Kepopuleran Obat-obatan Herbal di Afghanistan

Di abad ke-15, ibu kota Afghanistan, Kabul, dikenal sebagai pusat produksi dan ekspor obat-obatan herbal.

Senin, 02 Okt 2017 08:10 WIB

Pedagang obat-obatan herbal di Kabul Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Pedagang obat-obatan herbal di Kabul Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Di abad ke-15, ibu kota Afghanistan, Kabul, dikenal sebagai pusat produksi dan ekspor obat-obatan herbal. Kini, enam abad kemudian, pengobatan herbal masih populer di negara itu.

Koresponden Asia Calling KBR, Ghayor Waziri, mengunjungi pasar obat herbal di Kabul untuk mencari tahu lebih jauh.

Di kota tua Kabul yang padat, puluhan toko berjajar memajang tumpukan rempah-rempah kering berwarna-warni. Wangi mereka memenuhi udara di sekitarnya.

Para pemilik toko adalah pemeluk Hindu. Mereka memakai turban merah, biru dan hitam, dan memiliki jenggot panjang dan lebat.

Mereka mengatakan sudah membuat dan menjual obat-obatan tradisional di sini selama beberapa generasi.

Darmander Singh adalah seorang tabib Hindu. Orang-orang di sini memanggilnya La La Dil Soz, yang berarti ‘Kakak yang baik’ dalam bahasa Persia.

Dia menerima lebih dari 30 pasien dalam seminggu. Dia akan menanyakan pertanyaan rinci tentang tubuh mereka sebelum mengobati mereka dengan kreasi obatan-obatan herbalnya.

Singh adalah satu dari seratus tabib Hindu di Kabul yang menggunakan pengobatan herbal.

“Pengobatan ini sudah berumur ratusan tahun tapi masih relevan sampai sekarang. Obat-obatan herbal mendapat hasil positif hampir 100 persen dan  tanpa efek samping. Itu sebabnya orang-orang masih mendatangi kami dan mengajak keluarga mereka,” tutur Singh.



Di Afghanistan, obat-obatan herbal dikenal dengan ‘'pengobatan Yunani’. Karena pengobatan ini dibawa ke Afghanistan dari Yunani. Banyak yang percaya pengobatan herbal ini masuk bersamaan dengan serbuan Alexander Agung Makedonia pada tahun 330 SM.

Sekarang, sebagian besar praktisi pengobatan herbal adalah orang-orang Hindu, yang nenek moyang mereka berasal dari India dan tiba di Afghanistan sekitar 300 tahun silam.

Di salah satu toko di sini, Saifulla Alokozy sedang membuat obat herbal.

“Seperti yang Anda lihat sekarang, saya sedang membuat obat kuat untuk lak-laki. Ini terbuat dari lima ramuan berbeda,” jelas Alokozy.

Tanaman seperti kunyit, jinten, ketumbar, akar manis, zaitun, dan bawang putih dipisahkan. Setiap bahan dihancurkan dalam botol logam terpisah.

Bahan-bahan ini Kemudian dicampur dengan kombinasi khusus, kadang dengan setetes air, minyak atau madu.

“Sebagian besar ramuan ini dikumpulkan dari provinsi-provinsi di sekitar Afghanistan, oleh penduduk desa yang mengerti ramuan herbal. Kemudian mereka membawanya ke kami untuk dijual. Kami tahu ramuan mana untuk penyakit yang mana. Lalu saya akan membuat ramuan obat dari situ,” tutur Alokozy.



Ismial Omer, 40 tahun, sedang membeli obat untuk rematiknya. Dia mengatakan kepada saya pengobatan dengan cara ini lebih murah dan efektif.

“Saya sempat mengalami sakit di tulang punggung. Ketika saya mengobatinya dengan ramuan herbal, kondisi saya lebih baik. Karena itu saya datang ke sini untuk mengobati rematik saya. Nenek moyang kami menggunakan perawatan ini sebelum ada obat modern. Menurut saya ini metode terbaik,” kata Omer.

Mereka yang tinggal di pedesaan Afghanistan sangat bergantung pada perawatan herbal. Selain lebih murah, pengobatan ini lebih banyak tersedia sementara jumlah fasilitas kesehatan sangat terbatas. Juga transportasi yang menghubungkan berbagai tempat yang buruk.

Tapi tidak semua orang yakin pengobatan ini adalah pilihan yang bagus.

Hasib Muhammadi, 24 tahun, bercerita pernah mengalami efek samping yang menyakitkan setelah menggunakan perawatan herbal.

Pakar medis dari Universitas Nangarhar, dokter Abdul Jabbar Mominyar, mengatakan banyak tabib itu buta huruf, mendapatkan pengetahuan secara informal, yang diturunkan dari satu orang ke orang berikutnya.

Dia berpendapat pengobatan herbal harus ada standar demi keamanan pasien.

“Jika kita ingin menggunakan pengobatan herbal, perlu distandarisasi dan berkoordinasi dengan kementerian kesehatan. Selain itu perlu diajarkan di universitas dan lewat buku-buku. Kalau tidak pengobatan herbal bisa berbahaya,” jelas Jabar. 


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Penembak Brimob di Timika Berjumlah 15 Orang

  • Ahli: PNPS Penodaan Agama Langgar HAM Warga Ahmadiyah
  • Jokowi Tunjuk Din Syamsuddin sebagai Utusan Khusus Dialog Antaragama
  • Tak Dapat Bantuan KIS, Puluhan Pemulung Geruduk Gedung DPRD Sumut