Pascagempa Lombok, Wisata Sembalun Masih Sepi

Sembalun adalah salah satu objek wisata unggulan yang terletak di kaki Gunung Rinjani, NTB

BERITA , NUSANTARA

Jumat, 16 Nov 2018 18:49 WIB

Author

Zainudin Syafari

Pascagempa Lombok, Wisata Sembalun Masih Sepi

Ilustrasi: Salah satu pantai di Lombok,NTB. (Foto: Antara)

KBR, Mataram - Pascagempa yang melanda Lombok Juli lalu, aktivitas pariwisata belum sepenuhnya pulih. Seperti yang terlihat wisata Sembalun Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTT). Sepinya kunjungan wisatawan berdampak pada sepinya penjualan berbagai produk souvenir di kawasan wisata ini. 

Salah seorang pengelola toko suvenir di Sembalun, Rina Antika menuturkan, sebelum bencana gempa Lombok, wisatawan domestik maupun mancanegara cukup sering berbelanja oleh-oleh khas Sembalun. 

"Wisatawan belum ke Sembalun pascagempa ini. Biasanya konsumennya dari luar Sembalun seperti di Mataram, Pulau Jawa pokoknya se-Indonesia," kata Rina Antika, Jumat (16/11/2018).

Untuk mengatasi hal tersebut, ia dan beberapa pengerajin lainnya mencoba mempromosikan berbagai produk UMKM asal sembalu melalui sosial media dengan metode penjualan daring. 

"Hanya saja kendalanya kemasan kami masih sangat standar, jadi memang perlu ada perbaikan," katanya. 

Sembalun adalah salah satu objek wisata unggulan yang terletak di kaki Gunung Rinjani, NTB. Biasanya pengunjung menyempatkan singgah sebelum atau sesudah mendaki Gunung Rinjani. 

Sembalun pernah memperoleh predikat sebagai destinasi wisata bulan madu terbaik di ajang World Halal Tourism Award (WHTA) 2016 di Abu Dhabi. Kini daerah wisata unggulan Provinsi NTB tersebut sedang berbenah pascagempa

Baca juga:

 Editor: Friska Kalia

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Kerusuhan Lapas Diduga Dipicu Praktik Diskriminasi