Wajah Toleransi di Indonesia

Aneka survei memperlihatkan masyarakat makin konservatif, banyak yang setuju dengan tindak kekerasan atas nama agama serta menunjukkan keengganan berdampingan dengan kelompok yang dianggap berbeda.

Senin, 12 Feb 2018 05:17 WIB

Gereja St. Lidwina Diserang

Polisi berhasil mengamankan satu tersangka dan masih menyelidi kasus penyerangan gereja di Yogyakarta yang melukai sejumlah umat serta merusak sejumlah fasilitas gereja dengan senjata tajam. (Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko)

Coba bayangkan diri Anda ada di posisi ini. Anda sedang berada di tempat ibadah, lantas ada orang yang datang mengacungkan senjata tajam ke orang-orang yang berada di tempat ibadah tersebut. Atau contoh lain - Anda beribadah di rumah sendiri lantas dicurigai akan menyebarluaskan agama yang Anda anut, dan itu berakibat Anda nyaris diusir dari desa sendiri. Yang menyedihkan, keduanya terjadi di Indonesia, dalam waktu yang berdekatan. Beginikah wajah masyarakat kita sekarang? 

Kasus pertama terjadi di Gereja St Lidwina Bedog, Sleman, Yogyakarta. Seorang romo dan pengikutnya mengalami luka berat akibat sabetan senjata tajam. Sementara kasus kedua menimpa Biksu Mulyanto Nurhalim di Desa Caringin, Legok, Tangerang. Untuk kasus yang ini, masyarakat mengaku ada kesalahpahaman dan persoalan sudah selesai. Tapi ketika kesalahpahaman ini sampai bisa muncul, ini juga harusnya jadi bahan refleksi kita bersama. 

Wajah toleransi di Indonesia memang tengah berubah. Aneka survei dari tahun ke tahun memperlihatkan masyarakat kita yang makin konservatif, banyak yang setuju dengan tindak kekerasan atas nama agama serta menunjukkan keengganan untuk berdampingan dengan kelompok yang dianggap berbeda. Ini mengkhawatirkan. Apalagi mengingat sekarang kita sudah memasuki tahun politik, di mana agama rawan dipolitisisasi demi kemenangan sesaat. Padahal setelah itu kita semua yang menanggung akibatnya. 

Buya Syafii Maarif betul: ini melukai Indonesia. Tapi kita juga tak boleh berdiam diri. Semua kembali ke kita; apakah mau melihat wajah Indonesia kembali toleran atau tunduk kepada pemikiran yang tak terbuka pada perbedaan? Kita perlu mendorong diri sendiri untuk lebih terbuka. Sekaligus memastikan pemerintah menjaga supaya perbedaan tak membuat siapa pun merasa tidak aman beribadah di negeri ini. 

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.