covid-19

Speed Mentoring Demi Tingkatkan Skala Bisnis

Ajang curi ilmu dari entrepreneur yang sudah berhasil.

OBROLAN EKONOMI | BERITA | NASIONAL

Kamis, 24 Mar 2016 17:23 WIB

Author

Eka Jully

Speed Mentoring Demi Tingkatkan Skala Bisnis

Suasana Speed Mentoring Entrepreneur di Hotel Shangrilla, Jakarta, Kamis (24/3/2016). (Foto: Eka Jully)

KBR - Ballroom Hotel Shangrilla, Kamis (24/3/2016) tampak ramai. Ada 300an entrepreneur muda dan senior di sana - separuhnya adalah mentor sementara sisanya adalah mentee.

Ini adalah acara Scale Up Indonesia, Celebrating High-Impact Entrepreneurship yang diadakan oleh Endeavour Indonesia. Para mentor yang hadir di sini adalah pemimpin bisnis atau entrepreneur yang profesional. Mereka bergerak di berbagai bidang, mulai dari talent management, fund rising, teknologi, retail, makanan dan minuman, media, industri kreatif dan sebagainya. Mentor memberikan masukan  dan solusi terhadap persoalan atau hal-hal yang ingin dikembangkan dari bisnis yang ditekuni oleh enterprenuer baru atau yang disebut mentee.

Speed Mentoring

Sesi utama hari ini: speed mentoring. Mentor dan mentee saling berhadapan. Mentee mendapatkan waktu 25 menit untuk satu sesi tanya jawab dengan mentor yang ditunjuk. Begitu waktu habis, langsung pindah duduk, lanjut dengan sesi speed mentoring dengan mentor lain. Bidang yang digeluti si mentor bisa sama atau beda dengan si mentee. Setiap mentee mendapatkan kesempatan untuk mendalami dua topik yang berbeda dengan 5-6 mentor.

Begitu mendekati menit ke-25, akan terdengar bunyi lonceng. "Waktu selesai!" begitu kata MC. Mengingat waktu yang begitu pendek, banyak dari mentees yang curi-curi waktu melanjutkan obrolan dengan sang mentor.

Salah satu mentor adalah pemimpin redaksi sekaligus Chief Community Officer Majalah Femina Petty Fatimah. Di ajang tahunan kali ini, ia menjadi mentor untuk bidang Marketing and Brand dan Human Resources. 

“Sebelum break  tadi,  saya mendapatkan 3 mentees. Ada yang menggeluti  bidang IT, fashion dan café. Salah satu dari mereka ada yang bertanya bagaimana menghadapi anak buah yang berusia baru 20 tahunan dan masih terlihat belum serius bekerja atau ‘bandel'. Tapi, kebanyakan masalah yang muncul adalah, mereke belum memahami apa arti dari wirausaha itu sendiri,” ujar Petty. Ia sudah tiga kali dipercaya menjadi mentor di ajang yang diselenggarakan oleh Endeavor ini.

Ada juga pemilik kebab Turki Baba Rafi yang tersohor, Hendy  Setiono, Presiden Director PT Baba Rafi Indonesia. Pria kelahiran Surabaya ini  menjadi mentor di bidang retail serta makanan dan minuman. Menurut dia, kebanyakan dari mentees bertanya bagaimana mengembangkan bisnis supaya mempunyai cabang yang banyak di luar negeri dan dalam negeri. Ada pula yang ingin tau bagaimana meningkatkan penjualan atau bisa mengembangkan  cabang tanpa modal besar.

“Kebetulan kita dari Baba Rafi spesialis di franchise, jadi hal-hal seperti itu bisa kita berikan tipsnya  kepada adik-adik yang baru memulai usahanya. Salah satu tipsnya adalah, dia sudah punya bisnis modal yang baik, bisa membuat satu proposal bisnis. Dengan itu mereka sudah bisa menawarkan kepada calon investor dan  franchise. Dari situ, produk mereka  tidak hanya bisa dinikmati di kota tempat mereka berjualan saja, tapi  sudah bisa berkembang ke seluruh Indonesia,” ujarnya.

Di acara ini, Hendy mengaku, bukan sekedar sesi tanya jawab saja, tapi ia pun bisa belajar dari bisnis teman-teman  yang  lain, yang hadir di acara tersebut. Ia pun siap menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang kini sudah mulai berlangsung.

