Share This

Menagih TGPF

Kalau Kepolisian juga Komnas HAM tak bisa segera menuntaskan kasus, kemana lagi Novel mesti mencari keadilan?

OPINI , EDITORIAL

Selasa, 10 Apr 2018 05:25 WIB

Ilustrasi: Aksi mendesak pengungkapan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan

Ilustrasi: Aksi mendesak pengungkapan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan (Foto: Antara)

Setahun kurang sehari tepat penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan diserang orang dengan menggunakan air keras. Akibat serangan usai salat subuh  itu mata Novel nyaris buta. Hingga kini setelah berbulan-bulan berobat di negeri jiran, penglihatannya belum pulih. Sejumlah operasi masih diperlukan,  untuk mengembalikan penglihatannya mendekati kondisi semula.

Akhir Februari lalu Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) membentuk tim pemantau untuk mencari jawaban mengapa kasus ini lambat penyelesaiannya. Komnas ingin memastikan Kepolisian Indonesia memenuhi hak warganya atas keadilan. Lembaga HAM itu sudah meminta keterangan Novel juga penyidik KPK, tapi seperti juga kepolisian tak ada kejelasan tim ini bisa mempercepat penuntasan kasus.

Kalau Kepolisian juga Komnas HAM tak bisa segera menuntaskan kasus, kemana lagi Novel mesti mencari keadilan? Seorang penyidik hukum yang menjadi ujung tombak pemberantasan korupsi saja sulit mendapat keadilan, bagaimana dengan warga biasa? Bisa jadi orang lantas bersyak wasangka ada kekuatan besar yang terlibat sehingga kasus ini tak bisa segera dituntaskan.

Kini kunci penuntasan kasus ada pada keputusan Presiden Joko Widodo. Saat kunjungan kerja di Sukabumi pada dua hari lalu, Jokowi bilang masih menunggu Kapolri. Jelang setahun penyerangan, sepatutnya Presiden tak lagi menunggu. Kini saatnya Jokowi bertindak dengan membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).  Untuk memastikan kasus ini terungkap tuntas. Demi keadilan bagi penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.