Bagikan:

ADVERTORIAL

Peringatan Hari Kesehatan Menstruasi: Mari Akhiri Stigma Menstruasi

Sepanjang kita masih abai terhadap stigma dan tabu yang masih ada terkait menstruasi, maka para perempuan yang mengalami menstruasi akan dilabelkan sebagai “berbeda”.

RAGAM

Senin, 30 Mei 2022 13:39 WIB

Peringatan Hari Kesehatan Menstruasi: Mari Akhiri Stigma Menstruasi

“Seminar Nasional Kesehatan Reproduksi: Penanganan Menstruasi Pada Remaja”, Rabu 25 Mei 2022 pukul 09.00-12.00 WIB di Hotel Royal Kuningan Jakarta Selatan.

Kbr, Jakarta - Hari Kesehatan Menstruasi Dunia diperingati setiap tanggal 28 Mei. Peringatan ini dicanangkan pertama kali pada tahun 2014 demi menyoroti pentingnya pendidikan menangani mestruasi yang sehat, sehingga perempuan akan lebih berdaya serta menjalani hidup yang sehat dan tangguh.

Indonesia turut memperingati Hari Kesehatan Menstruasi bersama Kementrian Sosial dan Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat (YKIS) dengan menyelenggarakan “Seminar Nasional Kesehatan Reproduksi: Penanganan Menstruasi Pada Remaja”, Rabu 25 Mei 2022 pukul 09.00-12.00 WIB di Hotel Royal Kuningan Jakarta Selatan. Seminar menghadirkan narasumber dari BKKBN Deputi Bidang KB dan Kespro dr. Eni Gustina, MPH, Devi Fitriyana dari PKBI dan Nimaz Dewantary artis film dan sinetron.

Eni Gustina mengatakan, “Manajemen menstruasi merupakan hal yang sangat penting karena sangat berdampak pada tahapan kehidupan selanjutnya, jika sekali kita terinfeksi maka akan menyebabkan kondisi kronis akibat dari kurangnya kesadaran menjaga kesehatan reproduksi”.

Lebih dari 500 juta perempuan dan remaja perempuan di seluruh dunia kekurangan fasilitas yang memadai untuk penanganan kesehatan menstruasi. Berdasarkan data BPS 2021 remaja perempuan usia 10-19 tahun berjumlah 21,5 juta. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyebutkan 70,1% remaja sudah mendapat menstruasi. Tertinggi di Gorontalo sebesar 74,2%, diikuti oleh DKI Jakarta 72,8%, Yogyakarta 72,8% dan Kalsel 72,7%. Sedangkan provinsi yang paling sedikit jumlah remaja perempuan yang sudah menstruasi adalah Papua 57,5% dan NTT 58,7%.


“Sepanjang kita masih abai terhadap stigma dan tabu yang masih ada terkait menstruasi, maka para perempuan yang mengalami menstruasi akan dilabelkan sebagai “berbeda” dan akan mengurungkan upaya mereka untuk mencapai potensi maksimalnya,” kata Guillermina Alaniz, AHF Director of Global Advocacy and Policy.

Remaja perempuan yang sudah menstruasi perlu mendapat layanan kesehatan reproduksi. Tersedianya paket perlengkapan kebersihan menstruasi di tempat mudah terjangkau dapat membantu remaja perempuan dalam menghadapi menstruasi pertamanya tanpa ketakutan, stigma atau perundungan.

Baca juga: Hari Kebersihan Menstruasi dan Pentingnya Edukasi pada Remaja Perempuan

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?