Pegawai Causeway Bay Books Lam Wing-kee (ki), setelah kembali dari daratan Tiongkok, menghadiri konf

Pegawai Causeway Bay Books Lam Wing-kee (ki), setelah kembali dari daratan Tiongkok, menghadiri konferensi pers di Hong Kong, Kamis (16/6). (Foto: Antara)

Akhir Oktober tahun lalu, Gui Minhai, terlihat sedang duduk di apartemen yang menghadap pantai di Thailand. Lalu pegawai penerbitan di Mighty Current ini menghilang. Beberapa pekan setelah itu, empat warga Tiongkok yang juga pegawai penerbitan di Hong Kong juga menghilang.

Diyakini, mereka ditangkap agen Tiongkok karena buku-buku  mereka yang mengritik anggota senior Partai Komunis Tiongkok. 

Namun pekan lalu, salah satu pegawai penerbitan bernama Lam Wing-kee dibebaskan. 

Dia bercerita pada para jurnalis di Hong Kong bagaimana matanya ditutup, dinaikan ke atas kereta api, diinterogasi dan dimasukkan ke dalam kamar berukur kecil selama berbulan-bulan. 

Tapi Lam dibebaskan dengan syarat kembali ke daratan Tiongkok membawa data para pelanggan yang membeli buku di tokonya, Causeway Bay Books.

Sementara itu fakta yang melingkupi hilangnya Gui, warga negara Swedia, masih belum diketahui.

Koresponden Asia Calling KBR, Ric Wasseman, menyusun laporannya dari Stockholm.

Angela Minhai memberi kesaksian soal ketakutannya kalau ayahnya diculik dari rumahnya di Pattaya, Thailand, sembilan bulan lalu. Ini dia sampaikan pada komite kongres Amerika Serikat 

“Dalam apa yang disebut pengakuan, ayah saya mengaku melakukan perjalanan ke Tiongkok secara sukarela. Jika ini benar kita bisa mempertanyakan mengapa tidak ada catatan dia telah meninggalkan Thailand. Hanya sebuah lembaga negara yang bisa melakukan hal seperti ini,” kata Angela.

Gui Minhai adalah warga negara Swedia.

“Ayah menelepon saya. Tapi dia tidak bilang ada dimana. Perlakuan apa yang dia terima atau apa status hukumnya. Terutama karena ayah saya adalah warga negara Swedia,” kata Angela.

Obat-obatan dan pakaiannya juga tidak dibawa. Gui menelpon putrinya dari Tiongkok dan meminta dia tutup mulut atas kasus ini.

Lalu Gui muncul di Televisi negara Tiongkok dan mengaku kalau terlibat dalam sebuah tabrak lari 10 tahun silam.

Putrinya yakin semua itu hanya rekayasa.

Kementerian Luar Negeri Swedia sejauh ini belum membuat langkah maju. 

“Kami terus meminta klarifikasi soal kasus ini dan ingin tahu bagaimana kondisi warga kami. Kami terus meminta agar bisa menemui dia,” papar Humas Kementrerian Luar Negeri Swedia, Anna Ekberg.

Pemerintah Swedia terakhir kali diberi izin mengunjungi Gui pada 24 Februari lalu.

Swedia adalah patner dagang terbesar Tiongkok di Skandinavia. 

Mereka menggunakan pendekatan yang mereka sebut diplomasi tenang.

“Kami beberapa kali bertemu pemerintah Tiongkok, Thailand dan Hong Kong soal masalah ini. Kami ingin bisa bertemu lagi dengan warga kami,” jelas Anna.

Pemerintah Swedia juga mengikuti perkembangan hilangnya pegawai penerbitan lain dan mengatakan mereka menunggu laporan dari negara yang terlibat.

Causeway Bay Books, tempat kerja Gui dan beberapa orang yang hilang, terkenal karena terbitannya yang cukup vulgar soal elit politik Tiongkok.

Penerbitan itu belum lama ini mencetak 100 ribu eksemplar buku soal kisah cinta Presiden Tiongkok, Xi Jinping.

Thailand, tempat Gui Minhai diduga diculik Tiongkok, diperintah oleh pemerintahan militer. Jadi sangat sulit untuk mendapatkan informasi, kata pegiat HAM Thailand, Pornpen Khongkachonkiet.

“Di Thailand tidak ada mekanisme yang tepat untuk membuat laporan. Itu sebabnya kami tidak tahu banyak bila ada orang yang diculik.” 

Amnesty International berupaya menyingkap kasus Gui Minhai sejak dia hilang. Sebelum dia, hilangnya Li Bo memicu aksi unjuk rasa di Hong Kong kata juru bicara Amnesty International di Hong Kong, William Nee.

Li memegang paspor Inggris.

“Ada beberapa aksi unjuk rasa terutama pasca hilangnya Li Bo. Ini sangat mengejutkan warga Hong Kong,” kata William Nee.

Hal semacam ini juga tidak pernah terjadi sebelumnya.

“Pada dasarnya ada warga Hong Kong yang dibawa. Tapi tidak jelas pelakunya apakah pemerintahan Tiongkok atau otoritas Hong Kong yang bekerja sama dengan Pemerintahan Tiongkok. Dan dia dibawa ke Tiongkok daratan. Ini sangat mengejutkan masyarakat,” jelas William Nee.

Penculikan ini jelas merusak kemerdekaan hukum di Hong Kong.

Selain itu ada beberapa keanehan dalam kasus-kasus ini. Seperti Gui Minhai, Li Bo juga mengatakan pada istrinya lewat surat kalau dia dengan sukarela pergi ke Tiongkok daratan.

Tapi dia meninggalkan surat izin kembali ke Hong Kong miliknya. Ini yang menyebabkan timbul dugaan dia diculik dan berada dibawah tekanan.

Hilangnya Gui Minhai, Li Bo dan tiga pegawai penerbitan lainnya, punya satu kesamaan, yaitu kebebasan berbicara.

Sementara pemerintah Tiongkok tampaknya berhasil mencapai tujuannya - membredel media.

Saya bertanya pada William Nee soal kondisi toko buku Causeway di Hong Kong.

“Mereka masih tetap buka. Tapi tidak lagi menjual buku-buku yang biasa mereka jual, yang kebanyakan adalah buku politik.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!