Lewat Seni, Berdayakan Penyandang Skizofrenia

Stigma dan diskriminasi terhadap kelompok difabel psikososial mesti dikikis

Sejumlah lukisan karya penyandang skizofrenia anggota komunitas Rumah Berdaya, Denpasar, Bali. (Foto: KBR/Lea Citra)

Senin, 15 November 2021

Pengantar:

Bali menduduki peringkat teratas provinsi dengan prevalensi tertinggi gangguan jiwa skizofrenia, menurut Riset Kesehatan Dasar 2018. Angkanya mencapai 11 per mil rumah tangga. Artinya per 1000 rumah tangga terdapat 11 rumah tangga dengan penyandang skizofrenia. Upaya penanganannya banyak terganjal stigma dan diskriminasi di masyarakat. Di Denpasar, ada komunitas Rumah Berdaya yang berjuang mengurai persoalan ini sejak 2016 silam. Jurnalis KBR Lea Citra berbincang dengan sejumlah penyintas yang aktif di komunitas itu

-
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Denpasar - Gus Muyuh mendendangkan lagu ciptaannya berjudul "Revolusi Mental".

Dunia gelap tanpa bintang. Kuberlari, terjatuh. Rasa yang hilang telah datang, kuberharap tersentuh. Hidup hanya sekali waktu

Ada juga lagu berbahasa Inggris bertajuk "You are the One".

You are the one who really sweet. You are the one who really care

Total enam lagu sudah diciptakan Gus Muyuh selama lima tahun masa terapi di Rumah Berdaya, yang berada di Denpasar, Bali.

Rumah Berdaya berdiri pada 2016 silam, hasil kolaborasi Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan perkumpulan seni Ketemu Project. Di sana, Gus Muyuh dan puluhan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) lain diajari beragam kesenian.

“Yang saya tahu, saya hanya pengidap paranoid skizofrenia. Saya pengin jadi pelukis, saya ga bisa melukis. Saya hanya bisa bikin novel. Saya kepengin jadi penyanyi, tapi saya ga bisa terlalu main gitar, tapi saya bisa ciptain lagu ada beberapa,” kata Gus Muyuh.

Saka Rosanta yang akrab dipanggil Gus Muyuh, anggota komunitas Rumah Berdaya. Lukisan hasil karyanya sudah dipamerkan sampai ke Jerman. (Foto: KBR/Lea Citra).

Selain lagu, pemilik nama lengkap Saka Rosanta ini juga menulis novel dan melukis. Beberapa lukisannya dipamerkan di galeri nasional, bahkan sampai ke Jerman.

“Saya pameran di Galnas, saya dapat uang dan Rp4 juta kemarin. Dan sehari-hari saya dapatnya dari sini, saya jual Rp250 ribu-Rp300 ribu. Itu kebanggaan karena sudah menghasilkan. Kita menyebut diri kita profesional kan bisa, meskipun tidak bisa sampai membiayai keluarga," pria berusia 40 tahun ini.

Terapi seni di Rumah Berdaya terbukti membantu Gus Muyuh mengelola kesehatan mentalnya.

“Seni adalah kehidupan buat saya. Lukisan itu bisa buat healing,” imbuhnya.

Hal serupa juga dirasakan Komang Sudiarto yang akrab dipanggil Loster.

“Seni itu sangat penting untuk orang ODGJ. Dalam terapi seni, kita konsentrasi buat melukis. Itu yang buat seimbang. Makanya teman-teman Rumah Berdaya yang ga punya bakat seni, agak lebih sulit. Saya masih bisa menjalani kehidupan walaupun dengan ODGJ,” kata pria 39 tahun ini.

Baca juga: Kota Ramah Difabel di Mata Atlet Muda Berprestasi

Komang Sudiarto atau Loster tengah mengerjakan lukisan untuk sebuah proyek kolaborasi bersama pelukis lain. (Foto: KBR/Lea Citra)

Loster memang bekerja sebagai pelukis sebelum mengidap skizofrenia. Semenjak bergabung di Rumah Berdaya, bakat melukis inilah yang dijadikan sarana terapi. Dampaknya pun sangat besar bagi Loster.

