Fasilitas Pengobatan Kurang, Warga Afghanistan Berobat ke Luar Negeri

Dana yang dihabiskan lebih dari 3,3 triliyun rupiah setiap tahunnya.

Senin, 07 Agus 2017 11:31 WIB

Kondisi ruang perawatan di salah satu rumah sakit provinsi di Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Kondisi ruang perawatan di salah satu rumah sakit provinsi di Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Setiap tahun, ribuan orang Afghanistan bepergian ke negara lain untuk berobat. Mereka pergi ke negara-negara seperti Pakistan, India dan Turki. Dana yang dihabiskan lebih dari 3,3 triliyun rupiah setiap tahunnya. Berikut laporan yang disusun koresponden Asia Calling KBR, Ghayor Waziri, dari Afghanistan.

Najiba Azizi berusia 40 tahun. Dia punya penyakit jantung dan dua tahun lalu dia mengalami serangan. Dia berupaya mendapatkan perawatan medis di Kabul selama setahun tapi tidak sembuh-sembuh.

“Saya menyadari kalau tidak mungkin saya dapat perawatan di Afghanistan. Saya sudah mengeluarkan biaya lebih dari 50 juta rupiah untuk berobat di sini,” tutur Najiba.

Karena tidak punya pilihan, Najiba kini setiap tahun harus ke Pakistan untuk berobat. “Keluarga dan bahkan dokter saya menyarankan untuk pergi ke Pakistan.”

Dia bukan satu-satunya pasien yang bepergian ke luar negeri untuk berobat. Ada banyak orang lain melakukan hal yang sama bahkan beberapa bepergian tanpa visa dan paspor.

Putra Najiba bernama Naweed Azizi mengatakan perjalanan ibunya ke Pakistan secara teratur itu tidak berjalan mulus. Terutama seiring meningkatnya ketegangan antara kedua negara. 

“Kami menghadapi banyak masalah seperti perlakukan tidak menyenangkan dari polisi Pakistan, perawatan yang mahal, kesulitan mendapatkan visa, hambatan bahasa dan masalah transportasi,” jelas Naweed.

Tapi keluarganya bersyukur Najiba akhirnya bisa mendapat perawatan yang dia butuhkan. “Keluarga dan saya sangat senang ibu masih bersama kami. Saya sempat khawatir dengan pemulihannya.”

Bagi banyak orang, bepergian ke negara lain untuk berobat adalah hal yang mustahil.

Menurut Bank Dunia, lebih dari sepertiga warga Afghanistan tidak punya akses terhadap layanan kesehatan.

Sejak jatuhnya Taliban 16 tahun yang lalu, Kementerian Kesehatan Afghanistan telah menerima jutaan dolar dari sumbangan internasional. Sejauh ini sudah ada perbaikan yang signifikan.

Tapi orang-orang seperti Najiba masih frustrasi dengan standar medis di Afghanistan. Banyak uang itu dikorupsi dan masuk kantong pejabat-pejabatnya.


Dan ketidakstabilan yang diciptakan oleh pertempuran antara Taliban, ISIS dan pasukan Afghanistan terus menghalangi pembangunan.

“Kami mencoba mengembangkan fasilitas medis dengan standar yang baik di seluruh Afghanistan, terutama di Kabul,” jelas Saeed Waheed Majrooh, juru bicara Kementerian Kesehatan Afghanistan.

Dalam upaya memperbaiki standar rendah perawatan medis di negara ini, Kementerian Kesehatan Afghanistan sedang berdialog dengan pemerintah India dan Iran.

Afghanistan sedang mencari uang dan keahlian untuk memperbaiki infrastruktur medis mereka. Ini akan memperkuat hubungannya dengan India dan Iran.

“Kami berdialog dengan India dan Iran agar mereka siap mendukung kami untuk memiliki layanan kesehatan standar dan perusahaan farmasi,” kata Waheed. 

Afghanistan berharap bisa mengembangkan kapasitasnya untuk memproduksi obatan-obatan sendiri dan tidak bergantung pada impor.

Menurut Kementerian Kesehatan Afghanistan, saat ini ada 52 rumah sakit yang dikelola pemerintah dan 360 rumah sakit swasta yang beroperasi di negara itu.

Majrooh mengatakan pemerintah Afghanistan berharap bisa mengandalkan kemitraan dengan sektor swasta untuk mengakses teknologi dan peralatan yang tidak dimiliki rumah sakit pemerintah.

“Tahun depan, kami ingin membangun pusat perawatan medis khusus. Berkoordinasi dengan swasta kami ingin membangun rumah sakit standar di penjuru Afghanistan,” kata Waheed.

Tapi Basheer Sakayee dari pihak swasta mengatakan sektor swasta Afghanistan mungkin tidak punya pengalaman yang dibutuhkan.

“Sulit untuk menyediakan layanan medis berkualitas terbaik, dibandingkan dengan India, Pakistan atau negara tetangga lainnya. Mereka sudah memperbaiki layanan medis selama sekitar satu abad. Sementara kami baru berumur 16 tahun. Bagaimana bisa dibandingkan?” ungkap Basheer.

Basheer mengatakan akan butuh waktu bertahun-tahun sebelum warga Afghanistan bisa mempunyai perawatan medis standar di negara mereka sendiri.

Tantangan seperti kurangnya teknologi dan keahlian, ketidakamanan dan korupsi masih harus diatasi.

Sementara itu, mereka yang mampu bepergian dan membayar perawatan punya jalan keluar.

Tapi Najiba mengakui ini adalah solusi yang sulit, bahkan jika Anda mampu membayarnya...

“Kami menghadapi masalah di Pakistan. Kami menghabiskan lebih dari 80 juta rupiah untuk biaya berobat. Tapi saya bisa sembuh. Di Afghanistan, Anda bisa menghabiskan lebih banyak uang tapi tidak sembuh-sembuh,” kata Najiba.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI
  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2

Aman Abdurrahman Diperiksa Densus 88 Terkait Bom Thamrin

  • CCTV Pengakuan Miryam, Pengacara: Dibawah Tekanan
  • Operasi Besar Novel Baswedan Berhasil
  • Laut Rusak, Warga Upacara di Tengah Laut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR