Make Up Baik Untuk Iklim

Tren pemakaian make-up alias dandanan tak pernah mati. Tengok saja YouTube dan media sosial, di sana bertabur aneka konten tutorial berdandan.

Foto: Jazmin Quaynor/Unsplash

Jumat, 13 November 2020

Tren pemakaian make-up alias dandanan tak pernah mati. Tengok saja YouTube dan media sosial, di sana bertabur aneka konten tutorial berdandan. Podcast Climate Tales episode kali ini mengajak kita menengok sisi lain dari aneka produk berdandan dan perawatan tubuh yang kamu pakai.

Foto: Olena Sergienko/Unsplash

KBR, Jakarta- Habis nonton berbagai video beauty vloger di Youtube, saya lalu baca artikel dari BBC tahun 2018, yang judulnya “Apakah Make-up-mu Membunuh Orang Utan?”… kok jadinya gimana gitu…

Eh, tapi apa hubungan antara kosmetik dengan orang utan ya?

Union for Conservation Nature pada 2018 lalu menulis, dalam 20 tahun terakhir terjadi peningkatan permintaan dari berbagai sektor salah satunya minyak kelapa sawit.

Akibatnya, ribuan hektar hutan tropis yang berusia jutaan tahun ditebang, lantas disulap jadi perkebunan kelapa sawit.

Dan hutan, seperti kita tahu, adalah rumah bagi berbagai spesies yang terancam punah, termasuk orang utan. Binatang tanpa rumah, sama dengan mati.

Produk turunan minyak sawit yang bisa diolah jadi bahan kosmetik adalah Metalik Stearat. Zat ini dipakai untuk produk seperti eye shadow, maskara, lipstik, bedak dan foundation.

Seniman Tita Salina pernah meneliti kaitan deforestasi hutan dan kosmetik.

“Dia dari ujung. Sampo, sabun mandi, sabun muka otomatis, pasta gigi. Ingredients itu kan hanya dengan nama-nama kimia itu kan. Ya seberapa persen sih dari orang-orang, 200 jutaan di Indonesia ini nggak paham itu kan. Orang-orang sekitar kita saja tuh belum tentu tahu kan, belum tentu aware tentang itu.”

Tapi penggunaan minyak kelapa sawit tak bisa serta merta dihilangkan dari proses produksi produk kosmetik.

“Memang itu suka ga suka itu adalah produk paling efisien secara ekonomis. Dan juga secara pengoptimalan bahannya itu juga itu paling efisien banget.Jadi sampai elemen-elemen, semua ingredients chemical itu tuh kepake. Kalau diibaratkan kayak kelapa, Itu kan dari pohonnya sampai daunnya, itu juga kan kepakai gitu ya. Nggak beda jauh lah sama kelapa sawit..”

Tita menekankan: kelapa sawit bukanlah produk yang ‘tidak baik’.

Masalahnya bukan di kelapa sawit-nya….

“Sebenarnya sih masalah murninya bukan karena si kelapa sawitnya sih, sebenarnya karena alih fungsi lahannya yang sangat brutal dan salah. Itu sih gitu.”

Ada alih fungsi lahan yang merusak lingkungan, ada perampasan hak masyarakat adat, yang ujung-ujungnya berpotensi membuat hewan asli hutan dan lahan gambut kehilangan habitatnya.

“Langkah itunya yang harus dibenerin.”

Kalau tadi kita bicara bahan di dalam kosmetik, kali ini kita menengok ke kemasannya.

Plastik.

Tapi kan kemasannya kecil….

Iya, tapi yang kecil-kecil kalau banyak… jadi numpuk juga kan.

Foto: Kelsey Kaay/Unsplash

Fakta seputar sampah plastik ini memang mengerikan.

Kajian dari Universitas Leeds Inggris tahun 2020menyebut, 1.3 miliar ton sampah plastik akan mencemari daratan dan laut dunia pada 2040 mendatang.

Kira-kira ini setara dengan hampir setengah luas pulau Kalimantan.