“Kebetulan bisnis kami sudah berkembang menjadi 1200 outlet di 8 negara mayoritas  ASEAN, seperti Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Srilanka, Belanda dan Cina. Dalam menghadapi MEA, kami ingin memanfaatkan sisa negara ASEAN yang kita belum masuk. Kita ingin jadi garda terdepan merk Indonesia yang global. Mulai dari Filipina dan Thailand sebagai target kita tahun  ini,” jelasnya.

Curi ilmu dari mentor

Di antara ratusan orang yang hadir di sini, tampak Daniel Mananta, salah satu host kondang sekaligus pemilik bisnis kaos bermerk “Damn I Love Indonesia”. Apakah ia seorang mentor? Rupanya dia justru seorang mentee.

“Saya tadi bertanya dengan mentor, bagaimana cara kita bisa scale-up. Jawaban yang valid  dari mentor, justru saya dapatkan saat ngopi bareng atau saat break, bukan ketika lagi duduk bareng,“ ujarnya singkat.

Ada juga pengusaha muda Agit Bambang Suswanto (26) yang bergerak di bidang fashion dan restoran yang ada di Bandung. Ia mengaku tertarik ikut acara ini karena melihat list mentor yang punya pengalaman di  banyak hal.

“Sesuai dengan perkembangan bisnis saya, saya butuh insight dan input yang bukan sekedar teori. Setelah saya ikut dua sesi, saya  banyak banget mendapatkan insight yang tadinya gak kepikiran jadi kepikiran,” ungkapnya.

Agit yang mulai berwirausaha sejak usia 19 tahun ini, menghadapi permasalahan dengan karyawan yang  berjumlah hampir 80 orang dan mayoritas anak muda. Mereka  mempunyai mimpi yang besar tapi semangatnya belum kencang. Kadang mereka berjalan tak konsisisten, keluhnya.

“Jadi tadi dapet banget solusinya, ada hal yang belum kita jalankan di company dan setelah ini akan kita terapkan. Salah satunya, harus menciptakan komunikasi yang sering, rutin mengadakan casual meeting yang lebih  bercerita tentang visi misi. Dan hal ini harus sampai ke semua staff, agar mereka tahu real-nya seperti apa,  pencapaiannya seperti apa. Selain itu, kita juga disarankan untuk membuat  struktur organisasi yang efisien. Dulu saya one man show, tapi sekarang saya harus punya orang yang bisa membantu tugas saya, yang juga punya leadership yang kuat. Saya puas dengan jawaban mentor,” pungkasnya.

Berbeda dengan Agit, ada juga mentee yang tak puas.

“Mereka itu nggak tahu apa bidang yang kita kerjakan karena mereka tak melihat langsung. Selain itu waktu yang diberikan juga terbatas. Saya bergerak di bidang makanan organik, tapi malah mendapatkan mentor di bidang retail dan  e-commerce dan market place,” ujar si mentee kecewa.

Regional

Mentor dan mentees yang hadir tak hanya datang dari berbagai daerah di Indonesia, tapi juga kawasan Asia Tenggara, seperti, Singapura, Malaysia, Turki, Filiphina, Hongkong dan lain-lain. Beberapa mentor pebisnis asal Indonesia yang turut memberikan ilmunya adalah Chairman PT Gunung Sewu Kencana, Husodo Angkosubroto, CEO Merah Putih, Inc, Antonny Liem, pendiri dan CEO Cybreed (eFishery) Gibran Huzaifah,  Director Developer Experience PT Microsoft Indonesia, Anthonius Henricus dan masih banyak lagi.

Ada 12 topik yang dibahas di ajang berbagi pengalaman terbaik antar pengusaha untuk meningkatkan skala bisnis ini. Misalnya keuangan, teknologi keuangan, makanan dan minuman, penjualan, penggalangan dana, sumber daya manusia, mengembangkan bisnis di Asia tenggara, sampai soal ritel. Acara ini juga diisi dengan talkshow dan pemberian penghargaan dari MURI kepada Endeavor untuk pencapaian “Konsultasi dengan Materi Terbanyak pada Satu Lokasi”.

Endeavour adalah gerakan kewirausahaan global dengan rekam jejak di lebih dari 25 negara dari Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika Utara, Afrika Selatan dan saat ini di Asia Tenggara. Sejak kemunculannya tahun 1997, Endeavor telah menjadi pelopor di bidang high-impact entrepreneurship dan menyeleksi 1.233 high-impact entrepreneurs dari 779 negara.


Editor: Vivi Zabkie  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Ramai Cukai Rokok Mau Naik, Apa Kata Pakar dan DPR?