Menjaga Denyut Hidup Sungai Citarum

"Semenjak peralihan semboyan kota Karawang, dari kota padi menjadi kota industri, sejak itulah kondisi Citarum mulai memburuk," kata Aep Saepudin, Koordinator Forkadas.

CERITA

Sabtu, 31 Okt 2015 21:45 WIB

Author

Ninik Yuniati

Menjaga Denyut Hidup Sungai Citarum

Dua petugas tengah berpatroli di Sungai Citarum. Foto: Sam Budiman/Forkadas

KBR, KARAWANG– Siang itu, di Kawarang Jawa Barat udara terasa begitu panas. Namun teriknya matahari tak menyurutkan semangat Novis dan David menyusuri jalanan sempit dan berdebu di Desa Gintungkerta, Kecamatan Klari. Keduanya adalah anggota tim patroli sungai Citarum.

Dengan mengendarai sepeda motor, Novis dan David sampai di lokasi saluran pembuangan limbah (outfall) pabrik-pabrik di Karawang. Mereka akan mengukur kualitas limbah yang dibuang ke sungai.

"Jadi kita melihat pengelolaan limbah pabrik-pabrik itu, kita pantau, kita cek, mulai dari pH (potential of hydrogen) sampai DO (dissolved oxygen), apakah sudah sesuai standar apa nggak," tutur Novis.

Titik yang mereka pantau merupakan satu dari belasan titik saluran pembuangan dengan potensi pencemaran tinggi. Ada tiga saluran pembuangan milik tiga pabrik yang rata-rata bergerak di produksi tekstil.

"Ini ada PT Sandang Makmur Anugerah, PT Canvas Industri sama PT Adi Putra. Jadi tiga outfall ini jadi satu, langsung ke Citarum," jelas pemuda berusia 28 tahun ini.

Novis dan David memeriksa satu persatu saluran limbah tersebut. Mereka mengecek warna dan bau air limbah serta mengambil gambar. Secara kasat mata, Novis menilai limbah dari tiga pabrik tersebut normal, "Kondisi airnya bisa dibilang, normal lah segini, kalau yang nggak normal biasanya warnanya lebih hijau, lebih coklat."

Selesai dengan tugasnya, mereka menuju markas tim patroli di jembatan apung untuk melihat kondisi sungai. Tampak kumpulan enceng gondok menutupi di beberapa bagian sungai. Beberapa ikan sapu-sapu terlihat mengambang di dekat kapal.

Kemarau panjang membuat volume air surut dan mengakibatkan sungai dangkal. Hal ini juga yang menyebabkan tim tidak berpatroli langsung di sungai dengan perahu karet.

"Karena kondisi seperti ini kita paksakan turun, jadi bocor perahu. Meski, sebenarnya lebih mudah di sungai, kalau jalur darat, pakai motor, ribet masuk-masuknya." ujar David.

Dua pemuda ini beranjak menuju titik pantau selanjutnya. Namun langkah Novis terhenti lantaran mendapati PT Sandang Makmur Anugerah tengah membuang limbah. Tampak air berwarna lebih hijau dan mengeluarkan bau yang kuat. "Sekarang sudah kehijau-hijauan, sekarang baunya udah lumayan menyengat lah dibanding yang tadi, arusnya lebih deras," kata Novis.

Novis buru-buru memotret saluran limbah perusahaan tersebut, sementara David memeriksa alat ukur kadar limbah (telemetri) yang terpasang di lokasi. Data pemantauan ini nantinya akan diserahkan kepada Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Kabupaten Karawang. "Kita bikin laporan jam sekian ada perubahan data. Ada perubahan kondisi outfallnya, kita laporin, kita serahkan ke BPLH," lanjutnya.

Sinergi Tiga Kaki

Tim patroli Sungai Citarum berada di bawah BPLH Karawang. Tim ini dibentuk Januari 2015 sebagai hasil kerjasama pemerintah dengan Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai (Forkadas) Citarum. Forkadas didirikan November 2012, oleh sekitar 50 komunitas beranggotakan ratusan warga yang peduli dengan Sungai Citarum.

