Perubahan Iklim dan Pembangunan Tiongkok Bahayakan Ekosistem Tibet

Warga Tibet telah menentang pendudukan Tiongkok sejak 1959.

Minggu, 26 Nov 2017 19:00 WIB

Presiden Tibet di pengasingan Lobsang Sangay. (Foto: Ric Wasserman)

Presiden Tibet di pengasingan Lobsang Sangay. (Foto: Ric Wasserman)

Tibet kerap disebut kutub ketiga karena memiliki cadangan air tawar terbesar setelah kutub utara dan selatan. Tapi daerah itu mengalami dampak perubahan iklim dan proyek bendungan besar-besaran yang dipimpin Tiongkok.

Presiden Tibet di pengasingan, Lobsang Sangay, belum lama ini melakukan tur ke Eropa. Dia ingin meminta dukungan internasional dalam menghadapi pendudukan dan eksploitasi ekonomi oleh Tiongkok. 

Dari Swedia, koresponden Asia Calling KBR, Ric Wasserman, berbincang dengan Presiden Tibet di pengasingan, Lobsang Sangay.

Presiden Tibet di pengasingan, Lobsang Sangay, berbicara di depan anggota parlemen Swedia pertengahan November lalu. Tanpa basa basi dia mengatakan: Tiongkok sedang menjarah sumber air alami Tibet. Perubahan iklim mencairkan gletser. Maka efeknya akan sangat menghancurkan.

“Gletser Tibet mencair sangat cepat. Dalam 100 tahun terakhir 50 persen gletser telah hilang. Dari 46 ribu gletser yang tersisa saat ini, sepertiganya  akan hilang pada 2100,” papar Presiden Lobsang. 

Saat gletser Tibet meleleh, air dengan cepat mengalir ke Asia Selatan dan Asia Tenggara. Tapi seiring waktu, gletser akan menyusut dan airnya mengering.

“Sumber air akan meningkat untuk sementara waktu karena glestser yang mencair. Tapi dalam jangka panjang itu tidak baik karena saat gletser lenyap kita punya masalah besar. Bukan hanya untuk kawasan tapi seluruh dunia,” jelas Profesor Deliang Chen, peneliti gletser dari Akademi Sains Tiongkok. 

Menurut penelitian yang dilakukan PBB, hampir setengah dari populasi dunia bergantung pada air yang mengalir dari sungai-sungai di Dataran Tinggi Tibet ke daerah tangkapan air di seluruh Asia.

Tiongkok menguasai Dataran Tinggi Tibet. Dengan meningkatnya ketegangan hubungan India dan Tiongkok, para ahli khawatir air akan digunakan sebagai senjata.

“1,4 miliar orang bergantung pada air segar yang mengalir dari Tibet. Ini adalah krisis besar,” kata Presiden Lobsang. 

Untuk memenuhi rasa haus yang tak terpuaskan, Tiongkok berencana untuk mengalihkan air dari Sungai Brahmaputra, yang berada di Tibet ke provinsi Xinjiang. Ini membuat aliran sungai itu akan melenceng dari jalur alami yang menyediakan air bagi India dan Bangladesh.

Selama tujuh tahun terakhir, Tiongkok telah membangun empat bendungan di sepanjang Sungai Brahmaputra di Tibet. Bendungan ini telah mengganggu ekosistem lokal dan berdampak signifikan di hilir, seperti menghentikan aliran lumpur dan membuat lahan pertanian jadi kurang subur.

Bhu Dhondop, seorang anggota komunitas Tibet di pengasingan di Swedia adalah pemandu gunung. Dia melihat desa-desa Tibet yang hancur dan masyarakatnya dipindahkan secara paksa demi pembangunan bendungan.

“Bendungan-bendungan besar sedang dibangun di sungai-sungai besar di Tibet oleh pemerintah Tiongkok. Ini demi kepentingan industri negara itu. Untuk memprotes dan mengkritik pemerintah Anda rasanya hampir tidak mungkin,” tutur Bhu Dhondup.

Human Rights Watch melaporkan hampir dua juta orang Tibet dipaksa pergi dari tanah mereka antara 2006 hingga 2013 untuk mewujudkan pembangunan proyek milik Tiongkok itu.

Warga Tibet telah menentang pendudukan Tiongkok sejak 1959. Dua tahun lalu, sebuah demonstrasi dengan kekerasan terjadi di ibukota Tibet, Lhasa.

Rakyat Tibet menuntut hak untuk menentukan nasib sendiri. Mereka menentang kontrol Tiongkok dengan alasan telah terjadi pelanggaran HAM, diskriminasi etnis, penutupan vihara, masuknya orang Tiongkok Han, dan hilangnya rumah mereka.

Sejak 2014, lebih dari 150 orang Tibet melakukan aksi bakar diri - sebuah tindakan penganut Buddha melawan hegemoni Tiongkok.

Pada Kongres Partai Komunis Tiongkok ke-19 belum lama ini, Presiden Xi Jinping dengan tegas menyatakan separatisme tidak akan ditolerir. Ini adalah pesan yang jelas untuk Taiwan, Hong Kong dan Tibet. Situasinya bisa menjadi lebih represif di bawah kekuasaan Xi.

Saat tur Eropanya baru-baru ini, Presiden Tibet di pengasingan, Lobsang Sangay, meminta dukungan internasional. Dia menyoroti dan membandingkan citra Tibet dan Tiongkok. Tibet  penuh dengan kemurnian spiritual dan lingkungan; sementara Tiongkok menghancurkan lingkungan dan membungkam perbedaan pendapat.

“Apakah Anda mendukung anti-kekerasan atau kekerasan? Keadilan atau ketidakadilan? Mahatma Gandhi atau Mao Tse Tung? Dalai Lama atau Xi Jinping? Apakah Anda mendukung cara demokrasi atau tidak demokratis? Jika Anda tidak mendukung kami, itu akan terlihat,” kata Presiden Lobsang. 

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Kuasa Hukum Tak Bisa Janjikan Setnov Hadir di Sidang Tipikor Besok

  • Kakorlantas: Tim Pengkaji Pemindahan Ibu Kota Negara Masih Bekerja
  • Disnaker Sulut: Perusahaan Jangan Lupa Bayar THR
  • Lakukan Percobaan Penyuapan, Ketua DPRD Halteng Ditahan