Calon Pemimpin KPK

Bila terindikasi dan didukung bukti kuat melakukan korupsi harus berani menindaknya. Beranikah para polisi, jaksa, dan hakim itu menindak kolega atau bekas atasannya?

OPINI , EDITORIAL

Selasa, 16 Jul 2019 00:43 WIB

Author

KBR

Aksi teatrikal aktivis antikorupsi

Aktivis Gerakan Masyarakat Sipil Bersihkan Indonesia melakukan aksi teatrikal di Gedung KPK, Jakarta. (Foto: Antara/Sigid Kurniawan)

Sebanyak 13 anggota polisi pekan ini akan mengikuti tes kompetensi untuk menjadi pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selain itu ada 18 jaksa dan hakim yang juga lulus. Mereka pada pekan lalu dinyatakan lolos seleksi administrasi bersama seratusan lainnya dari beragam pekerjaan. Dari mulai akademisi, pengacara sampai pegawai dan komisioner lembaga antirasuah itu. Total semuanya ada 192 calon.

Banyaknya calon yang lolos seleksi awal tentu patut disyukuri. Banyak pilihan, makin besar peluang panitia seleksi mendapatkan calon yang terbaik. Sosok kompeten yang bersih serta punya integritas dalam kerja besar pemberantasan korupsi.

Sosok demikian bukan perkara mudah didapat. Apalagi bila kelak perkara yang ditangani ditengarai   menyangkut atau melibatkan  kolega apalagi petinggi di tempat asal. Konflik kepentingan bisa mempengaruhi pertimbangan atau malah memanipulasi meski bukti permulaan cukup kuat.

Seorang calon pemimpin KPK mesti punya keberanian di atas rata-rata. Siapa saja bahkan bekas atasan sekalipun, bila terindikasi dan didukung bukti kuat melakukan korupsi harus berani menindaknya. Beranikah para polisi, jaksa, dan hakim itu menindak kolega atau bekas atasannya? 

Itu sebab kita mendorong Pansel Pemimpin KPK  mempertimbangkan  rekam jejak calon.  Dan tentu saja kemungkinan konflik kepentingan  untuk menguji kredibilitas calon. Bila  sedikit saja ada keraguan menindak,  jangan sungkan mencoret polisi, jaksa atau hakim dari daftar calon. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 8

News Beat

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19