Seorang petugas pemilihan memperlihatkan kertas suara dalam proses penghitungan pemilihan presiden d

Seorang petugas pemilihan memperlihatkan kertas suara dalam proses penghitungan pemilihan presiden di Dili, Timor Timur, Senin (20/3). (Foto: ANTARA)



Pekan lalu negara demokrasi termuda di Asia, Timor Leste, melakukan pemilihan presiden pertamanya sejak misi perdamaian PBB meninggalkan negara itu pada 2012.

Ini adalah pemilihan presiden keempat sejak negara itu merdeka dari Indonesia.

Seperti yang dilaporkan Teodosia dos Reis dari ibukota Dili, demokrasi tampaknya berjalan baik di negara kecil ini.

Delapan kandidat maju dalam pemilihan presiden di Timor Leste pekan lalu. 

Enam orang adalah calon independen sementara dua lainnya berasal dari partai politik yaitu Partai Demokrat dan Partai Fretilin.

Dari 1,2 juta penduduk Timor Leste, tercatat 740  ribu warga yang punya hak pilih.

Dan masa kampanye berjalan semarak.

Dalam jajak pendapat sebelum pemilu, calon yang memimpin adalah bekas pemimpin revolusi Francisco Guterres Lu Olo. Sebelumnya, dia sudah dua kali ikut pemilihan presiden namun keduanya gagal.

Tapi tahun ini terlihat berbeda.

Guterres didukung oleh partai Fretilin dan CNRT, partai yang didirikan pahlawan kemerdekaan Xanana Gusmao. Selama kampanye, Xanana memberikan dukungan kunci pada Guterres.

Dia mengatakan sejak masih berjuang di hutan demi kemerdekaan, dia tidak pernah berhenti berjuang untuk meraih mimpinya.

“Berjuang untuk membebaskan bangsa. Saya punya cerita panjang, 24 tahun, berjuang di hutan untuk merdeka dari pendudukan Indonesia di Timor Leste. Akhirnya kita merdeka pada 1999. Sekarang saya ingin membantu membawa negara ini keluar dari kemiskinan,” kata Guterres.


Timor Leste adalah salah satu negara termiskin di dunia dimana 40 persen warganya dikategorikan kelompok miskin.

Negara ini sangat bergantung pada pendapatan dari minyak. Tapi ini kata para analis akan mengering dengan cepat.

Kembali ke pemilihan presiden. 

Sebuah tim beranggotakan 35 pengamat pemilu dari Misi Pemantauan Pemilu Uni Eropa hadir di Timor Leste untuk mengawasi pemungutan suara di 10 dari 13 kota di seluruh negeri.

Ketua tim Pemantau, Izaskun Bilbao Barandica, memuji pemilu kali ini dengan mengatakan secara nasional, pemilu berjalan lancar dan damai.

“Warga, lembaga pelaksana pemilu, calon presiden dan organisasi masyarakat sipil, semuanya berkontribusi untuk pemilu yang damai hari ini. Di mana hak-hak universal seperti hak memilih secara bebas dan setara dihormati sesuai Konstitusi Timor Leste,” kata Barandica.

Barandica juga mengatakan proses pemilu berjalan transparan.

“Mulai dari pendaftaran pemilih dan calon presiden, pemilihan, penghitungan sampai tabulasi hasil suara, berjalan transparan dan terjamin. Selain itu juga perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan yang jadi anggota TPS juga seimbang.”

Camilo Almeida dosen dari Universitas Nasional Timor Lorosae (UNTL) mengatakan demokrasi Timor Leste berjalan baik.

“Meski isu-isu politik kadang fokus pada konflik, rakyat Timor tidak terpengaruh. Lewat politik mereka tahu tentang sistem demokrasi. Dan sampai sekarang situasi berjalan aman,” jelas Almeida.

Penghitungan suara dimulai setelah pemungutan suara Senin lalu.

Dan hasilnya sudah muncul.

Mengamankan 57 persen suara, Francisco Guterres Lu Olo tampaknya akan menjadi Presiden Timor Leste berikutnya.

Guterres akan menjadi calon presiden pertama yang memenangkan suara mayoritas di putaran pertama pemilu, sejak Xanana Gusmao terpilih sebagai presiden pada tahun 2002.

Hasil pemilihan presiden ini rencananya disahkan pada 2 April mendatang.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!