"Seperti sampah yang didaur ulang aja. Ada lah teman yang menghargai. Kalau saya tidak terlahir sebagai orang seni, mungkin saya sudah telanjang di jalan-jalan. Yang saya buat dewa-dewi seperti Ganesha, saya buat dengan gaya sendiri dan laku. (Yang paling mahal berapa?) Rp9 juta," ujar dia.

Manfaat terapi seni bagi pasien gangguan jiwa diakui oleh penyintas sekaligus pengelola Rumah Berdaya, I Nyoman Sudiasa.

“Karena seni itu universal dan orang-orang seni itu paling tinggi penerimaannya kepada kami itu. Dibanding tenaga kesehatan, itu stigmanya masih tinggi. Karena di lingkungan seni batas antara normal dan tidak normal itu, hampir tidak ada. Teman-teman memiliki tingkat keunikan yang berbeda," kata Nyoman.

Kerajinan hasil karya anggota komunitas Rumah Berdaya. (Foto: KBR/Lea Citra).

Di Rumah Berdaya, puluhan pasien skizofrenia dikelompokkan menjadi dua, yakni kelompok sosialisasi dan produksi.

Pasien seperti Gus Muyuh dan Loster masuk kelompok produksi karena mampu menghasilkan karya. Menurut Nyoman, keberhasilan keduanya menjadi bukti bahwa difabel psikososial juga sanggup hidup mandiri.

“Gus Muyuh bisa pameran, ini meningkatkan kebanggaan. Awalnya kami distigma tidak bisa apa-apa, pecundang, beban keluarga, tetapi kami bisa menghasilkan karya yang dipajang di galeri nasional, terbesar di indonesia, sampai ke Jerman. Padahal ga semua 'orang normal' bisa nembus ke situ. Artinya paling tidak stigma negatif bisa dikurangi," tutur pria 47 tahun ini.

Pandemi Covid-19 juga memengaruhi aktivitas berkarya seni di Rumah Berdaya. Saat masa pembatasan sosial ketat, Ketemu Project memfasilitasi mereka lewat beberapa kegiatan.

“Kita siapkan kit menggambar untuk teman-teman skizo dan kita distribusikan ke rumah biar bisa berkegiatan. Selain itu tahun lalu ada IG Live soal kesehatan mental,” kata Manajer Produksi dan Operasional Ketemu Project Agung Dewi.

Manajer Produksi dan Operasional Ketemu Project Agung Dewi (Foto: Lea/KBR)

Dewi bilang, stigma di masyarakat masih menjadi tantangan berat bagi difabel psikososial. Ketemu Project berupaya mengikis hal itu, salah satunya lewat program intervensi. Program ini misalnya berupa kegiatan workshop seni di tempat publik, yang melibatkan para ODGJ.

“Banyak warga yang ikut workshop, saat dikasih tahu bahwa mereka ODGJ, mereka kaget karena mereka kayak biasa saja, bisa jelasin apa yang mereka gambar. Itu membuka kesempatan berbaur dengan masyarakat,” ujar Dewi.

Pengelola Rumah Berdaya I Nyoman Sudiasa memastikan bakal terus berkiprah merangkul penyandang disabilitas mental di Pulau Dewata. Stigma dan diskriminasi yang masih terjadi, perlahan-lahan mesti diakhiri.

“Kami bukan aib. Kami juga bisa berkegiatan mandiri yang bisa menghasilkan. Kami ingin masyarakat punya sudut pandang yang berbeda terhadap gangguan jiwa. Seperti gangguan jiwa itu adalah azab Tuhan, tidak bisa diobati, hanya jadi beban, tidak bisa pulih. Kami ini bukan orang-orang yang perlu dikasihani, tetapi kami ini perlu dikasihi,” pungkas Nyoman.

Baca juga: Puan Penyelam Gandeng Difabel Gaungkan Kesetaraan

Artikel ini diperbarui pada 15 November 2021 dengan memasukkan pernyataan dari Ketemu Project