#Playunplugged Ajak Bermain dan Berinteraksi Langsung

Board game butuh teman ngobrol, butuh melihat lawan kita dan butuh kerja sama.

RUANG PUBLIK

Kamis, 28 Feb 2019 14:30 WIB

Author

Nurhayati

Febndy Kwik, Mentor Arcanum Academy (kiri) dan Galih Aristo, Founder Arcanum Academy (kanan) sedang

Febndy Kwik, Mentor Arcanum Academy (kiri) dan Galih Aristo, Founder Arcanum Academy (kanan) sedang memainkan Flipeek Medieval. (Foto: KBR)

KBR, Jakarta - Ponsel pintar saat ini menjadi salah satu bagian penting kehidupan banyak orang. Banyak hal yang bisa didapat dari ponsel pintar. Selain digunakan untuk mencari informasi, bagi yang hobi permainan online, tentu bisa memanfaatkannya.

Namun, dengan banyaknya variasi game online yang kian lama kian digemari dan populer, membuat berbagai macam permainan offline atau manual, makin jarang dilirik orang. Contohnya, permainan yang menggunakan papan permainan atau board game yang biasanya dimainkan oleh dua orang atau lebih. 

Anda yang berusia 20 tahun ke atas, mungkin masih merasakan seru dan asiknya bermain board game bersama teman sebaya, tetangga atau saudara. Kini, hal itu jarang terlihat.

Nah, agar permainan papan tak punah, komunitas Arcanum Hobbies, sejak 4 tahun lalu hadir untuk mempertahankannya. Komunitas ini bahkan menggerakkan kampanye #playunplugged agar para pemain bisa berinteraksi secara langsung. 

Galih Aristo, Founder Arcanum Academy - salah satu program dari Arcanum Hobbies, mengatakan selain bisa berinteraksi langsung, ada banyak manfaat lain dari bermain board game. Seperti, mendapat banyak teman-teman baru, serunya merasakan bermain sambil belajar dan bisa mengasah otak. Bahkan, ada pula beberapa game yang membutuhkan strategi dan kerja sama. Selain itu, board game juga dapat memberi perasaan atau kesan berbeda yang tidak bisa diberikan oleh permainan online. 

“Ketika kita bermain board game, beda rasanya sama main online. Board game butuh teman ngobrol, butuh melihat lawan kita dan butuh kerja sama. Ada beberapa game yang dibutuhkan kerja sama untuk menyelesaikan masalahnya,” papar Galih saat Talkshow Ruang Publik KBR pada Jumat (22/02/2019).

Untuk mengajak teman-temannya agar kembali mengingat atau mencintai board game, Galih membuka sesi bermain di garasi rumahnya bersama teman-teman masa sekolahnya dulu. Saat ngumpul, ia tak sungkan untuk menawarkan board game

“Dari situ bertambah terus, jadi teman-teman yang sudah bermain board game, mengajak teman-temannya yang lain datang ke rumah. Jadi kayak MLM atau berjejaring untuk bereksperimen bermain board game,” jelas Galih.

Kebalikan dari board game, menurut Galih, pada era digital ini justru banyak orang yang berkumpul bersama namun tidak berbicara satu sama lain melainkan terpaku pada ponsel masing-masing. Itulah alasan mengapa mereka mengkampanyekan #playunplugged. 

Febndy Kwik, selaku Mentor Arcanum Academy juga mencontohkan, bermain monopoli di tablet dengan bermain monopoli secara langsung, rasanya beda.

“Misal, saat lempar dadu. Kalau kita main monopoli di tab, saat dipencet memang  muncul gambarnya. Tetapi berbeda kalau kita bisa melempar sendiri. Rasa dan randomnya, seolah keputusan ada di tangan kita. Padahal sebenarnya sama saja, tapi perasaan kita beda. Dan itu tak bisa direflikasikan atau diberikan oleh aplikasi di gadget,” jelas Febndy.

Ada banyak board game yang beredar di masyarakat, seperti Monopoli, Halma, Ludo, Ular Tangga dan lain-lain yang bisa dimainkan secara manual. Termasuk board game dengan teknik memory game, yang membutuhkan strategi, yaitu Flipeek Medieval. Game  ini didesain Febndy Kwik.

Flipeek Medieval, menurut Febndy bisa dikatakan sebagai permainan mengintip dan membalik kartu. 

“Kalau permainan  klasiknya, memory game Flipeek Medieval ini seperti menyama-nyamakan barang. Bedanya, kalau di permainan klasik, kita harus mencari barang yang sama, barang A dengan barang A di kumpulan kartu yang tertutup semua. Tapi di kumpulan kartu Flipeek Medieval ada 12 kartu, yang gambarnya berbeda semua, dan harus disamakan dengan cerita dalam permainan tersebut.

Permainan kartu yang ia mainkan di studio KBR, menceritakan tentang Raja Manusia dan Raja Naga yang sedang berperang. Dalam permainan ini, pemain diminta untuk menemukan perlengkapan-perlengkapan raja untuk berperang. Flipeek ini terdiri dari 3 mode permainan, dan pemain harus mengerahkan semua kemampuan ingatannya.

Flipeek Medieval telah dipasarkan sejak 2016 lalu, dan dapat dibeli melalui toko Arcanum Hobbies atau di tokopedia, harganya sekitar Rp. 250.000. 

Sampai saat ini Febndy Kwik telah mendesain 3 macam permainan dan telah dipasarkan secara bebas. Febndy berharap, ke depannya board game di Indonesia bisa seperti di Eropa atau Amerika. Di sana, menurutnya, board game menjadi suatu aktivitas yang biasa dan rutin dilakukan bersama keluarga dibanding bermain gadget. Sedangkan Galih berharap, pembelajaran board game dapat ditambahkan dalam kurikulum sekolah.

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Perlindungan Hukum untuk Para Pembela HAM Masih Lemah

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Belajar HAM di Museum HAM Munir