Share This

Dua Kubu Bersaing Untuk Kembangkan Ekonomi Kreatif

"Angka ekspor dari Bekraf itu mencapai 13-14 persen dari total ekspor nasional dengan total nilai ekspor mencapai 990, 4 triliun pada tahun 2017."

NUSANTARA , BERITA

Selasa, 20 Nov 2018 15:57 WIB

Dua Kubu Bersaing Untuk Kembangkan Ekonomi Kreatif

Ilustrasi: Ekonomi kreatif (Foto:Antara)

KBR, Jakarta - Ekonomi Kreatif akan menjadi fokus dan sorotan kedua kubu yang akan bertarung dalam kontestasi Pemilu 2019.

Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Uki Dedek Prayudi, mengatakan salah satu hal yang akan didengungkan oleh Jokowi dan Ma’aruf Amin adalah melanjutkan kesuksesan pemerintahan saat ini dalam menciptakan industri kreatif.

"Kita akan terus genjot sektor industri kreatif. Selama ini kan sudah bisa dilihat bagaimana keberpihakan Pak Jokowi di sektor ini dengan mendirikan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Angka ekspor dari Bekraf itu mencapai 13-14 persen dari total ekspor nasional dengan total nilai ekspor mencapai 990, 4 triliun pada tahun 2017,” ujar Uki dalam program Ruang Publik KBR, Selasa (13/11/2018).

“Seiring program ekonomi Jokowi yang ingin menggeser roda ekonomi kita dari ekonomi konsumsi ke ekonomi produksi, industri kreatif ini jadi satu fokus utama pembangunan kami. Dan milenial menjadi garda terdepan dalam gerakan ini,” tambahnya.

Industri kreatif, juga menjadi fokus pasangan Prabowo-Sandi dalam memenangkan suara milenial. Namun, menurut Muhammad Edwin, Wasekjen  Partai Amanat Nasional, selama ini belum ada peraturan yang mengatur jalannya industri kreatif di Indonesia.

“Ketika kami terpilih, hal yang kami akan kejar untuk mendorong industri kreatif, membuat regulasi start up yang jelas, yang bukan hanya mengatur pelakunya, namun juga bisa melindungi bisnisnya. Ini yang kami lihat belum ada di pemerintahan sekarang,” ujar Edwin.

Gaet Milenial


Meski kaum milenial jadi rebutan kedua kubu yang akan bertarung dalam Pemilu 2019, namun, bukan perkara mudah menggaet suara dari kalangan milenial. Hal ini diutarakan oleh Uki. Alasannya, salah satu sifat milenial yang banyak ditemui adalah apolitis atau tak terlalu berminat pada politik.

“Permasalahan kita bersama di pemilihan tahun depan adalah bagaimana mendorong para milenial ini bangun pagi dan berangkat ke tempat pemungutan suara,” ujar Uki.

Untuk mengatasi karakter apolitis di kalangan milenial tersebut, Uki yang juga bagian dari Tim Kemenangan Nasional (TKN) Jokowi-Ma’aruf Amin menyatakan jika timnya akan menfokuskan kepada gaya komunikasi dan substansi untuk mendapatkan suara milenial.

Uki menyatakan, selama ini Presiden Jokowi telah melakukan gaya komunikasi yang sangat luwes. Ia mencontohkan penggunaan vlog. Ini sering digunakan Jokowi dalam beberapa tahun terakhir sebagai cara penyampaian kinerja pemerintah.

Menurut Uki, ini adalah bentuk gaya komunikasi yang mereka siapkan untuk merangkul para milenial.

Pendapat senada juga diberikan oleh Edwin. Ia mengatakan jika pasangan Prabowo-Sandi pun memberikan fokus yang serius terhadap milenial.

“Fokus kami adalah tidak hanya menjadikan milenial sebagai objek saja, tapi kita dorong juga para milenial ini bisa aktif diperpolitikan. Bahkan, baru-baru ini Pak Sandi sudah menjajikan kursi Menpora pada kalangan milenial,” kata Edwin lewat sambungan telepon kepada KBR.

Di tengah tensi politik yang terus naik akhir-akhir ini di Indonesia, keduanya sepakat agar setiap orang, khususnya kalangan milenial untuk bisa menahan diri dan bersikap elegan dalam merespon kondisi sekarang.

“Terlepas dari perdebatan politik, kami mau katakan jika Indonesia lebih berharga dari pemilu 2019. Kita harus sadar jika pemilu ini berakhir dengan perpecahan, maka kita anak-anak muda yang akan memainkan peran penting pada masa depan negeri ini yang akan sangant dirugikan,” harap Uki.

Pemilu 2019 bisa dikatakan menjadi sebagai pesta demokrasi yang istimewa bagi Indonesia. Pasalnya, untuk pertama kalinya pemilihan presiden dan pemilihan para anggota legislatif dilakukan secara serentak.

Bukan hanya itu, pemilu tahun depan jumlah pemilih milenial mencapai 40 persen dari jumlah di Daftar Pemilih Tetap (DPT). Hal itu menjadikan suara dari kelompok yang berusia 17-35 tahun ini akan sangat berpengaruh terhadap hasil pemilu. Basis suara yang besar tersebut pada akhirnya mendorong para tim sukses kedua pasangan capres dan cawapres menjadikan milenial sebagai lumbung suara yang harus mereka menangkan.
 
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.