ADVERTORIAL

Waspadai Long Covid, dapat Merusak Jaringan Tubuh hingga Gangguan Imun

Vaksin utamanya untuk menurunkan gejala berat dan risiko kematian. Artinya semua yang sudah divaksinasi masih berisiko terinfeksi tapi dengan jumlah virus yang jauh lebih sedikit

RAGAM

Jumat, 04 Jun 2021 16:45 WIB

Waspadai Long Covid, dapat Merusak Jaringan Tubuh hingga Gangguan Imun

Ilustrasi. Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga pada vaksinasi massal di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (4/6/2021). ANTARAFOTO/Basri Marzuki/hp.

Pasien Covid-19 yang sudah dinyatakan sembuh masih akan merasakan Long Covid, yaitu gejala yang masih dirasakan setelah empat pekan sejak mulai merasakan sampai dinyatakan negatif. Walaupun gejala ini bisa diatasi tapi pasien patut waspada.

dr. Yahya Sp.P, Kombespol & dokter spesialis paru Kabag Pembinaan Fungsi RS. Bhayangkara R. Said Sukanto, memaparkan 53,7% pasien merasakan gejala Long Covid selama satu bulan, 43,6% selama 1-6 bulan, dan 2,7% lebih dari 6 bulan. “Gejala Long Covid dimulai dari pelemahan fisik secara umum, sesak napas, nyeri sendi, nyeri otot, batuk, diare, kehilangan penciuman, dan pengecapan.” terangnya dalam Dialog Produktif bertema Long Covid, Kenali dan Waspadai yang adakan KPCPEN dan ditayangkan di FMB9ID_IKP, Kamis (3/6).

Menurut dr. Yahya, pasien laki-laki lebih besar peluangnya terkena Long Covid karena gaya hidup, antara lain merokok. Selain itu gejala ini juga dipicu oleh kondisi psikologis pasien.

Sementara menurut Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika, Ahli Virologi Universitas Udayana, Long Covid bisa merusak jaringan tubuh dalam jangka panjang hingga gangguan respon imun dan gangguan saraf. Oleh karenanya jangan dianggap enteng.

Salah seorang penyintas Covid-19, Cahyandaru menceritakan pengalamannya. Dia sempat kehilangan indra penciuman dan pengecapan selama sekitar satu bulan. Bahkan hingga kini menurutnya, indra penciumannya belum kembali normal.

dr. Yahya menyarankan untuk pasien yang pernah kehilangan indra penciuman dan pengecapan mencoba membangkitkannya dengan mencium aroma yang baunya menyengat seperti minyak kayu putih atau parfum. Terapi ini disarankan dilakukan setiap hari hingga indra penciumannya dirasa pulih.

Prof. Mahardika mengingatkan kembali kalau vaksinasi tidak membuat orang kebal. Vaksin utamanya untuk menurunkan gejala berat dan risiko kematian. Artinya semua yang sudah divaksinasi masih berisiko terinfeksi tapi dengan jumlah virus yang jauh lebih sedikit dibanding yang belum divaksinasi.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RAGAM

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Mencari Solusi Krisis Pengelolaan Sampah di Indonesia

Kabar Baru Jam 8

Inspirasi Bisnis dari Aerostreet

Kian Merebak Covid Varian Delta