukota Filipina, Manila.
 
Sebagian besar pelajar di sini berasal dari Korea Selatan. Mereka tinggal di asrama yang terletak di atas tempat kursus. Di sini mereka belajar dengan para guru lokal selama delapan jam sehari di ruangan yang dirancang sebagai Zona Khusus Berbahas Inggris.
 
Kang mengaku bahasa Inggrisnya lebih baik sejak belajar di sini. “Suasana di sini enak untuk belajar bahasa Inggris, Saya berusaha keras untuk belajar menulis, membaca, tata bahasa, kosa kata dan mendengarkan dalam bahasa Inggris.”
 
Ribuan orang Korea Selatan datang ke Filipina setiap tahun untuk belajar bahasa Inggris, Mereka mendaftar di ratusan tempat kursus di seluruh Filipina atau kursus pribadi dengan warga lokal. Filipina menjadi salah satu tujuan utama orang Korea untuk belajar bahasa Inggris di luar negeri.  
 
Yoo Moon-young adalah pemilik tempat kursus tempat Kang belajar di Korea. Dia membawa 11 siswanya belajar di sekolah di Baguio tahun ini.
 
“Ketika musim dingin, saya membawa siswa saya ke kota Baguio Filipina, untuk belajar bahasa Inggris. Suasana dan cuaca di Baguio ini enak,” tutur Yoo.
 
Tapi Yoo menjelaskan orangtua Korea mengirimkan anak-anak mereka ke Filipina bukan hanya untuk menikmati cuaca bagus.
 
“20 tahun lalu saya biasanya membawa anak-anak belajar ke Amerika Serikat atau Kanada. Tapi orangtua Korea sekarang ingin belajar keluar negeri yang hemat biaya dan waktu, Itu sebabnya saya membawa siswa saya ke Filipina.”
 
Dia mengatakan untuk paket belajar tiga bulan di sini, keluarga harus merogoh kocek Rp70 an juta per siswa. Jumlah ini lebih kecil ketimbang belajar di Amerika Serikat, Kanada atau negara berbahas Inggris lainnya.
 
Di Korea Selatan, belajar bahasa Inggris tidak semata untuk memperbaiki kemampuan bahasa kata Jasper Kim. Dia adalah dosen di Divisi Kajian Internasional di Ewha Women’s University, Seoul.   
 
“Belajar bahasa Inggris tidak hanya untuk alasan praktis, tapi juga sebagai aset superfisial. Ini menunjukkan kalau Anda berasal dari keluarga dan kelas ekonomi yang tepat yang tepat. Jika Anda mampu berbahasa Inggris dengan cukup baik dan lancar, berarti keluarga Anda punya sumber daya ekonomi yang tepat untuk mengirimkan Anda ke Amerika Serikat atau Inggris. Dan jika Anda punya sumber daya ekonomi semacam ini, itu berarti keluarga Anda terhubung dengan keluarga lain,” papar Kim.
 
Kim mengatakan keluarga-keluarga Korea yang tidak punya sumber daya itu, melihat Filipina sebagai alternatif yang bagus karena lebih murah. Ini sekaligus sedikit mengangkat tekanan pada para siswa.  
 
“Apa pilihan lain? Membayar lembaga swasta yang sangat kompetitif dan penuh sesak di sini? Jika mereka pergi ke Filipina, mereka bisa sedikit bersantai bersantai walau hanya beberapa menit sehari dan mereka bisa keluar dari ekosistem yang sangat padat yang dikenal sebagai sistem pendidikan Korea Selatan ini.”
 
Dan bila keluarga Korea Selatan bisa menghemat biaya pendidikan dengan pergi ke Filipina, maka guru-guru di sana dapat tambahan penghasilan.
 
Sheryl Macavio, yang berusia 24 tahun, adalah seorang intruktur ESL. Menurutnya, tempat kursus swasta di kampung halamannya di Baguio menawarkan lapangan kerja di tengah tingginya angka pengangguran orang muda di sana.
 
“Lapangan kerja bagi orang muda di sini cukup sulit. Ini menjadi cara bagi banyak orang Filipina untuk menerapkan apa yang mereka pelajari dan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka. Selain itu mereka bisa membantu orang Korea dan negara lain untuk meningkatkan keterampilan mereka,” kata Sheryl.
 
Gaji guru ESL di sekolah Macavio mulai dari Rp 3 juta per bulan. Jumlahnya setengah dari  gaji guru sekolah umum di Filipina. Tapi mengingat terbatasnya jumlah pekerjaan di sekolah dan adanya lebih banyak permintaan guru bahasa Inggris, maka ini bukan pilihan yang jelek untuk lulusan baru, kata Macavio.
 
Pelajar dari Korea Selatan, Kang Tae-won, mengaku makin siap untuk kuliah tahun ini setelah belajar di Filipina.
 
“Saya akan ke Singapura Juni nanti dan belajar manajemen internasional. Saya ingin bekerja di sektor bisnis,” kata Kang.
 
Tapi menurutnya dia masih harus banyak belajar lagi.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!