Para pecandu narkoba di Kabul direhab di Kamp Phoenix. (Foto: Ghayor Waziri)

Para pecandu narkoba di Kabul direhab di Kamp Phoenix. (Foto: Ghayor Waziri)

Pemerintah Afghanistan meluncurkan kampanye besar-besaran untuk mengumpulkan dan merelokasi pecandu narkoba di sekitar Kabul ke kamp rehabilitasi baru di kota itu.

Saat ini, ratusan pengguna narkoba berada di Kamp Phoenix, untuk memulai pengobatan agar bisa lepas dari kecanduan.

Ghayor Wazir mengunjungi kamp untuk mencari tahu lebih lanjut.

Para petugas mengunjungi Pol-E- Sokhta yang berada di barat Kabul, tempat berkumpulnya ratusan pecandu narkoba, setiap hari.

Mereka bertugas mengumpulkan pengguna narkoba di kota ini dan memindahkan mereka ke bekas pangkalan NATO, yang berjarak 10 kilometer dari pusat kota.

Kementerian Penanggulangan Narkotika, Kementrian Kesehatan dan Kementerian Ekonomi bekerja sama dalam program ini untuk memberikan pengobatan bagi pecandu narkoba di kamp itu.

“Kami siap untuk mengobati ribuan pecandu narkoba di kamp ini. Langkah ini akan berperan penting dalam menanggulangi pemakaian narkotika di negara kita. Kami akan membuka kamp lain di Afghanistan timur, yang bisa mengobati ribuan pecandu. Kami menyediakan layanan bagi para pecandu obat-obatan yang hidup dalam situasi buruk,” kata Menteri Penanggulangan Narkotika, Salamat Azimi.

Gul Aqa yang berusia 35 tahun telah mencoba berbagai obat-obatan terlarang, mulai dari morfin hingga opium, selama tiga tahun terakhir.

Beberapa jari-jarinya terbakar akibat api saat sedang memakai narkoba.

“Saya ingin sembuh sehingga bisa kembali menjalani hidup seperti dulu. Tidak ada yang menawarkan bantuan pengobatan sebelumnya. Jadi saya senang bisa masuk ke pusat rehabilitasi ini,” kisah Gul.

Dalam beberapa hari, ratusan pengguna narkoba dikumpulkan dari jalanan dan pindah ke Kamp Phoenix.

Dari luar, kamp itu seperti pangkalan militer, tapi di dalamnya terdapat kamar-kamar yang modern dan bersih.

Di sini para pecandu narkoba di kota Kabul akan direhabilitasi dan dilatih keterampilan seperti pertukangan dan melukis.

Menteri Kesehatan Ferozuddin Feroz mengatakan mereka berencana untuk membantu sebanyak  mungkin pengguna.

“Kami ingin mengumpulkan para pecandu narkoba yang tunawisma, diabaikan keluarga dan hidup di jalanan. Kampanye ini akan terus berjalan selama beberapa hari mendatang. Di sini selain direhab, mereka juga akan dilatih berbagai keterampilan untuk merangsang pikiran mereka dan mendorong mereka menjauhi narkoba.”

Bermain alat musik adalah salah satu bentuk terapi di Kamp Phoenix karena dianggap bisa membantu mereka melupakan persoalan yang dihadapi.

Habiballah yang berusia 30 tahun adalah bekas tentara di Angkatan Darat Afghanistan. Ia bertugas di Provinsi Helmand yang dilanda perang. Dia mulai menggunakan narkoba untuk mengatasi tekanan akibat pertempuran melawan Taliban.

“Sebelum menjadi pecandu, saya tentara yang bertugas di Provinsi Helmand. Selama pertempuran dan pemberontakan di sana, saya mengalami stres secara mental. Itu sebabnya saya mulai menggunakan narkoba. Ketika mulai kecanduan, hubungan saya dengan istri, anak perempuan dan keluarga lainnya rusak. Dan saya juga harus keluar dari ketentaraan. Saya tidak tahu di mana keluarga saya sekarang. Sejauh ini pengobatan berjalan baik. Saya merasa bahagia dan sehat dan berharap bisa hidup normal lagi,” tutur Habiballah.

Tapi tidak setiap pengguna narkoba suka dibawa ke Kamp Phoenix. Beberapa pecandu yang hidup di kolong jembatan di bagian barat Kabul menolak untuk pindah.

Pengguna narkoba kambuhan Mohammad Yasin, menjadi pecandu morfin ketika tinggal sebagai pengungsi di Iran 12 tahun lalu.

“Saya pernah direhabilitasi dan berhenti mengonsumsi narkoba. Tapi ketika saya jadi pengangguran selama berbulan-bulan, saya mulai pakai lagi. Ketika saya tidak punya uang untuk membeli narkoba, saya menjadi pengedar dengan imbalan narkoba gratis. Pecandu kadang juga mencuri dari toko, rumah dan warga untuk mendapat uang.”

Menurut pemerintah ada sekitar 3,5 juta orang pecandu narkoba di Afghanistan.

Aktivis masyarakat sipil mengatakan kampanye pemerintah ini merupakan cara yang baik untuk mencegah produksi dan penyelundupan narkoba di seluruh negeri.

Tapi bagi negara seperti Afghanistan yang merupakan salah satu produsen narkotika terbesar di dunia, tidak akan mudah bagi para pecandu menghentikan kebiasaannya itu.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!