Seleksi Komnas HAM

Yang mesti dilakukan sekarang adalah memastikan orang-orang yang menjadi anggota Komnas HAM sebagai sosok yang memiliki komitmen dan catatan baik dalam penegakan hak asasi.

Rabu, 05 Jul 2017 05:19 WIB

Pansel Komnas HAM 2017

Pansel komisioner Komnas HAM menyatakan sebanyak 28 orang calon telah lolos tahap dialog publik dan rekam jejak. (Foto: Antara/Widodo S Jusuf)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Panitia Seleksi (Pansel) calon anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) meloloskan 28 nama untuk maju ke tahap selanjutnya. Pansel menjanjikan calon yang lolos ini memiliki integritas dan kompetensi di bidangnya. Selain itu para calon hasil seleksi 60 nama itu dinilai independen dan tak berafiliasi dengan kelompok radikal atau partai politik.

Sebelumnya organisasi Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) menyebut puluhan calon anggota Komnas HAM itu sebagai bermasalah. Sembilan calon ditengarai memiliki keterkaitan dengan kelompok radikal, 13 calon dengan  partai politik, dan 13 calon lainnya dengan korporasi. Selain itu sejumlah calon lainnya dianggap bermasalah dengan kejujuran, kekerasan seksual dan isu keberagaman. Itu sebab sejumlah aktivis HAM sempat minta Komnas HAM dievaluasi karena kinerja buruk, tak mampu menuntaskan sejumlah kasus pelanggaran HAM berat masa lalu.

Lepas dari catatan itu, banyak harapan masih disandarkan pada Komnas HAM - tentu dengan gigi yang lebih tajam dan aksi yang lebih gesit. Periode kepengurusan kali ini memang minim catatan keberhasilan. Padahal Komnas HAM masih jadi tempat mengadu bagi para korban pelanggaran HAM. Mulai dari korban kekerasan aparat, konflik lahan, sampai masalah dengan korporasi.

Yang mesti dilakukan sekarang adalah memperkuat Komnas HAM, baik oleh pemerintah maupun parlemen. Memastikan orang-orang yang menjadi anggota Komnas HAM sebagai sosok yang memiliki komitmen dan catatan baik dalam penegakan hak asasi. Dari situ kita bisa berharap hak korban dan keluarga kasus pelanggaran HAM bisa ditegakkan.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Soal Munaslub, Wasekjen Golkar Minta DPD Solid

  • Pengamat: Setnov Akan Langgeng Jadi Ketua Umum Meski Dipenjara
  • DPRD Desak Pemprov DKI Rampungkan Konsep Penataan Kampung Akuarium
  • Bansos Banyak Salah Sasaran, Cilacap Siapkan Basis Data Terpadu