Sekitar lima ton bawang dibuang di sepanjang jalan di Madya Pradesh, India. (Foto: Shuriah Niazi)

Sekitar lima ton bawang dibuang di sepanjang jalan di Madya Pradesh, India. (Foto: Shuriah Niazi)

Di negara bagian India Tengah, Madhya Pradesh, bawang merah memicu terjadinya kekacauan. 

Para petani bawang membuang hasil panen mereka atau menjualnya dengan harga yang sangat rendah.

Para petani menanam lebih banyak bawang tahun ini setelah harga komoditi ini cukup tinggi tahun lalu. Akibatnya panen berlimpah dan harga jatuh.

Kita simak kisah selengkapnya yang disusun Shiriah Niazi berikut ini.

Di kota Indore, para petani sedang berunjuk rasa menentang jatuhnya harga karena melimpahnya pasokan bawang merah.

Sekitar lima ribu kilo bawang dibuang di sepanjang jalan di Madya Pradesh. Akibatnya lalu lintas terganggu.

Tahun lalu, bawang dijual dengan harga tertinggi mencapai 16 ribu rupiah per kilo. Ini mendorong petani beralih menanam komoditas bawang.

Tapi tahun ini, perubahan harga yang drastis sangat memukul petani kata petani bawang, Makhan Patel.

“Kami kehilangan uang karena menanam bawang dan tidak mendapat apapun dari panen ini. Harganya hanya 20 sen per kilo dan ini membuat kami sulit balik modal dan bertahan hidup,” jelas Makhan Patel. 

Bawang merah adalah bumbu yang penting dalam makanan India. Di masa lalu, harga bawang yang tinggi memicu kerusuhan dan kemarahan. Tapi tahun ini, yang terjadi sebaliknya.

“Ketika harga bawang tinggi, pemerintah menghentikan semua ekspor. Pemerintah bahkan menggerebek tempat petani dan pedagang sehingga semua cadangan bawang bisa dijual ke pasaran. Tapi tahun ini sebaliknya. Belum ada yang maju untuk membantu petani yang merugi besar,” jelas petani bernama Raj Patidar.

Sebagai tanda solidaritas dengan para petani yang merugi, oposisi Partai Kongres belum lama ini melakukan unjuk rasa menuntut harga bawang dinaikkan.

Para petani merasa langka dan tingginya harga bawang dalam beberapa tahun belakangan ini, mendorong mereka untuk menanam lebih banyak bawang tahun ini.

Rajendra Sharma adalah Presiden Asosiasi Bawang dan Kentang India.

“Para petani menderita karena selama dua atau tiga tahun terakhir harga bawang cukup tinggi. Mengantisipasi permintaan bawang yang tinggi, petani menanam lebih banyak bawang tahun ini. Akibatnya panen melimpah dan harga jadi jatuh,” kata Rajendra Sharma.

April lalu, Perdana Menteri India, Narendra Modi, meluncurkan skema E-mandi.

Skema ini menggabungkan 600 pasar sayuran di seluruh negeri di bawah Portal Pasar Pertanian Nasional. Di sini, petani bisa menjual produk mereka dengan harga yang pantas.

Namun para ahli mengatakan inisiatif ini tidak benar-benar bermanfaat bagi petani, yang tidak mampu menanggung ongkos distribusi.

Kembali Rajendra Sharma.

“E-mandi tidak akan membantu petani India dalam situasi apapun. Inisiatif seperti ini lebih membantu di negara maju. Di sana setiap produk dinilai dan dibawa ke pasar. Di sini banyak petani hanya punya sedikit lahan sehingga mereka tidak akan diuntungkan dengan skema ini.”

Mereka yang paling diuntungkan dalam krisis bawang ini adalah tengkulak, yang tidak akan menjual bawang dengan harga serendah itu.

Ini artinya petani menderita karena harga bawang rendah tapi di sisi lain, konsumen tidak benar-benar menikmati harga yang rendah.

Pembeli seperti ibu rumah tangga Hemlata Agrawal yakin, petani seharusnya bisa melakukan lebih baik.

“Tengkulak dan pedagang adalah pihak yang paling diuntungkan. Mereka memanfaatkan situasi. Tidak ada petani atau konsumen yang diuntungkan,” kata Hemlata Agrawal. 

Awal Juni lalu, pemerintah negara bagian Madhya Pradesh memutuskan untuk turun tangan.

Mereka membeli bawang dengan harga 10 sen per kilo tapi mereka tidak mampu membeli semuanya.

Dengan sejarah tingginya angka bunuh diri di kalangan petani di negara bagian itu, para pakar khawatir krisis ini akan memicu depresi di kalangan petani. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!