Peserta festival Mitra Netra sedang unjuk kebolehan. (Foto: Kate Lancaster)

Peserta festival Mitra Netra sedang unjuk kebolehan. (Foto: Kate Lancaster)

Yayasan Mitra Netra, sebuah yayasan yang ingin meningkatkan kualitas hidup penyandang tuna netra, belum lama ini mengadakan festival tahunan kedua di Jakarta.

Festival ini memberikan kesempatan kepada para siswa tuna netra untuk menunjukkan keahlian baru dan meningkatkan kepercayaan diri mereka.

Kate Lancaster hadir dalam acara itu dan melihat bakat para siswa di festival itu. 

Di sebuah acara bagi penyandang tuna netra di Jakarta, sekelompok siswa sudah tidak sabar menanti giliran untuk tampil.

Setiap siswa memegang bahu siswa lain yang berada di depannya ketika naik ke atas pentas.

Di atas pentas, mereka membawakan kisah Putri dan Kacang Polong dalam bahasa Inggris. 

Kisah ini menjadi simbol tentang kekuatan perasaan, bukan penglihatan.

Ada sekitar 70 siswa tuna netra, dari anak-anak hingga remaja, yang hadir untuk unjuk kebolehan. Mulai dari kemampuan bercerita dalam bahasa Inggris, bermain musik hingga matematika.

Festival ini pertama kali diadakan LSM Yayasan Mitra Netra tahun lalu. Mereka ingin memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan bakat mereka.

Bambang Basuki adalah ketua Yayasan Mitra Netra dan juga penyandang tuna netra. Dia tahu bagaimana tantangan yang dihadapi para penyandang cacat.

Bambang bercerita pertama kali mengalami diskriminasi saat melamar menjadi guru dan dia ditolak karena buta.

“Saya punya harapan dan semangat untuk menjadi guru dan saya ingin jadi guru. Tapi semuanya menurun karena ada dikriminasi.”

Kurangnya dukungan dari sekolah-sekolah, menginspirasi Bambang untuk memulai Yayasan Mitra Netra.

“Sekolah-sekolah itu akan bilang ‘ya itu hak Anda tapi kami tidak bisa mengakomodasi kebutuhan khusus Anda.’ Dari situ saya menyadari kalau perlu ada sebuah organisasi,” kata Bambang.

Bambang mengatakan festival ini diadakan untuk meningkatkan rasa percaya diri para siswa dan tentunya ada hadiah bagi penampilan terbaik.

Fasilitas bagi para penyandang tuna netra sangat terbatas terutama di sekolah-sekolah.

“Menyediakan kebutuhan para penyandang tuna netra masih merupakan masalah bagi kami. Terutama karena makin banyak anak yang bersekolah dan makin banyak siswa yang harus diakomodasi. Ini tantangannya,” tambah Bambang. 

Untuk mengatasi masalah itu, Mitra Netra bekerja sama dengan sekolah-sekolah dan orang tua yang punya anak penyandang tuna netra selama lebih dari 25 tahun.

Anak-anak belajar mata pelajaran akademik dan non-akademik di Mitra Netra untuk melengkapi apa yang sudah mereka pelajari di sekolah. 

Di yayasan ini, para siswa diajarkan cara membaca huruf Braille, memainkan musik, dan berbicara dalam bahasa Jerman dan Inggris.

Salah satunya adalah Desvita yang berusia 10 tahun.

Dia sudah belajar bahasa Inggris di sini selama enam bulan dan sangat ingin memamerkan kemampuannya. Dia bercerita kalau dia suka bermain piano dan menyanyi.

Yayasan Mitra Netra juga memberikan pendidikan dan bantuan kepada keluarga yang punya anak tuna netra.

Yayasan ini yakin pemahanan orangtua orang yang makin baik merupakan bentuk investasi di masa depan.

Putra Darujah berusia 14 tahun dan sudah belajar di Mitra Netra selama tujuh tahun. Dia bercerita perubahan apa yang dialami anaknya.

“Anak sayakan tadinya emosinya tinggi. Emosinya sekarang stabil sudah nga marah-marah terus. Tadinya nakal sekarang sudah tidak nakal.”

Berbicara di ulang tahun Asosiasi Penyandang Cacat Indonesia belum lama ini, pemerintah berjanji menjamin kesempatan pendidikan bagi para penyandang tuna netra, seperti siswa lainnya. 

Sementara Pemerintah baru pada sebatas rencana, Mitra Netra sudah memulainya sejak lama.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!