Saya berbincang dengan komunitas Pilah sampah asal Tangerang Selatan.

Mereka punya kekhawatiran yang sama soal limbah produk kosmetik.

Sesuai namanya, komunitas ini mengajak masyarakat memilah sampah dari rumah demi mengurangi gunungan sampah.

Founder Pilah Sampah, Nahdya Maulina menyebut, mereka punya gerakan mengumpulkan sampah kosmetik.

Karena sekarang perkembangan kosmetik dan skincare itu semakin semakin tinggi ya peminatnya itu. Ini salah satu isu strategis dan bagus sekali untuk memperkenalkan lingkungan kepada masyarakat.

Kemasan-kemasan produk skincare dan make up itu kan kebanyakan plastik. Jadi komposisi sampah di Indonesia ini yang kedua terbesar itu adalah sampah plastik. Komposisi yang pertama itu sampah organik.

Kalau soal sampah plastik, sudah paham dong ya..

Itu semua kalau nggak ditangani, nggak dipilah dari rumah, ya itu akan berakhirnya ke Tempat Pembuangan Akhir, ke TPA. Dan itu sangat berpotensi menimbulkan gas metan yang besar. Dan gas metan itu sangat besar kontribusinya untuk perubahan iklim.

Bagaimana dengan produk make-up yang sudah kadaluarsa?

Produk skincare atau kemasan skincare expired, sebenarnya kan masih bisa dipakai. Tapi karena sudah expired atau misalnya orang-orang cuma beli karena lucu warnanya, tapi nggak cocok. Oh lagi ada yang baru nih, beli harus punya gitu. Tapi ternyata pakainya sedikit, sudah bosen lagi, ganti terus tambah terus kayak gitu loh.

Untuk itu, Komunitas Pilah Sampah punya Gerakan Maraton Kebaikan, di mana sisa make-up diserahkan kepada...

“Namanya mbak Gloria Elsa yang perias jenazah gratis itu. Jadi kami kerjasama ke beliau, kami serahkan semuanya ke perias jenazah itu. Tapi sebelumnya kami pilah dulu di rumah, mana yang masuk kategori lipstik, kategori apa-apa ya itu. Pokoknya beda-bedain, untuk eye liner gitu, cover, dan lain-lain.

Cara lain yang bisa kita lakukan adalah memilih produk kosmetik yang juga mengampanyekan gerakan lingkungan.

Ada kosmetik vegan yang sudah muncul dari industri kosmetik rumahan.

Brand kosmetik besar seperti Body Shop juga punya kesadaran yang tinggi soal lingkungan.

CEO The Body Shop Indonesia Suzy Hutomo dalam acara Green Living Festival mengajak konsumen ikut mengambil langkah baik untuk lingkungan.

Kita kan punya point system di Body Shop with your customer. Kalau belanja apa-apa itu dapat point gitu. So, kita juga berikan point kalau botolnya dikembalikan. And this value is the most successful bottle return program in the world for the Body Shop. Every year we collect ya

Mengembalikan kemasan kosmetik, dapat poin, poinnya bisa buat belanja lagi.

Tahun lalu kita ngumpulin 1,5 juta pcs of packaging. All over Indonesia.

Ayo kita lanjut make-up make-up an.

Juga, lakukan langkah-langkah yang disebut Nahdya dari Komunitas Pilah Sampah ini yaa..

Kalau kita mau beli produk skincare atau make up, biasanya kita akan baca review dulu, kita cek harga dulu, banding-bandingin harga. Pokoknya kita melakukan riset gitu.Tapi ketika itu sudah selesai digunakan kita membuangnya itu, ada nggak pemikiran itu sekompleks itu sedikit saja? Kan nggak, biasanya nggak. Biasanya dibuang saja, nggak tau sampahnya nanti diurus sama petugas deh, sama petugas kebersihan. Yang penting aku sudah buang sampah pada tempatnya. Nah itu paradigma lama yang harus pelan-pelan diganti. Jadi bukan cuma buang sampah pada tempatnya, tapi pilah sampah pada tempatnya.”