Article Image

SAGA

Upaya Nelayan Lombok Timur Sejahtera dengan Berkoperasi

"Nelayan masih dibelit kemiskinan. Kehadiran koperasi bisa mengungkit ekonomi nelayan dan keluarga."

Keseharian di Koperasi Segare Harapan Jaya. Hasil tangkapan nelayan ditimbang kemudian dijual ke pengepul. (Foto: dok MDPI).

KBR, Lombok Timur - Nurhasanah sedang membersihkan cumi dan ikan hasil tangkapan nelayan. Ia sembari mengasuh anaknya yang masih balita.

Setelah bersih, hasil laut itu kemudian ditimbang dan siap dijual.

Nur melakoni pekerjaan ini bersama belasan istri nelayan lain, warga Dusun Baran Tapen Asri, Desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Sudah setahun, ia menjadi pegawai sekaligus anggota Koperasi Segare Harapan Jaya. Nur kini punya penghasilan sendiri.

"Dulunya kan (pendapatan) dari suami. Sekarang kita juga ada. Pernah kita bagi waktu itu sejutaan sebulan. Kadang sejuta lebih. Alhamdulillah, banyak. Bisa membantu suami," kata Nur.

Baca juga: Adaptasi Warga Timbulsloko yang Menolak 'Tenggelam'

Para istri nelayan anggota Koperasi Segare Harapan Jaya tengah membersihkan hasil tangkapan nelayan sebelum dijual ke pengepul. (KBR/Zainudin).

Koperasi Segare Harapan Jaya didirikan pada 2021 oleh nelayan dengan pendampingan yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) Nusa Tenggara.

Anggotanya 33 orang yang didominasi para istri nelayan.

Koperasi membeli hasil tangkapan nelayan dengan harga layak, yang kemudian dijual ke pengepul.

"Kalau dulu kan kita tidak tahu berapa harga ikan di pasar. Kadang kita dipermainin, ditawarlah rendah-rendah. Kalau sekarang kan ada supplier besar, jadi tetap harganya," ucap Nur.

Baca juga: Warga Indramayu Pantang Surut Tolak PLTU Batubara

Nurhasanah mendapat penghasilan setelah bergabung di Koperasi Segare Harapan Jaya. (KBR/Zainudin).

Nelayan lebih untung karena hemat ongkos transportasi, sekitar Rp5 ribu - 7 ribu per hari.

Sebelum ada koperasi, mereka harus ke pasar untuk menjual hasil tangkapan.

Pendapatan nelayan pun makin meningkat, kata Muslimin, Ketua Koperasi Segare Harapan Jaya.

"Kalau masalah penghasilan agak mendingan ini, kalau dulu sekitar Rp100 ribu-an per hari. Sekarang bisa sampai Rp150 ribu - Rp200-an ribu. Tapi tergantung musimnya lagi," kata Muslimin, yang juga nelayan.

Muslimin mencontohkan hasil penjualan gurita. Rata-rata nelayan bisa menangkap minimal 10 kilogram gurita saban hari. Jika sedang musim bahkan bisa sampai 60 kilogram per hari.

Baca juga: Kontribusi Berkelanjutan Selamatkan Terumbu Karang

Nelayan Desa Baran Tapen Asri mengangkat ikan tuna sirip kuning untuk dibawa ke Koperasi Segare Harapan Jaya. Nelayan lebih untung sejak bergabung dengan koperasi. (Foto: dok MDPI).

Di koperasi, nelayan juga bisa menambah pemasukan dengan menjual sampah plastik yang terjaring saat melaut. Sampah yang terkumpul kemudian dijual ke pengepul.

Kata Muslimin, koperasi bisa mendapat Rp150 ribu per bulan dari hasil itu.

“(Banyak sampah di laut?) alhamdulillah banyak. Apalagi sekarang musim hujan otomatis sampah dari darat, dibawa arus air ke laut. Tapi berapa tahun ini sudah ga terlalu. Dulu banyak sekali sampah. Ya kalau ada yang hanyut, kita pungut, bisa jadi uang. Kalau dulu enggak,” kisahnya.

Kegiatan ini sekaligus untuk mendorong pelestarian laut, kata staf lapangan Masyarakat Perikanan Indonesia (MDPI) Lombok, M. Taeran.

"Sampah-sampah yang diambil oleh teman-teman nelayan dari laut bisa dimanfaatkan oleh komunitas koperasi ini sendiri. Koperasi yang beli, nanti koperasi kerja sama dengan pengepulnya. Itu salah satu edukasi kita untuk menjaga lingkungan" katanya.

Baca juga: Resiliensi Komunitas Difabel Semarang untuk Berdikari

Staf Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) Lombok, M. Taeran (KBR/Zainudin).

Kiprah Koperasi Segare Harapan Jaya diapresiasi pemerintah daerah. Salah satunya karena melibatkan perempuan.

“Di Kecamatan Pringgabaya ini kan memang ada beberapa koperasi, cuma aktivitasnya tidak seaktif di sini (Koperasi Segare Harapan Jaya). Di sini langsung dikelola langsung oleh nelayan bersama ibu-ibu nelayan, jadi lebih bagus. Ada pendampingan juga dari LSM, kalau yang lain lebih ke kepemilikan pribadi,” kata Penyuluh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Lombok Timur Dwi Putri Khairunnisa.

Dwi mendorong para istri nelayan meningkatkan nilai tambah dengan menjual olahan ikan. Pemda siap mendampingi.

"Bisa dibentuk kelompok khusus pengolahan. Karena dalam mengakses program dari pemerintah itu perlu berkelompok. Nanti ada bimbingan dari dinas, bagaimana melakukan pengolahan yang baik dan benar," pungkasnya.

Penulis: Zainudin Syafari
Editor: Ninik Yuniati