Kepedulian warga muncul karena merasa prihatin dengan tingginya pencemaran di Sungai Citarum dua dekade terakhir.

Koordinator Forkadas Aep Saepudin mengatakan, sejak menjamurnya pabrik-pabrik di Karawang, Sungai Citarum lambat laun mengalami degradasi. Ini lantaran sungai dijadikan sentra pembuangan limbah pabrik-pabrik tersebut.

"Semenjak peralihan semboyan kota Karawang, dari kota padi menjadi kota industri, sejak itulah kondisi Citarum mulai memburuk," kata dia.

Padahal, sebelumnya Sungai Citarum menjadi pusat aktivitas masyarakat. Banyak nelayan yang memanen ikan di sungai sepanjang 300 kilometer tersebut.

"Waktu saya kecil aja, biasanya ketika anak-anak kecil yang habis disunat itu pasti ada himbauan dari para orang tua, biar cepat sembuh, mandi aja di Citarum." kenang Aep yang biasa dipanggil Boef ini.

Forkadas mulai gencar melakukan pemantauan kualitas Sungai Citarum sejak dua tahun lalu. Menurut Aep, insiatif ini dipicu oleh kejadian matinya ribuan ikan di sungai itu. "Jenis ikan sapu-sapu, sementara kita tahu ikan itu ikan paling kuat di sungai. Terus kita laporan ke pemerintah, alhamdulillah ditanggapi."

Inisiatif Forkadas ini disambut oleh pemerintah daerah dengan memasukkan tim patroli sungai dalam program BPLH. Kepala Sub-bidang Pengawasan BPLH Senjaya mengatakan, pihaknya merekrut delapan relawan Forkadas, termasuk Novis dan David, sebagai tenaga harian. Kedelapan orang ini bekerja lima hari dalam seminggu antara pukul 08.00-16.00 WIB.

"Kita menganggap perlu ada petugas yang mengawasi Sungai Citarum secara khusus. Akhirnya kita mengusulkan ke kabupaten untuk dibuatlah kegiatan patroli sungai dan ini dapat dukungan dari pemda, DPRD juga," ungkap Senjaya.

Forkadas merajut kerjasama ini lantaran mengaku tidak bisa bekerja sendiri. Ia juga memandang pihak swasta mesti mengambil peran dan menjadi bagian dari stakeholder di lingkungan Sungai Citarum.

“Kita punya moto awal, itu mensinergikan tiga unsur, antara masyarakat, pemerintah dan perusahaan. Karena penanganan masalah lingkungan tanpa melibatkan tiga unsur tersebut, itu akan terasa sia-sia,” tutur Aep.

BPLH mengakui patroli sungai, meningkatkan kepatuhan puluhan perusahaan yang membuang limbah di Citarum. Ini terlihat dari sanksi administrasi kepada perusahaan, dari 24 tahun lalu, menurun menjadi 19. Data pantauan tim patroli digunakan sebagai bahan evaluasi dan pengawasan. BPLH juga bisa melakukan penindakan berbekal data tersebut.

“Dampaknya cukup signifikan, pelanggaran-pelanggaran itu sudah berkurang lah. Yang tadinya agak sering kita dengar ada warna berubah, tapi sekarang setelah patroli sungai mereka jadi sepengetahuan kami lebih hati-hati,” jelas Senjaya.

Melihat manfaat yang dibawa tim patroli sungai, BPLH bakal melanjutkan program ini tahun depan. Menurut Senjaya anggaran untuk patrol sungai berkisar 400 juta rupiah. “Patroli sungai ini setahunnya 400 juta, separuhnya untuk honor tenaga patroli sungai. Kita masih masukin program, saya masih berpikir, itu masih jalan untuk di 2016,” pungkasnya.


Editor: Malika

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Menyoal Program Restrukturisasi Jiwasraya

Kabar Baru Jam 8

Kapan Kekebalan Terbentuk Usai Vaksinasi Covid-19?

Kabar Baru Jam 10