Bus Air di Kota Ho Chi Minh Jadi Moda Transportasi Alternatif

Apakah solusi ini bisa mengatasi mimpi buruk transportasi kota itu?

Minggu, 24 Des 2017 10:00 WIB

Bus air di Sungai Saigon Kota Ho Chi Minh. (Foto: Michael Tatarski)

Bus air di Sungai Saigon Kota Ho Chi Minh. (Foto: Michael Tatarski)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Jalanan padat, langit abu-abu, dan lalu lintas yang bergerak lambat, mungkin merupakan gambaran yang biasa ditemui bagi siapa saja yang tinggal atau mengunjungi kota-kota besar di Asia seperti Delhi, Manila, atau Jakarta.

Tapi Kota Ho Chi Minh di Vietnam mulai mengenalkan moda transportasi baru. Koresponden Asia Calling KBR, Michael Tatarski, mencari tahu apakah solusi ini bisa mengatasi mimpi buruk transportasi kota itu.

Lalu lintas adalah hal pertama yang menarik perhatian orang-orang yang berkunjung ke Kota Ho Chi Minh. Sepeda motor yang tak ada habisnya memenuhi setiap ruas jalan. Pada saat jam sibuk, motor sampai naik ke trotoar. Para pengendara memakai masker untuk melindungi diri dari polusi yang mencekik. 

“Tantangan utamanya karena semua orang sangat tergantung pada sepeda motor. Setidaknya setiap rumah tangga punya satu unit. Agar masyakarat berminat menggunakan transportasi umum, harus didorong perubahan perilaku dan gaya hidup mereka,” jelas Daisuke Mizusawa, pakar transportasi senior di kantor Bank Pembangunan Asia atau ADB di Hanoi.


Jumlah penduduk Kota Ho Chi Minh diperkirakan mencapai 13 juta jiwa.

Seperti banyak kota di Asia Tenggara, infrastruktur di kota harus berjuang menyesuaikan dengan jumlah manusianya. Seiring makin banyaknya orang pindah ke mari untuk mencari pekerjaan dengan gaji lebih tinggi.

Ada seribu mobil baru melaju di jalanan setiap hari dan ada lebih dari tujuh juta sepeda motor terdaftar yang berada di jalanan.

Ada kebutuhan mendesak untuk mengembangkan transportasi massal sebelum kota ini mampet.

“Di kota ini, ada sekitar 112 aliran air sepanjang seribu kilometer. Dibandingkan kota lain, Ho Chi Minh punya beberapa akses terbaik ke saluran air. Ini cocok untuk membuat transportasi air,” jelas Nguyen Van Len, ketua Saigon Waterbus. 

Dia percaya masa depan Kota Ho Chi Minh terletak pada transportasi berbasis air.

Bulan lalu, Saigon Waterbus yang dimiliki swasta meluncurkan bus air di Sungai Saigon. Ini  disambut dengan sukacita oleh warga.

Selama 10 hari pertama, perjalanan gratis. Tiket habis beberapa jam lebih awal karena penumpang antusias mencoba cara baru berkeliling kota. 

“Saya mencoba naik ini untuk membandingkannya dengan cara biasa. Jika kota terus mengembangkan layanan ini, tentunya akan menarik banyak orang. Karena bepergian lewat air selalu menjadi mimpi,” cerita salah satu penumpang Vo TheGia.

Len menambahkan warga Vietnam sangat mengapresiasi transportasi berbasis air.

“Orang Vietnam selalu mengatakan air dan tanah itu terhubung. Ini adalah elemen yang sangat penting bagi orang Vietnam. Dan kata untuk air dalam bahasa Vietnam juga berarti negara Vietnam. Itu yang mengilhami kami untuk membuat proyek ini.”


Bus air menjadi terobosan sederhana untuk dilema lalu lintas kota. Tapi jumlahnya masih terbatas, empat bus dengan kapasitas 80 kursi tiap busnya. Jadi ini seperti setetes air di tengah lautan kebutuhan transportasi kota.

Daisuke Mizusawa, pakar transportasi dari ADB, menjelaskan Kota Ho Chi Minh sedang berlomba menyelesaikan proyek transportasi berskala besar untuk mengurangi kemacetan lalu lintas. 

“Ini adalah isu yang sangat menantang di Vietnam dan negara-negara berkembang lainnya di Asia Tenggara. Di Thailand mereka pertama kali mengembangkan sistem MRT di Bangkok pada 1990-a. Saat itu hanya satu jalur yang dibangun dan tidak ada yang menggunakannya. Setelah itu Thailand secara agresif mengembangkan jaringan MRT dan kini kehidupan masyarakat sangat mengandalkan penggunaan MRT. Ini butuh waktu,” kata Daisuke.

Jalur metro pertama di Kota Ho Chi Minh diperkirakan akan selesai pada 2020, setelah bertahun-tahun mengalami penundaan. Sedangkan jalur lainnya masih dalam tahap perencanaan.

Masih banyak ruang untuk ekspansi, tapi jalur bus air pertama itu telah memberi penumpang cara baru untuk keluar dari kemacetan. 

“Kami membangun stasiun ini sehingga seperti pintu terbuka ke air. Ketika kita menciptakan infrastruktur untuk sistem ini, saya berharap ini juga akan mendukung transportasi berbasis air lainnya yang sesuai dengan visi kota,” tutur Nguyen Van Len.


 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Puasa kali ini bertepatan dengan masa kampanye pilkada 2018