Keselamatan Kerja

Pasalnya UU itu hanya menjatuhkan sanksi 3 bulan penjara dan denda Rp 100 ribu bagi perusahaan yang lalai.

Rabu, 01 Nov 2017 05:06 WIB

Kebakaran pabrik kembang api di Kosambi, Bekasi

Kebakaran pabrik kembang api di Kosambi, Bekasi (Foto: Antara/Muhammad Iqbal)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Sebanyak 49 nyawa pekerja melayang akibat kebakaran di lokasi pabrik kembang api di Kosambi Kabupaten Tangerang, Banten. Kepolisian menetapkan 3 orang sebagai tersangka - pekerja,  pengelola dan pemilik pabrik. Kepolisian menjerat mereka dengan pasal Undang-Undang Pidana dan juga Ketenagakerjaan. Pasal dalam UU Pidana dan Ketenagakerjaan itu sama-sama mengancam kurungan penjara 5 tahun bagi tersangka yang lalai, yang menyebabkan hilangnya nyawa dan mempekerjakan anak.   

Kebakaran itu pula yang menjadi bahasan rapat kerja DPR dengan Kementerian Tenaga Kerja kemarin. DPR mendesak pemerintah segera merevisi Undang-Undang tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Kata DPR, sanksi dalam aturan itu tak lagi relevan. Pasalnya UU itu hanya menjatuhkan sanksi 3 bulan penjara dan denda Rp 100 ribu bagi perusahaan yang lalai. Ancaman yang ringan itu, menurut DPR, jadi sebab perusahaan abai dengan keselamatan pekerja.

Revisi aturan yang berusia hampir 50 tahun itu bisa jadi keniscayaan. Butuh waktu yang tak sebentar untuk merevisi sebuah undang-undang. Saat ini yang mendesak adalah melakukan evaluasi terhadap pengawasan keselamatan kerja yang dilakukan kementerian atau dinas ketenagakerjaan. Para petugas negara itu mesti mengecek lagi perusahaan-perusahaan terutama yang berisiko tinggi terjadi kecelakaan kerja.

Catatan BPJS Ketenagakerjaan pada 2015 kasus kecelakaan kerja mencapai lebih 100 ribu kasus dengan korban meninggal dunia sebanyak lebih dari 2.375 orang. Pemerintah bisa mulai dengan menggandeng serikat pekerja untuk memastikan perusahaan menjamin kesehatan dan keselamatan pekerjanya. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau