Dalam Pelarian, Anggota Komunitas LGBT Bangladesh Masih Hidup Dalam Ketakutan

Pemerintah Bangladesh menindak media dan masyarakat sipil. Selain itu mereka juga menargetkan editor, blogger dan aktivis hak-hak gay.

Senin, 06 Feb 2017 10:38 WIB

Mahamood Rakibul Hasan. (Foto: Rajan Parajuli)

Mahamood Rakibul Hasan. (Foto: Rajan Parajuli)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


Tahun lalu merupakan tahun yang buruk bagi blogger, aktivis, dan semua anggota komunitas LGBT  di Bangladesh . 

Pemerintah menindak media dan masyarakat sipil. Selain itu mereka juga menargetkan editor, blogger dan aktivis hak-hak gay. Dalam beberapa kasus, mereka dibunuh secara brutal.

Kondisi ini menyebabkan Mahamood Rakibul Hasan, 23 tahun, melarikan diri ke Nepal. 

Di sana dia bertemu koresponden Asia Calling KBR, Rajan Parajuli.

Mahamood Rakibul Hasan yang akrab dipanggil Rakib tinggal di ruang rapat kecil di Blue Diamond Society.

Ini adalah kelompok aktivis yang mendukung minoritas seksual di ibukota Kathmandu.

“Saya punya dua kain, satu untuk alas tidur satu lagi untuk selimut. Seorang teman Nepal yang memberikannya pada saya,” cerita Rakib.

Rakib menunjukkan pada saya kain tipis yang dia jadikan alas tidur setiap malam. Saat ini di Kathmandu sedang musim dingin dan suhu di malam hari bisa turun sampai titik beku.

Saat pertama bertemu Rakib, dia belum makan makanan yang layak selama tiga hari. Setiap beberapa hari dia memasak sebungkus mi instan karena hanya itu yang mampu dia beli.

Rakib meninggalkan rumah orangtuanya pada 2009.

“Ibu saya bilang, ’Ini tidak wajar, hanya pikiran kamu saja. Jadi kamu harus berubah’. Ibu bilang kalau saya menjadi normal, mereka akan menerima saya. Mereka bahkan membawa saya ke psikiater,” kisah Rakib. 

“Tapi psikiater itu malah melecehkan saya. Dia bilang saya adalah masalah bagi masyarakat dan orang-orang seperti saya adalah akar penyebab HIV. Dia memberi saya beberapa pil tapi tidak ada perubahan.”

Di rumah, ayah Rakib menolak untuk makan satu meja dengannya. Dan ketika dia bersembahyang di Masjid, keluarganya mengatakan tempat yang dia duduki jadi tidak suci selama sebulan.

Jadi Rakib mengemasi beberapa barangnya, pakaian, buku, dan uang sekitar dua juta rupiah dan naik bus 12 jam menuju Dhaka.

Di ibukota, Rakib dan teman-temannya mendirikan sebuah organisasi pemuda yang disebut 'Rubban’. Mereka menerbitkan majalah, menulis blog dan mengadakan program peningkatan kesadaran masyarakat. 

Mereka ingin mendorong masyarakat mau menyuarakan penentangan diskriminasi dan kekerasan terhadap minoritas seksual. Melawan tindakan-tindakan mengerikan seperti yang dia juga alami.

“Polisi menangkap saya ketika saya ke taman suatu hari dan mereka menuduh saya menjadi pekerja seks. Mereka bilang akan menuntut saya. Mereka mengancam dan membawa paksa saya ke toilet umum dan mulai meraba-raba. Mereka melecehkan saya,” ungkap Rakib. 

“Saya melawan dengan menendangi mereka tapi punggung saya malah disudut rokok. Mereka memperkosa lalu membuang saya di jalanan. Tidak ada yang akan membantu bila saya melapor jadi saya tidak punya pilihan lain selain diam saja.”

Sebelum melarikan diri, Rakib menulis untuk majalah bernama Muktamona. Itu sebelum editor majalah itu, Avijit Roy, dibunuh oleh fundamentalis Islam.

Delapan blogger lain yang menulis tentang isu-isu gay dan lesbian juga dibunuh.

“Ketika fundamentalis Islam membunuh Avijit Roy, editor Muktamona, kami sangat takut. Dulu saya juga menulis untuk Muktamona. Pernah satu hari di dalam bus, beberapa anak laki-laki mengkritik saya. Saya bilang pada mereka ‘Saya juga rakyat Bangladesh’,” kata Rakib. 

“Dan mereka bilang, ‘Saya tahu di mana kamu tinggal. Kamu akan berakhir seperti teman-teman bloggermu. Saya akan menyiram wajahmu dengan zat asam.’ Itu benar-benar membuat saya takut.”

Khawatir akan keselamatannya, Rakib memutuskan untuk pergi.

Dia melarikan diri ke Nepal bulan April tahun lalu, berharap kondisinya lebih aman di sini.

Rakib sudah tidak melihat keluarganya selama lebih dari enam tahun. Mereka bahkan tidak tahu kalau dia berada di luar negeri.

Rakib mencoba menelepon ibunya menggunakan Skype setiap minggu tapi tidak pernah diangkat.

“Saya sangat rindu pada ibu. Saya tidak tahu sebabnya tapi saya tetap sayang sama ibu. Orangtua saya yang membawa saya ke dunia ini. Mereka tidak mengakui saya tapi mungkin itulah takdir saya. Saya selalu mencoba untuk menelepon ibu lewat Skype, tapi dia tidak pernah menerima panggilan saya,” tutur Rakib.

Di Nepal, Rakib telah diakui sebagai pengungsi oleh kantor Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR). Tapi untuk saat ini dia masih menunggu negara yang mau menerimanya. 

Pilihannya yang lain adalah kembali ke rumah. Tapi itu berarti dia harus berbohong tentang seksualitasnya - sesuatu yang tidak siap dia lakukan.

Saat ini, bila Rakib rindu rumah, dia akan menyanyikan lagu kebangsaan Bangladesh untuk dirinya sendiri.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Moratorium Reklamasi, Menteri Siti : Pulau C dan D Kurang Satu Syarat, Pulau G Dua Syarat

  • Adik Bos First Travel Ikut Jadi Tersangka
  • Penembakan Deiyai, Tujuh Anggota Brimob dan Kapolsek Akan Jalani Sidang Etik Pekan Depan
  • Tuntut Pembatalan Perppu Ormas, Ratusan Orang Demo DPRD Sumut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR