Kantamma dan Bajaroo. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Kantamma dan Bajaroo. (Foto: Jasvinder Sehgal)

India adalah salah satu negara yang memutuskan untuk mengurangi emisi CO2nya secara signifikan.

Setelah kesepakatan Iklim Paris Desember lalu, India berjanji secara sukarela menguranginya 12 persen emisinya. 

Salah satu caranya lewat program kehutanan yang bertanggung jawab. 

Jasvinder Sehgal mengunjugi sebuah hutan di Provinsi Telangana dimana para petaninya menanam jutaan pohon baru.

Para perempuan suku di Desa Rajeev Nagar, 30 kilometer dari Bhadrachalam, menyanyikan lagu-lagu rakyat untuk membawa keberuntungan. 

Lagu mereka merupakan sebuah doa kepada dewi lokal, nenek moyang pohon.

Sementara para perempuan bernyanyi, kaum pria memukul drum yang terbuat dari pohon eucalyptus.

Semua orang bersemangat di malam sebelum panen eucalyptus, yang merupakan panen ketiga dalam sembilan tahun terakhir.

Kesar Kantamma yang berusia 60 tahun adalah salah satunya.

“Kami sudah mendapatkan lebih dari 900 juta rupiah dari panen ini. Dari panen pertama kami membangun rumah baru. Uang dari panen kedua digunakan untuk biaya berobat dan sekolah anak-anak saya. Dua putra saya sekarang bekerja sebagai guru sementara dua lainnya bergabung di Angkatan Udara.” 

Kesari Bajaroo yang berusia 64 tahun adalah suami Kantamma. Dia bercerita tentang pohon-pohon yang ditanamnya.

“Saya punya empat ribu pohon di tanah seluas dua hektar. Selain itu ada 2.400 pohon eucalyptus bersama tanaman asli di 1,6 hektar lahan saya. Saya juga punya banyak tanaman obat. Beberapa jenis pohon lain yang saya punya adalah mangga, asam, cemara dan petai cina serta Madhuca latifolia, yang dianggap sebagai dewi dalam masyarakat lokal.”

Bajaroo mengadopsi model agroforestri atau budidaya tanaman kehutanan di lahannya. Di antara pohon-pohon eucalyptus itu dia menanam sayuran.

Dia mengatakan model ini terbukti bisa menghasilkan banyak uang.

“Sebelumnya saya tinggal di gubuk kecil tak jauh dari rumah baru saya. Meski punya lahan saya dan istri menggarap lahan milik orang lain. Kebun eucalyptus dan model agroforestri ini menghasilkan banyak uang. Kini saya punya hutan sendiri.”

Tapi pohon-pohon ini tidak hanya menghasilkan banyak uang.

Program inisiatif hutan pertanian dan sosial yang diikuti Kesari berhasil menyerap hampir 5000 kiloton CO2 tahun ini.

Penyerapan ini memanfaatkan CO2 di atmosfer dan mengubahnya menjadi oksigen.

Sebuah kemenangan besar bagi komitmen India dalam mengurangi emisi.

Program ini dimulai pabrik kertas karton lokal, ITC. Bajaroo bersama petani lainnya menanam jenis pohon eucalyptus yang lebih tangguh dan produktif dan waktu panennya yang lebih pendek.

“Produktivitas yang lebih tinggi akan membuat harga juga lebih tinggi. Seiring program ini, kami juga melatih mereka dalam pemupukan dan pengolahan tanah. Ini membantu mereka meningkatkan produktivitas lahan pertanian,” papar Sanjay K Singh dari ITC.

Program agroforestri ini mengikuti standar yang ditetapkan Dewan Penataan Hutan atau FSC.

Ini adalah sebuah LSM internasional yang memastikan kalau hutan dan perkebunan dikelola secara bertanggung jawab dan sesuai dengan standar yang diakui secara internasional.

Perwakilan dari FSC, T. Manoharan, menjelaskan bagaimana India adalah perintis kehutanan yang bertanggung jawab. 

“Program kehutanan yang bertanggung jawab terus berlangsung karena India merupakan pelopor dalam program kehutanan sosial dan agroforestri. Dengan dukungan dari para petani yang mempromosikan pohon di luar hutan, kita bisa dengan mudah mencapai tujuan dari kehutanan yang bertanggung jawab,” kata Manoharan.

Manoharan mengatakan ribuan petani kecil terlibat dalam program kerjasama ini. Dan bersama mereka bisa membuat perubahan.

“Petani secara individu mungkin hanya punya lahan seluas setengah hingga dua hektar. Tapi mereka membentuk kelompok dan mendukung misi dan standar FSC. Ini memberi kontribusi pada dunia. 

Kembali ke hutan, sekelompok petani marjinal sedang mengadakan rapat untuk membahas teknik panen dan rencana penanaman berikutnya.

Bajaroo adalah ketua tim kelompok yang dikenal sebagai ‘Sangha’.

Dia mengatakan anggota kelompoknya mematuhi hukum setempat. Mereka juga berkontribusi dalam mengubah status sosial, lingkungan dan ekonomi desa.

Hari masih pagi dan burung bebas berkicau dalam hutan yang rindang.

Para petani mulai memanen pohon mereka. Dan dengan teknik iklim cerdas, pekerjaan mereka membantu India mencapai tujuan pengurangan emisi.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!