Kerjasama KBR dengan SATGAS COVID-19

Vaksin, Melindungi Diri Sendiri dan Orang Lain dari Penularan Covid-19

Pada ilmu ekonomi kesehatan vaksin termasuk dalam istilah externality positif. Dalam bidang Kesehatan faktor externality positif adalah upaya-upaya pencegahan yang kita lakukan

RAGAM

Selasa, 01 Des 2020 22:16 WIB

Author

Paul M Nuh

Vaksin, Melindungi Diri Sendiri dan Orang Lain dari Penularan Covid-19

dr. H. Mohamad Subuh, MPPM bersama moderator Jeremy Teti dalam dialog mengenai vaksinasi: pencegahan vs pengobatan di Jakarta. Selasa, 1 Desember 2020.

Jakarta - Masyarakat perlu menyadari bahwa kesehatan adalah aset penting dan investasi masa depan, sehingga upaya-upaya pencegahan menjadi relevan dengan kebutuhan masyarakat dan sejalan denngan program pemerintah.

dr. H. Mohammad Subuh MPPM, Staf Ahli Bidang Ekonomi Kesehatan Kementerian Kesehatan dalam Dialog Produktif bertema Pencegahan dan Pengobatan yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Selasa (1/12), menjelaskan, bahwa ada masalah yang harus diantisipasi hingga ke tatanan individu jika terjadi pandemi seperti Covid-19. Pertama masalah kesehatan, kedua masalah ekonomi, kemudian gangguan keamanan.

“Saya kira pemerintah kita sudah all out, dari sektor kesehatan dananya begitu besar, stimulus perekonomian juga dananya besar. Tujuannya satu, ingin menyehatkan individu, karena kalau individu sehat, akan membuat produktivitas meningkat, sehingga pendapatan individu meningkat, dan berdampak pendapatan negara juga ikut meningkat. Jadi dengan melindungi kesehatan kita juga melindungi negara”, jelas dr. Subuh.

Perawatan pasien Covid-19 menelan biaya cukup besar, sekitar Rp184 juta per orang. Hal ini karena pasien Covid-19 memerlukan penanganan khusus. Menurut dr. Subuh, jika masuk ICU bisa menelan biaya Rp15 juta per hari. Kalau ada penyakit penyerta bisa bertambah menjadi Rp17 juta. Dan ini harus ditanggung negara. Karena sumber dayanya terbatas, maka harus dioptimalkan dengan upaya pencegahan.

Pada ilmu ekonomi kesehatan vaksin termasuk dalam istilah externality positif. “Nilai externality pada vaksin ini sangat besar sekali, karena saat kita menerima vaksin, tidak hanya melindungi diri sendiri tapi juga orang lain. Dalam bidang Kesehatan faktor externality positif adalah upaya-upaya pencegahan yang kita lakukan, dan yang salah satunya dalam bidang kesehatan disebut perlindungan spesifik adalah imunisasi”, terang dr. Subuh.

Menjawab keraguan sebagian kecil masyarakat terkait vaksin, dr. Subuh menjelaskan, “Selama ini 1620 relawan yang melakukan uji klinik vaksin COVID-19 fase III di Bandung tidak menemui kendala yang berarti, artinya baik-baik saja. Kemudian pemerintah juga akan mendatangkan vaksin dari luar negeri yang sudah selesai melakukan uji klinik fase III. Yang juga penting digarisbawahi adalah, pemerintah sudah melakukan simulasi, sebagai bentuk uji coba untuk menimbulkan kepercayaan. Di Bogor Presiden terlibat langsung dalam simulasi, di Kerawang Wakil Presiden, ini artinya pemerintah sangat serius mempersiapkan, sehingga nanti ketika vaksin datang kita sudah siap melakukan vaksinasi”.

Di samping itu vaksinasi juga perlu proses, perlu izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Negara memiliki kewenang tersendiri dan otorisasi mandiri untuk memberikan izin peredaran suatu obat, tapi tentu mengedepankan azas kehati-hatian mempertimbangkan keamanan, efektivitas, dan kehalalannya”, terang dr. Subuh.

“Pada saat ini pemulihan kesehatan dan ekonomi bisa dilakukan dengan menjaga budaya 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak), karena tanpa upaya seperti ini maka pemulihan ekonomi Indonesia sangat sulit. Bagi masyarakat tidak perlu ragu, saat vaksin datang, pasti sudah dijamin proses memastikan keamanan dan efektivitasnya”, tutup dr. Subuh.

(Redaksi KBR mengajak untuk bersama melawan virus Covid-19. Selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan dengan 3M, yakni; Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan dengan Sabun).

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RAGAM

Most Popular / Trending

Utang Negara Kian Meningkat

Kabar Baru Jam 7

Peran UMKM Pangan dalam Pemberdayaan Ekonomi Gambut

Kabar Baru Jam 8

Desakan Memberantas Intoleransi di Sekolah