Menggoreng Rupiah

Mereka sibuk berkicau di media sosial, menggoreng rupiah - ujung-ujungnya melegitimasi kepentingan politik untuk pemilu 2019.

Rabu, 05 Sep 2018 05:03 WIB

Rupiah melemah terhadap dolar AS

Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS melemah. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Mata uang Rupiah sedang goyang diterpa badai ekonomi global. Sejak sebulan lalu Indonesia terkena imbas krisis global, mulai dari krisis ekonomi di Turki, Argentina, hingga India. Perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok juga membuat gonjang-ganjing Rupiah semakin liar. Selasa kemarin, nilai tukar rupiah sudah menyentuh angka Rp14.900 per satu dolar Amerika. Presiden Joko Widodo dan para penjaga gawang ekonomi, termasuk Bank Indonesia, sibuk menjaga agar rupiah tidak semakin terpuruk.

Banyak analis dan ekonom memberi masukan kepada pemerintah, soal langkah-langkah yang sudah atau harus dilakukan. Demi menjaga kepercayaan publik dan psikologi masyarakat agar tidak cemas berlebihan. Namun juga muncul banyak pengamat dadakan, dengan analisa asal-asalan. Mereka sibuk berkicau di media sosial, menggoreng rupiah - ujung-ujungnya melegitimasi kepentingan politik untuk pemilu 2019.

Mata uang rupiah bukanlah komoditas yang patut dijadikan bahan becandaan demi syahwat politik. Karena dampaknya bisa luar biasa; menggerus kepercayaan publik terhadap upaya penyelamatan rupiah yang sedang goyah. Harus diingat, krisis ekonomi pada 1998 terjadi antara lain karena kepercayaan pelaku pasar yang rendah terhadap pemerintah, serta sentimen negatif pasar yang terus-menerus membesar tanpa kendali hingga nafsu ambil untung para spekulan pemborongan dolar.

Semestinya saat ini semua pihak bersatu padu menyelamatkan rupiah, tanpa pandang bulu soal kubu mana yang akan bertarung pada 2019 mendatang. Para elite politik, pejabat, pengusaha yang benar-benar peduli dengan bangsa ini, mesti memberi contoh. Misalnya, dengan menukarkan sebagian aset dolarnya ke rupiah, agar mata uang ini mendapat suntikan dan bertenaga kembali. Jangan menunggu rupiah makin terpuruk, hanya karena tak suka dengan rezim saat ini. 

 
Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.