Unjuk rasa komunitas Dalit meningkat di India. (Foto: Bismillah Geelani)

Unjuk rasa komunitas Dalit meningkat di India. (Foto: Bismillah Geelani)

Di India, komunitas Dalit atau yang kerap disebut ‘tak tersentuh’ merasa sangat marah.

Mereka melakukan unjuk rasa besar-besaran setelah sekelompok pemuda Dalit menjadi korban kekerasan brutal. Pelakunya adalah Kelompok Perlindungan Sapi, kelompok nasionalis Hindu, di negara bagian Gujarat.

Seperti yang dilaporkan Bismillah Geelani, demonstrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini dilihat sebagai awal pemberontakan terhadap sistem kasta yang sudah berusia berabad-abad.

Di jalanan Jantar Mantar New Delhi, aksi duduk ratusan pelajar dan pengajar Dalit masih berlangsung.

Tiba-tiba sejumlah besar aktivis dari kelompok nasionalis Hindu muncul. Mereka membawa tongkat dan batang besi.

Awalnya mereka mencaci maki para pengunjuk rasa dengan kata-kata kotor lalu menyerang secara fisik. Puluhan polisi yang bertugas menjaga aksi protes hanya menonton.

Ratan Lal, dosen di Universitas Delhi yang berusia 40 tahun, adalah salah satu pengunjuk rasa Dalit.

“Serangan seperti ini menunjukkan meningkatnya frustrasi terhadap perlawanan Dalit. Mereka ingin agar kami orang Dalit tetap diperbudak seperti yang mereka lakukan selama berabad-abad. Tapi sekarang sudah abad 21 dan kami tidak lagi menerima perbudakan semacam ini,” tekad Ratan Lal.

Aksi protes di New Delhi ini adalah bagian dari kampanye nasional komunitas Dalit. Tujuannya menuntut segera diakhirinya kekejaman yang terus terjadi terhadap mereka.

Unjuk rasa ini dipicu sebuah video yang diunggah ke You Tube oleh Gau Rakhsha Samiti atau Komite Perlindungan Sapi awal bulan ini. Mereka adalah anggota kelompok Nasionalis Hindu.

Dalam video itu tampak sekelompok pemuda Dalit yang diikat ke sebuah kendaraan. Lalu mereka diseret, disiksa dan dipukuli dengan batang besi untuk menguliti sapi mati.

Video itu langsung beredar luas dalam beberapa jam dan memicu kemarahan dan protes besar-besaran dari kaum Dalit di seluruh negeri.

Puluhan pemuda Dalit mencoba bunuh diri setelah menonton video itu - bahkan satu orang meninggal.

Di negara bagian Barat, Gujarat, tempat peristiwa itu terjadi, komunitas Dalit mengungkapkan kemarahan mereka dengan cara yang tidak pernah terpikirkan. Mereka melemparkan sapi mati ke depan kantor-kantor pemerintah.

”Anda menyembah sapi tapi ketika sapi itu mati Anda melemparkannya pada kami. Anda menyuruh kami membersihkannya.Karena itu Anda menyebut kami ‘tak tersentuh’. Apa yang kami lakukan sekarang adalah melemparkannya kembali kepada Anda dan silahkan menyembahnya dengan cara yang Anda inginkan. Ini adalah cara yang demokratis untuk mengklaim hak kesetaraan,” kata Bezwada Wilson, kepala komunitas Dalit.

Banyak yang melihat protes ini sebagai awal pemberontakan Dalit di India.

Vivek Kumar adalah profesor di Pusat Studi Sistem Sosial yang berbasis di New Delhi.

Menurutnya kekejaman terhadap kaum Dalit terus meningkat dan tidak diragukan ini memicu kemarahan di kalangan masyarakat.

Tapi pemberontakan terbaru ini, kata Kumar, berbeda. Komunitas Dalit merasa sudah cukup kekerasan yang mereka terima dan ini berdampak pada masa depan India.

Dalit punya basis suara utama di negara bagian Uttar Pradesh. Dan awal tahun depan akan diadakan pemilu memilih anggota majelis di sana.

Masalah ini sangat mungkin dipolitisasi, dimana wakil dari hampir semua partai oposisi mengunjungi para korban.

Di tengah interupsi yang bertubi-tubi, Menteri Dalam Negeri Rajanath Singh mengatakan kepada anggota parlemen kalau pemerintah telah bertindak. Termasuk menangkap, memecat anggota polisi yang terlibat dan membayar kompensasi kepada para korban.

Tapi Menteri Singh tidak mengatakan apa-apa soal rencana pemerintah untuk mengakhiri serangan kekerasan atas nama perlindungan sapi ini.

Gau Raksha atau Kelompok Perlindungan Sapi menjamur di seluruh negeri sejak pemerintah memperkenalkan larangan penyembelihan sapi tahun lalu.

Setidaknya tujuh Muslim tewas dalam serangan terhadap pedagang hewan dalam satu tahun terakhir.

Aktivis sosial, Kavita Krishnan, mengatakan otoritas berkuasa diam-diam setuju dengan aksi kelompok itu. Menurutnya ada pola yang ingin menggunakan masalah ini untuk memicu kekerasan kasta.

“Jika Anda masuk ke YouTube, Anda akan menemukan puluhan video semacam itu. Dan Anda juga bisa melihat bagaimana hal itu dilakukan dengan dukungan penuh dari polisi,” ungkap Krishnan.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!