Berhitung Plastik Pada Kopi Senja

Indonesia adalah salah satu negara dengan konsumsi kopi terbesar di dunia. Secara perekonomian, ini tentu baik. Tapi seperti pedang bermata dua, sisi lain industri kopi kekinian mulai mengintai.

Limbah dari kopi kemasan. (Foto: Jasmin Sessler/Unsplash)

Jumat, 30 Oktober 2020

Indonesia adalah salah satu negara dengan konsumsi kopi terbesar di dunia. Secara perekonomian, ini tentu baik. Tapi seperti pedang bermata dua, sisi lain industri kopi kekinian mulai mengintai. Podcast Climate Tales mengajak kamu menyesap kopi trendi sembari menimbang dampaknya pada bumi.

-
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

Ilustrasi Kopi (Foto: Mike Kenneally/Unsplash)

“Kopi Kenangan Mantan 1 Mas, Kopi Gula Aren 1 Less Ice ya,” kata Iren

“Biasanya sehari minimal dua kali order. Karena pandemi sering pakai jasa ojek sih. Tapi kalau sedang belanja bulanan gini, suka sekalian mampir,”

Beli dua kali sehari. Pakai gelas plastik. Setelah itu, gelas plastik dibuang.

Itu baru dua pelanggan. Dari satu gerai. Berapa total pembeli kopi kekinian dalam sehari?

Berapa banyak sampah plastik yang kamu bikin?

Hasil riset TOFFIN mencatat, jumlah kedai kopi di Indonesia pada Agustus 2019 mencapai TIGA RIBU gerai. TOFFIN adalah perusahaan penyedia solusi bisnis barang dan jasa kepada sejumlah industry.

Bayangkan, TIGA RIBU gerai.

Ini pun meningkat hampir TIGA KALI LIPAT dibandingkan angka tahun 2016 silam.

Angka riil tentu lebih besar, karena riset hanya mencatat gerai berjejaring di kota-kota besar, belum termasuk kedai kopi independent, baik yang modern maupun tradisional.

“Akhirnya berakhir menjadi sampah. Baik yang akhirnya terakhir sesuai ke TPA ataupun misalnya berakhir di lingkungan ke sungai-sungai ataupun ke laut.

Itu tadi Juru kampanye Urban Greenpeace Indonesia Muharram Atha Rasyadi.

Kata Atha, Indonesia menghasilkan 67 juta ton sampah pada 2019 lalu.

Dan 15 persennya adalah sampah plastik.

“Ini juga akan bicara masalah plastik yang mencemari laut gitu ya. Kita sudah lihat ya, bagaimana kalau misalnya tidak dikendalikan ini sangat mungkin akhirnya mengganggu keseimbangan ekosistem yang ada di laut ya. Kan kita juga bicara praktiknya tidak hanya ukuran besar, ada juga plastik-plastik ukuran kecil yang biasa disebut mikroplastik ya. Ini sangat mungkin juga akhirnya bisa terserap atau termakan oleh plankton-plankton, yang memang sebenarnya menjadi base kehidupan yang ada di laut. Dan kita tahu juga plankton salah satu sebenarnya yang cukup berperan tinggian dalam ekosistem laut dalam menyerap apa namanya gas rumah kaca, salah satunya CO2 gitu”

Plastik menghasilkan emisi karbon yang tinggi.

Artinya, berkontribusi juga terhadap perubahan iklim, karena membuat bumi makin panas.

Semakin tinggi emisi karbon, semakin tinggi juga konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

“Nah di tahun 2050 diperkirakan kalau misalnya plastik ini produksinya meningkat sampai tiga kali lipat, ini angkanya bisa jadi sama dengan 13% dari seluruh emisi yang dihasilkan secara global gitu dari sektor-sektor lain. Jadi seluruh sektor, kalau misalnya 2050 pulang segini terus diproduksi dan tidak dikendalikan, dia bisa jadi menyumbang sekitar 13% ya. Ini kita juga baru bicara dari sisi produksinya gitu”

Tahun 2050 diperkirakan kalau misalnya plastik ini produksinya meningkat sampai tiga kali lipat, ini angkanya bisa jadi sama dengan 13% dari seluruh emisi yang dihasilkan secara global

- Muharram Atha Rasyadi - Juru kampanye Urban Greenpeace Indonesia

Foto: Gema Saputra/Unsplash

Coba cek transaksi belanja online kamu seminggu terakhir: sudah berapa banyak sampah gelas plastik yang kamu hasilkan? Ingat, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Peneliti dari Univertitas Georgia, Jenna R Jambeck dalam risetnya 2015 silam menyebut Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua dunia setelah Cina.

