[SAGA] Korban Rokok Pasif: Jantung Terasa Ditusuk Benda Tumpul

"Makin lama, makin ngumpul asap (rokok) itu. Saya merasa sesak. Jantung terasa ditusuk-tusuk benda tumpul. Karena enggak kuat, saya pingsan.”

Senin, 18 Des 2017 12:00 WIB

Arif Rahmad Hidayatullah (depan), korban rokok pasif. Foto: Istimewa.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Arif Rahmad Hidayatullah baru saja pulang joging. Saban hari, pemuda 25 tahun ini menyisihkan paginya berolahraga di sekitaran komplek rumah di kawasan Jatibening, Bekasi, Jawa Barat.

“Saya akhirnya rajin joging. Supaya memperkuat otot jantung. Hampir tiap hari jogging. Jaga pola makan dan tidur. Ya sayangi diri sendiri. Kalau enggak olahraga, nanti kena asap rokok, enggak kuat lagi nantinya,” tukas Arif.

Kebiasaan ini rutin dilakukan setelah dirinya ketahuan mengidap penyakit jantung pada usia muda; 19 tahun.

Kejadian itu dialami Arif saat kelas 2 SMK. Ketika ia datang ke pesta ulangtahun seorang kawan sekolahnya. Lantaran teman-temannya merokok, asap mengepul di dalam ruangan. Arif yang terkepung asap rokok, tiba-tiba tak sadarkan diri.

“Nakalnya anak SMA, banyak yang merokok. Pesta di luar, saya di dalam. Makin lama, makin ngumpul asap (rokok) itu. Saya merasa sesak. Jantung terasa ditusuk-tusuk benda tumpul. Karena enggak kuat, saya pingsan,” kenangnya.

Dari situ, orangtuanya membawa ke rumah sakit. Dokter lantas menarik simpulan jika jantungnya lemah. Anak ketiga dari empat bersaudara ini pun disarankan menghindari pemicunya; asap rokok.

“Dokter narik kesimpulan, sakit jantung tapi kambuh kalau terpapar asap rokok. Jadi dikasih obat sebagai peringan sakit. Dan disarankan menghindari lingkungan seperti itu (asap rokok).”

Selama dua tahun, lulusan Sekolah Tinggi Teknologi Sapta Taruna ini harus mengonsumsi belasan obat. Plus terapi ke Bandung, Jawa Barat. Rohana (55) ibunya, mengatakan anak laki-lakinya itu kini memilih menjauh jika ada perokok.

“Begitu dia sadar, kalau ada perokok dia menghindar. Mau ditawarin merokok, diajak merokok pasti menolak. Jadi dia pilih-pilih teman,” ujar Rohana.

Pilihan menjauh atau menghindari perokok, kata Arif, terpaksa dilakukan. Ia sadar, kalau sampai terpapar asap rokok kesehatannya jadi taruhan.

“Pada akhirnya karena saya enggak mau merasakan pengobatan yang lama, saya sadar diri. Teman-teman yang merokok saya jauhi. Kalau mereka mendekat, enggak usah merokok deh. Merugikan gua,” pungkas Arif.

Tapi di sisi lain, ia juga tak ingin teman-temannya bernasib sama. Pada 2011, Arif lalu masuk dalam Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI) dan mulai kampanye tentang bahaya merokok.

“Di kuliah dan kantor, teman saya sampai edukasikan ke yang lain. Bikin klub untuk berhenti merokok. Jadi dialihkan bersepeda gitu.”


      (Muhammad Nur Fajar Ghifari, mantan perokok. Foto: Istimewa)


Muhammad Nur Fajar Ghifari, salah satu kawannya di SMK Hutama Pondok Gede. Pemuda 24 tahun ini sudah menjajal rokok sejak Kelas 5 Sekolah Dasar (SD).

Tapi kebiasaannya merokok kian menjadi, sewaktu SMP. Nongkrong setiap hari di rental Play Station, Fajar melihat kawannya begitu asyik mengisap tembakau. Mula-mula ia mencoba satu batang, lalu bertambah sebungkus. Kelamaan, sehari bisa tiga bungkus. Dan meski sudah dinasihati kawannya, Arif, ia tak peduli.

“Kalau awalnya (berhenti merokok) dinasihati teman. Dia katanya sakit jantung karena perokok pasif. Kata dia, ‘lu ngapain sih ngerokok di sini? Gua lagi sakit nih..’ Ya gua cuek aja. Gua enggak percaya masih SMA sakit jantung," kenang Fajar.

"Seiring waktu, gua agak kena musibah. Sakit. Enggak bisa napas pas pulang sekolah. Sesak napas. Sampai dibawa ke RS sama nyokap. Nah di situ, agak berhenti,” tambahnya.

Fajar bahkan tak juga jeri, ketika ketahuan merokok dan dihukum orangtuanya. Namun Arif yang tak henti menasihati temannya itu, akhirnya berhasil membuat Fajar stop merokok.

“Mulai ngurangin dari dua bungkus jadi sebungkus. Lama-lama lima batang lalu berhenti. Nah sekarang bedanya kayaknya badan enteng.”

Dua tahun berhenti merokok, Fajar merasakan perbedaan di tubuhnya. Napas tak lagi sesak dan kian rajin berolahraga.

Sementara Arif, berpesan kepada perokok agar tahu tempat ketika merokok. Supaya orang sepertinya, tak ketiban sial kena penyakit. Sedang bagi industri rokok, berhenti meracuni masyarakat.

“Kalau mau merokok, tolong jaga kesopanan. Jangan sampai yang tidak merokok dapat paparan asap rokok. Rokok itu mengandung zat berbahaya. Silakan merokok tapi jangan merugikan orang lain. Untuk industri rokok, kami jadi korban dan biayanya banyak. Haruskah saya minta ganti rugi sama industri rokok?" tukas Arif.




Editor: Quinawaty
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Selama ini kita sering mendengar berita mengenai orang yang meninggal akibat penyakit diabetes, sehingga menjadikan diabetes sebagai salah satu penyakit yang ditakuti.