Merawat Keberagaman di Sekolah Selamat Pagi Indonesia

Sekolah ini menerima murid dari seluruh kepulauan Indonesia dan agama apapun di Indonesia, tanpa melihat kemampuan dalam bidang akademis.

RUANG PUBLIK

Jumat, 01 Mar 2019 13:20 WIB

Author

Nurhayati

Rombongan dari SMA Selamat Pagi Indonesia saat talkshow di studio KBR. (Foto: KBR)

Rombongan dari SMA Selamat Pagi Indonesia saat talkshow di studio KBR. (Foto: KBR)

KBR, Jakarta - Penerapan nilai toleransi sangat penting untuk menciptakan bangsa yang damai. Tapi keberagaman yang ada di Indonesia sering memicu konflik dan kekerasan di kalangan masyarakat. Karena itu penting bagi setiap warga negara untuk membangun toleransi dan menghargai perbedaan. Inilah yang dirasakan dan dialami para siswa yang bersekolah di SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI), Batu, Jawa Timur. 

Ini adalah sekolah gratis untuk anak tidak mampu dan yatim piatu. Sekolah ini juga menerima murid dari seluruh kepulauan Indonesia dan agama apapun di Indonesia, tanpa melihat kemampuan dalam bidang akademis.

Kepala Sekolah SMA Selamat Pagi Indonesia, Risna Amalia menceritakan, saat memulai sekolah ini pada 2007 lalu, SPI menerima 30 siswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan persentase agama yang beragam.  40 persen beragama Islam, 20 persen Protestan, 20 persen Katholik, 10 persen  Hindu, dan 10 persen Budha.  Para pelajar pun berasal hampir dari seluruh provinsi di Indonesia, mulai dari Papua hingga Aceh. 

“Karena dari seluruh Indonesia, otomatis siswa-siswa tinggal di asrama, sehingga anak-anak kami diberikan pendidikan gratis itu selama tiga tahun penuh, bahkan mulai dari terima formulir sampai terima ijazah. Semuanya free 100 persen,” ungkap Risna saat berbicara di Talkshow Ruang Publik KBR Senin (18/02/2019). 

Karena gratis 100 persen dan tak ada persyaratan akademik, sekolah ini pun sempat diisukan ada motivasi terselubung.

“Dua tahun kami diisukan sekolah kristenisasi. Padahal kami hanya ingin menolong anak-anak ini, hanya untuk membangun sebuah keluarga yang Indonesia banget,” jelasnya.

Di dalam area sekolah,  kata Risna, ada kawasan bernama Spiritual Garden. Di dalamnya terdapat lima tempat  ibadah yang berbeda yaitu tempat untuk beribadah agama  Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Kelimanya saling berdampingan. Guru agamanya pun berjumlah lima orang, sesuai dengan jumlah agama siswa yang ada di sekolah ini.

Wakil Kepala Sekolah, Didik Tri Hanggono, menambahkan kurikulum yang dipakai di SPI, juga sama dengan kurikulum yang digunakan pemerintah. Jurusan yang ditawarkan  adalah IPA dan IPS dan juga menggunakan Ujian Nasional.

Sekolah ini pun sudah terakreditasi A. Tak hanya itu, karena banyak siswa yang tidak mampu, sekolah ini juga memberikan bekal non akademis, agar setelah menamatkan sekolah, siswa  bisa langsung  bekerja.

Menurut Didik, sekolah ini mau menerima anak-anak dengan latar belakang berbeda karena prihatin dengan anak-anak yang kurang mampu dalam membiayai pendidikannya.

“Pendiri Yayasan SPI ikut prihatin dengan banyaknya konflik-konflik terkait isu SARA yang terjadi, itu sebabnya kami menerima beragam anak untuk membangun toleransi satu sama lain,”ujarnya. 

Salah satu alumni dari SMA Selamat Pagi Indonesia,  Olfarida Pode’u, menceritakan awal mula dirinya dapat memasuki sekolah ini. Ayahnya meninggal dunia pada 2007, sejak itu keluarganya mengalami penurunan ekonomi yang drastis, kemudian dokter yang merawat ayahnya ketika sakit menawarkan kepada Olfa untuk bersekolah di Sekolah gratis SPI. 

“Nah, akhirnya tahun 2008, itu saya langsung mendaftar di SMA Selamat Pagi Indonesia, dan memang ya seperti yang dikatakan, kami datang kesana cuma bawa pakaian aja dari rumah, semuanya sudah disiapkan di asrama,” jelasnya.

Olfa senang berada di sekolah ini, karena ia bisa menemukan beberapa hal menarik, salah satunya bisa mempelajari  bahasa dan logat daerah siswa lain dan mengetahui cara beribadah agama lain tanpa memandang perbedaan. 

“Selain itu, kami dalam satu kamar memang sudah diatur, harus beda daerah, beda agama dan beda kelas. Jadi disitu saling ngobrol, saling bertukar pengalaman,” paparnya.

Anak didik lain yang juga belajar di sekolah ini adalah Sayyidah, Dafa, dan Natanael. Mereka bertiga mengaku merasakan hal yang sama dan berasal dari keluarga yang kurang mampu.

Sekolah ini didirikan oleh Julianto Eka Putra sejak 2007. Julianto adalah seorang top leader di High Desert yang merupakan perusahaan pemasaran MLM dan Billionaires Support System.

Awalnya, Julianto Eka Putra  prihatin, beberapa kali ada berita anak bunuh diri di Indonesia. Salah satu penyebabnya karena tidak mampu  membayar uang sekolah. Julianto pun terketuk untuk meringankan beban tersebut.

Akhirnya, menurut Risna, Julianto menyampaikan idenya untuk mendirikan sebuah sekolah gratis. Ia menyampaikan itu dihadapan 2000 rekan kerja enterpriser-nya, saat mengadakan training di Surabaya. Impiannya pun terwujud. Rekan-rekannya menyumbangkan lima persen dari bonus pendapatan setiap bulan untuk membangun sekolah maupun untuk sumber pendanaan setiap bulannya. 

Sekolah ini pun terbangun tiga tahun lebih cepat dari perkiraan.  Kini, SPI memiliki rencana untuk membuka perguruan tinggi. 

Bagi anda yang ingin mengetahui informasi lebih lanjut tentang Sekolah Selamat Pagi Indonesia ini dapat melihat di sini mereka atau pendaftaran melalui contact person Didik di 087759886002. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Keluarkan Biaya Sendiri untuk Visum