“Kalau kita lihat sebenarnya dari komposisi sampah yang ditemukan, mungkin ini sebagai gambaran kita saja. Tiga teratasnya itu adalah sedotan, kantong plastik, dan juga puntung rokok ya. Ini juga sesuai dengan hasil audit merek global, yang dilakukan tidak hanya oleh Greenpeace tapi dari berbagai gerakan di seluruh dunia yang tergabung di BreakFreefrom Plastik

Dari sisi produksi, plastik dihasilkan dari sekitar delapan persen hasil produksi minyak dunia atau setara 14 juta pohon.

Kesadaran akan banyaknya sampah plastik yang dihasilkan gerai-gerai kopi ini menggerakkan para pengusaha kopi ke program ramah lingkungan.

Starbucks, misalnya, mulai Februari 2020 lalu mengganti sedotan plastic jadi sedotan kertas. Sebelumnya, mereka juga punya program “Bring Your Own Tumbler”.

Kesadaran itu juga dimiliki pengusaha Stuja Coffee.

Saya bertemu founder-nya, Adlii Dwiandiko Nandhiwardana Budiarto.

Kita itu concern sekali terhadap bahaya plastik yang berlebih. Kita juga concern sekali terhadap lingkungan sekitar, yang di mana di tempat kita mau buka itu kan banyak toko coffee shop tuh. Nah di situ juga mungkin belum pada concern dengan bahaya dengan pemakaian yang mereka gunakan.

Stuja sendiri akhirnya memilih konsep eco-friendly yang di mana kita bisa mungkin mengurangi pemakaian plastik.Selain untuk menekankan prinsip bahwa ini loh kita jual kopi, tapi kita juga cinta sama bumi. Nggak hanya jual doang, tapi kita nggakmikirin buminya

Inisiatif Stuja Coffee, misalnya, menjual kopi dalam kemasan botol kaca.

“Barista kita di sini juga mengedukasi customer. Barista kita juga turut andil langsung dalam menjalankan konsep eco-friendly seperti itu. Botol kaca pun kita mengharuskan mereka untuk bawa pulang, untuk dipakai lagi seperti itu. Karena konsep botol kaca itu ya kita mau kalian yang ngebeli ini, dipakai lagi botol kacanya, digunakan lagi. Entah itu buat sesuatu tanaman atau buat barang-barang pribadi kalian, perintilan kalian, atau bumbu dapur, seperti itu. Kita mengedepankan konsep reuse, recycle, seperti itu sih

Konsep eco-friendly business terus digaungkan Stuja Coffee kepada konsumennya. Meski tak selalu mendapat respon baik, namun Stuja tetap pada komitmen awal mengurangi sampah plastik.

Adlii mengatakan, selain menggunakan botol kaca, Stuja juga menggunakan kemasan Biodegradable plastic yang lebih mudah terurai daripada plastik biasa.

Yang di mana itu cepat mengurai lah. Lebih cepat mengurai dibandingkan bahan dasar plastik. Ya sebenarnya kita masih mencari terus, masih mengkaji terus dari tim Stuja-nya sendiri. Apa sih bahan yang bagus nih, bahan yang beneran ramah lingkungan nih, kayak gitu loh. Masih terus, kita masih terus nyari sampai sekarang yang bener-bener, oh dia ini. Karena sejujurnya memang masih belum ada yang sempurna dari semuanya

Jadi, minum kopi masih boleh?

Boleh, selama kita juga membangun kesadaran soal sampah plastik yang kita produksi dari kenikmatan minum kopi itu.

Gunakan sampah plastik semaksimal mungkin. Jangan akhirnya sampah plastik tersebut menjadikan bumerang bagi diri kita. Jadi kalau plastik itu masih bisa terpakai, dipakailah berulang kali.