Kontribusi Berkelanjutan Selamatkan Terumbu Karang

Timbunan sampah di laut memperparah kerusakan

Sejumlah pegiat Sea Soldier Sulawesi Utara melakukan transplantasi untuk merehabilitasi karang rusak di perairan Manado. (Foto: dok Sea Soldier Sulut)

Rabu, 03 November 2021

Pengantar:

Indonesia masuk dalam segitiga terumbu karang dunia. Namun, cakupannya tak sampai 20 persen dari luasan terumbu karang dunia dan sepertiganya dalam kondisi rusak, berdasarkan studi LIPI 2018. Timbunan sampah plastik di laut menjadi faktor dominan penyebab degradasi. Beragam upaya dilakukan untuk menyelamatkan kekayaan bahari tersebut. Salah satunya dilakukan Sea Soldier di Manado, Sulawesi Utara. Jurnalis KBR Wahyu Setiawan berbincang dengan komunitas pecinta laut itu tentang kiprah penyelamatan terumbu karang.

- Kiprah Berkelanjutan Selamatkan Terumbu Karang
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Manado - Siang itu, beberapa pegiat Sea Soldier Sulawesi Utara tengah membuat ribuan media transplantasi karang. Salah satunya Jesica Tumuahi.

Media ini akan ditanami bibit-bibit karang, untuk merehabilitasi terumbu karang yang rusak, di perairan Manado dan sekitarnya.

"Karang itu tempat tinggalnya ikan-ikan dan penyu juga. Kondisi karang seringkali terjadi pemutihan kan. Ada juga yang berwisata ga bertanggung jawab, megang-megang sembarangan, terus rusak. Padahal pertumbuhan karang ini lama banget, beratus-ratus tahun, bisa tumbuh sampai jadi besar kayak di Bunaken," kata Jesica yang juga Ketua Sea Soldier Sulut periode 2020/2021.

Sea Soldier yang didirikan Nadine Chandrawinata pada 2015 ini memang fokus pada pelestarian alam.

Rusaknya terumbu karang sama saja menghancurkan habitat ikan dan spesies laut lainnya. Kondisi ini makin diperparah oleh tumpukan sampah.

“Saya pernah menyelam di pesisir Manado, di Malalayang. Saya ga sadar nih ada sampah kan. Udah videoin bagus-bagus, pas lihat ada (bungkus) kopi lewat. Padahal frame-nya udah bagus banget. Oh my God,” keluh Jesica.

Baca juga: Menjaga Mangrove Pantai Bengkak

Pegiat Sea Soldier Jesica Tumuahi memamerkan media transplantasi karang yang akan digunakan untuk rehabilitasi karang rusak. (Foto: KBR/Wahyu Setiawan).

Timbunan sampah mikroplastik berdampak buruk bagi manusia.

“Penyu itu makanannya ubur-ubur. Ubur-ubur itu makanannya ikan-ikan kecil. Terus ada yang buang sampah plastik, tas kresek. Penyu pikir itu makanan mereka karena bentuknya kayak ubur-ubur. Penyu punah, ubur-ubur makan ikan-ikan kecil, terus kita makan apa nanti kalau ikan-ikan kecilnya nggak jadi besar karena nggak ada,” ujarnya.

Selain memitigasi problem di hilir -lewat transplantasi karang- Sea Soldier juga fokus ke upaya pencegahan di hulu. Edukasi ke masyarakat tentang kesadaran menjaga laut dan ekosistemnya turut digencarkan. Mereka berkolaborasi dengan berbagai komunitas untuk menyebarkan virus ramah lingkungan.

“Dari awal kita mulai itu sudah ga terhitung lagi kegiatan angkat-angkat sampah. Edukasi pun selalu kita lakuin, misalnya, di kawasan (Megamas, red). Kafe-kafe kan sering banget keluarin sedotan plastik, kita edukasi. Nggak cukup sih, cuma sudah semaksimal kita,” kata dia.

Upaya mitigasi dan edukasi ini bakal terus dilanjutkan oleh pemegang tongkat estafet baru Sea Soldier Sulut, Ardi Sehangunaung.

“Dari beberapa tahun sebelumnya juga sering aktif di kegiatan-kegiatan yang menyangkut bersih-bersih. Jadi ya ke depan tetaplah kegiatan-kegiatan yang seperti itu,” ujar Ardi.

Baca juga: Rawat Lingkungan sambil Rekreasi di Kampus Tabalong

Aksi penyelam Sea Soldier Sulut merehabilitasi terumbu karang rusak. Ini merupakan upaya mitigasi di sektor hilir. (Foto: dok Sea Soldier Sulut)

Masalah sampah di perairan Manado dan sekitarnya juga disorot LSM Walhi Sulawesi Utara. Perilaku buang sampah sembarangan dan penanganan lemah pemerintah kota, jadi kombinasi faktor penyebabnya.

Direktur Eksekutif Walhi Sulut Theo Runtuwene mengatakan, kondisi ini diperburuk oleh letak geografis Manado yang berada di hilir. Banyak sampah dari daerah lain terbawa hingga ke pesisir Manado.

“Sampah mereka taruh di depan rumah. Dua, tiga, empat hari tidak diangkat karena over-kapasitas, pernah seminggu sampai dua minggu ga diangkat, jadi busuk. Mereka buang ke sungai. Kami saksikan di lapangan. Jadi itu fakta, tidak bisa dibantah oleh siapapun,” kata Theo.

Baca juga: Kampung Liu Mulang, Teladan Hidup Selaras dengan Alam

Tangkapan layar laman Instagram Sea Soldier Sulut tentang aksi bersih-bersih sampah di pesisir Manado

Pemprov Sulut mengklaim terus berkoordinasi dengan Pemkot Manado untuk menangani persoalan sampah. Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Sulut, Nike Mamahit berdalih masalah ini sangat kompleks. 

Pasalnya, Teluk Manado dikepung sembilan sungai besar, mulai dari Malalayang hingga Tondano, sehingga banyak sampah kiriman. Selain itu, ia juga menyalahkan kesadaran masyarakat yang masih rendah.

"Setiap hari sampah-sampah itu selalu diangkut, ada petugasnya. Jadi ada jaringnya supaya sampah itu tidak ke laut. Untuk edukasi ke masyarakat, di sana juga kan kita pasang ada baliho-balihonya, ada juga sosialisasi ke masyarakat, agar mereka memulai memilah sampah dari rumah," kata Nike.