Sri Lanka Blokir Media Sosial Pasca Serangan Bom

“Sebelum WhatsApp ditutup, saya sempat dikirimi dokumen yang menyebut nama dua pelaku bom bunuh diri,” ujar Roshni Fernando, warga kota Kolombo.

RUANG PUBLIK , BERITA , INTERNASIONAL

Senin, 22 Apr 2019 14:49 WIB

Author

Adi Ahdiat

Sri Lanka Blokir Media Sosial Pasca Serangan Bom

Petugas militer Sri Lanka berjaga di depan gereja St. Anthony's Shrine, Kolombo (21/4/2019). Gereja ini adalah salah satu dari delapan lokasi yang menjadi target serangan bom di Sri Lanka (Foto: ANTARA/REUTERS/Dinuka Liyanawatte/hp/cfo).

Tepat pada hari perayaan Paskah, terjadi serangan bom beruntun di Sri Lanka yang memakan ratusan korban jiwa (21/4/2019).

Tak lama setelah kejadian pemerintah setempat langsung memblokir akses ke sejumlah media sosial. Hal ini dilakukan untuk mencegah tersebarnya informasi-informasi menyesatkan yang berpotensi memicu kekerasan lanjutan.

“Pemerintah Sri Lanka telah mengambil langkah-langkah untuk memblokir sementara semua media sosial sampai investigasi selesai,” ujar Udaya R. Seneviratne, perwakilan dari kantor presiden Sri Lanka, dalam pernyataan resmi yang dikutip TheGuardian.com (21/4/2019).


Warga Sri Lanka Sempat Terima Informasi Samar Lewat WhatsApp

Sebelum pemblokiran dilakukan, beberapa warga Sri Lanka sudah sempat menerima informasi yang belum diverifikasi tentang identitas pelaku teror.

“Sebelum WhatsApp ditutup, saya sempat dikirimi dokumen yang menyebut nama dua pelaku bom bunuh diri,” ujar Roshni Fernando, warga kota Kolombo, kepada TheGuardian.com.

Sanjana Hattotuwa, seorang periset yang sedang meneliti media sosial di Sri Lanka, juga mengaku telah menyaksikan persebaran misinformasi soal pelaku bom di media sosial. Namun, ia meragukan bahwa pemblokiran media sosial bisa efektif mencegah kekerasan.

“Pemerintah (Sri Lanka) akan diarahkan untuk membendung misinformasi yang bisa memicu kekerasan di lapangan. Yang tidak jelas, apakah ini akan membantu,” ujarnya kepada TheGuardian.com (21/4/2019).

Sanjana Hattotuwa menambahkan, “Kami menemukan bahwa komunitas menjadi sasaran dari tindakan individu. Karena sekarang sudah beredar di publik bahwa ini adalah bom bunuh diri, komunitas tertentu akan menjadi sasaran," ujarnya.

Meski ada yang meragukan, di sisi lain ada juga kelompok warga yang mengapresiasi langkah pemblokiran.

"Menutup media sosial ini benar-benar ide yang bagus. Saya sempat dikirimi informasi yang menyebut orang Muslim sebagai pelaku bom bunuh diri, sekalipun pemerintah belum mengumumkan pelakunya secara resmi. Tidak menutup media sosial bisa membuat orang mengatur serangan dan kerusuhan terhadap Muslim," ujar seorang warga kota Kolombo, Sri Lanka, kepada TheGuardian.com (21/4/2019).

Menteri-menteri dari jajaran pemerintahan Sri Lanka juga ikut memperingatkan agar masyarakat berhati-hati dalam menyebar informasi yang belum diverifikasi oleh pihak berwenang.


Belum Ada Pernyataan Resmi Soal Identitas Pelaku

Hingga hari ini (22/4/2019) dilaporkan bahwa serangan teror bom di Srilanka telah memakan sekitar 290 korban jiwa dan sekitar 500 korban luka-luka.

Sebagian besar korban adalah warga Sri Lanka. Ada juga sekitar 30 korban tewas yang merupakan warga negara Inggris, India, serta Jepang.

Menteri Pertahanan Sri Lanka, Ruwan Wijewardene, menyatakan bahwa sudah ada 24 orang tersangka yang ditahan.

Pelakunya disebut berasal dari kelompok ekstrimis agama. Tapi sampai sekarang belum ada pernyataan resmi tentang kelompok ekstrimis agama mana yang dimaksud.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Eps.2: Kuliah di UK, Cerita dari Rizki Putri Part 2

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17